google-site-verification: google6968eaab40b0eb36.html ano.sb: PENELITIAN KASUS BBLR

selamat datang

selamat datang
terimakasih atas kunjungan anda hari ini semoga dapat bermanfaat

Sabtu, 29 Agustus 2009

PENELITIAN KASUS BBLR

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang

Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dengan menggunakan indicator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). World Health Organization 9WHO) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan fenomena 2/3. fenomena itu terdiri dari, 2/3 kematian bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal). 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. (Komalasari, 2002)
Angka Kematian Bayi di Indonesia sebanyak 35 per 1000 kelahiran hidup yaitu hamper 5 kali lipat dibandingkan angka kematian bayi Malayasia, hamper 2 kali lipat dibandingkan dengan Thailand dan hampir 1,3 kalii lipat dibandingkan dengan Filipina. (Depkes RI, 2004). Adapun target cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2010 yaitu sebanyak 25 per 1000 kelahiran hidup. (Wardani, 2005).
Angka kematian bayi di Jawa Barat melebihi angka rata-rata kematian bayi nasional. Saat ini, angka rata-rata kematian bayi nasional sebanyak 36 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan Jawa Barat masih diatas rata-rata, dengan angka kematian bayi sebanyak 40 per 1000 kelahiran hidup. (Gsianturi, 2005).
Angka kematian bayi di Kabupaten Kuningan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari tahun 2000 Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak-banyaknya 169 per 1000 kelahiran hidup menjadi 76 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005. (Laporan Tahunan Dinkes Kabupaten Kuningan, 2005).
Pola penyakit penyebab kematian menujukan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal dini (kelompok umur o-7 hari) tertinggi adalah prematur dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudin asfiksia lahir (33,6%). Penyakit penyebab kematian neonatal lanjut (kelompok umur 8-28 hari) tertinggi adalah infeksi seberang 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), kemudian feeding problem (14,3%). (djaja, 2001).
Bayi berat lahir rendah (BBLR ) / Low Birtgweight Infant adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 Gram. Berat badan lahir rendah (bblr) dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 3 minggu) atau BBLR karena instrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. (Djaja, 2001).
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh faktor ibu dan faktor janin. Hal-hal yang mempengaruhi BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan (Toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis), karakteristik sosial ekonomi (pendidikan ibu yang rendah, pekerjaan ibu, status ekonomi rendah), biomedis ibu dan riwat persalinan diantaranya umur ibu (< 20 tahun dan > 35 tahun), paritas (primitara dan grandemultipara), keguguran/lahir mati mati dan pelayan antenatal (frekuen periksa hamil, tenaga periksa hamil, umur kandungan saat memeriksakan kehamilannya).
Adapun dari faktor janin BBLR disebabkan karena karena kehamilan ganda, hidramnion, kelainan kromosom, cacat bawaan, dan infeksi dalam kandungan. (prawiroharjo, 2002).
Menurut siti fadilah supari, jika bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5kg pada umur 40th (jika dapat mencapai usia itu ) akan menderita penyakit jantung, darah tinggi maupun diabetes. Dengan demikian setiap setiap tahun akan terdapat sekitar 400.000 calon-calon penderita pengakit degeneratif. (depkes, 2004).
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Walaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika dia tumbuh dewasa kelak. (Kumiasih, 2005).
Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan merupakan rumah sakit rujukan baik dari puskesmas maupun dari klinik swasta lain di daerah Kuningan. Pada tahun 2004 tercatat jumlah bayi yang lahir dengan berat badan rendah sebanyak-banyaknya 204 bayi dimana pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah BBLR yaitu sebanyak-banyaknya 282 bayi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui kejadian BBLR di RSUD Kuningan dengan menulis dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Gambaran Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan faktor ibu di RSUD Kuningan periode tahun 2005.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tingginya angka kejadian BBLR di RSUD periode tahun 2005.

Tujuan
Tujuan umum
Dapat mengetahui gambaran kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) BERDASARKAN FAKTOR IBU DI Ruang Perinatalogi RSUD Kuningan tahun 2005.

Tujuan khusus
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor umur ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pendidikan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pekerjaan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan jumlah paritas ibu

Manfaat Penelitian
bagi Penulis
sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh saat kuliah dan untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.

Bagi RSUD Kuningan
Diharapkan penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat memberikan informasi dan memberikan gambaran kepada RS mengenai kejadian BBLR.

Bagi Institusi Pendidikan
Dengan penelitian yang dilakukan diharapkan bermanfaat bagi pihak pendidikan sebagai bahan perbendaharaan bacaan di perpustakaan dan dapat dijadikan dasar pemikiran didalam penelitian lanjutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badanya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan menjadi:
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat lahir 1500 ? 2500 gram;
Bayi Berat Sangat Lahir Rendah (BBLSR), yaitu berat lahir < 1500 gram;
Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER), yaitu berat lahir < 1000 gram.
Sejak tahun 1961 Wordl Health Organization (WHO) telah mengganti istilah premature baby dengan low weight baby (Bayi dengan Berat Lahir Rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature. Keadaan ini dapat disebabkan oleh:
Masalah kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur);
Bayi Small for Gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan = KMK);
Kedua-duanya.

Pembagian BBLR
Bayi Prematur (SMK)
Makin rendah masa gestasi dan maklin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi mortalitas dan morbilitasnya. Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan cara-cara yang kompleks serta menggunakan alat-alat yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya dapat diobati. Dengan demikian gejala sisa yang mungkin diderita dikemudian hari dapat dicegah atau dikurangi.
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam-macam problematika pada derajat prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok, yaitu:
Bayi yang sangat premature (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum.
Bayi pada derajat premature yang sedang (Moderately premature): 31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga sangat ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
Borderline premature, masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat yang premarure dan mature, akan tetapi timbul problematic seperti yang dialami bayi premature, misalnya sindroma gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.

Problematik bayi premature
Alat tubuh bayi premature belum berfungsi seperti bayi matur. Oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi premature.
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan sebagai berikut:
a. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh yang relativ lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru-paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita premature adalah penyakit membrane hialin dan aspirasi pneumonia. Disamping itu sering timbul pernapasan periodic dan apneu yang disebabkan oleh pusat pernafasan di medula belum matur.
c. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi: distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorpsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari spingter kardio-eosepagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitas isi lambung ke eosephagus dan mudah terjadi aspirasi.
d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
e. Ginjal yang imature baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik.
f. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile), kekurangan faktor pembekuan protombin, faktor VII.
g. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gama globulin. Bayi premature relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.
h. Perdarahan intraventriculer: lebih dari 50% bayi premature menderita perdarahan intraventriculer. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnue, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah. Penambahan darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia dilapisan germinal yang terdapat didasar ventrikel lateralis antara nucleus caudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventriculer ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan.

Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Setiap bayi baru lahir (premature, matur, dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas, dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.
Ada 2 bentuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu:
Propotionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah gestasi yang sebenarnya.
Disproportionate IUGR; terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi setelah beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala noarmal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi.

Problematik bayi KMK
Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan uterus didalam uterus. Dengan kata lain alat-alat tubuhnya sudah bertumbuh dengan lebih baik bila dibandingkan dengan bayi premature dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi KMK yang tidak premature lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian, harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik, diantaranya:
1. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Ini disebabkan distrass yang sering dialami bayi ini dalam persalinan.
2. Hipoglikemia terjadi terutama apabila pemberian minum pada bayi terlambat. Hipoglkemia ini terjadi karena disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi.
3. Keadaan lain yang mungkin terjadi: asfiksia, perdarahan paru yang massif, hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindron down, tumer dll).

Etiologi BBLR
Faktor Ibu
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis. Selain itu penyakit lain seperti nefritis acut, infeksi akut dll.
Usia
Usia wanita mempengaruhi kehamilan. Saat pertama hamil merupakan perubahan status dari perubahan seorang perempuan menjadi seorang ibu. Beberapa ahli mengatakan bahwa kehamilan adalah kondisi krisis yang dialami oleh perempuan tidak hanya gangguan pada psikologis namun juga adanya perubahan sense dan identitas pada diri perempuan. Pada perempuan dewasa, perubahan ini sama sekali tidak berhenti namun menjadi masalah yang cukup besar jika terjadi pada remaja. Lee dan Corpuz (1988) menemukan 14,5% dari bayi yang lahir dari ibu usia dibawah 15 tahun dan 9,4% dari ibu usia antara 15-19 tahun mengalami BBLR (Trad, 2002).
Resiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Resiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban kehamilan (Soelaeman, 2006). Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi lainnya adalah terjadinya keracunan kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak ari-ari (plasenta previa) yang dapat menyebabkan perdarahan selama persalinan. (Soelaeman, 2006).
Sebagian besar wanita yang berusia diatas 35 tahun mengalami kehamilan yang sehat dan dapat melahirkan bayi yang sehat pula. Namun beberapa penelitian semakin matang usia ibu dihadapkan pada kemungkinan terjadinya beberapa resiko tertentu. Resiko kehamilan yang akan dihadapi pada usia tua hampir mirip dengan kehamilan diusia muda hanya saja karena faktor kematangan fisik yang dimiliki maka ada beberapa resiko yang akan berkurang, misalnya menurunnya resiko cacat janin yang disebabkan asam folat. Resiko kelainan letak janin juga berkurang karena rahim ibu diusia ini sudah matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik. Bahaya yang mengancam justru berkaitan dengan organ reproduksi diatas usia 35 tahun yang sudah menurun sehingga bisa mengakibatkan perdarahan pada proses persalinan dan preeklamsia. Preeklamsia terjadi pada sekitar 5% wanita hamil, ditandai dengan tingginya tekanan darah, dan banyaknya protein serta cairan dalam urine. Para calon ibu yang terserang dapat mengalami gangguan ginjal dan hati, sementara jabang bayinya akan mengalami pertumbuhan yang lambat. (Soelaeman, 2006).
Pada wanita hamil usia 35 tahun atau lebih, kemungkinan dapat melahirkan bayi dengan BBLR, yaitu berat lahir bayi kurang dari 2500 gram, atau lahir premature (bayi lahir kurang dari 37 minggu kehamilan) (Suara Merdeka, 2002). Pada penelitian di Canada tahun 2002 ditemukan resiko ini sebesar 40% untuk BBLR dan 20% lahir premature. Resiko ini sering muncul, meskipun wanita hamil tersebut tidak memiliki masalah kesehatan kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (Suara Merdeka, 2003).

Paritas
Paritas wanita (woman parity) adalah rata-rata anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita usia subur yang pernah kawin pada tahun tertentu. Pola paritas wanita mengikuti huruf U terbalik, pada wanita usia muda (15-19 tahun) paritasnya relatif kecil. Paritas wanita mencapai puncaknya pada usia 25-29 tahun, kemudian mulai menurun kembali pada kelompok usia diatasnya (NKLD, 2002).
Anak yang dilahirkan hidup oleh wanita usia 15-19 tahun, relatif sedikit dibandingkan kelompok usia diatasnya. Hal ini disebabkan karena secara umum lamanya waktu wanita tersebut berbeda dalam ikatan perkawinan juga lebih pendek dibandingkan kelompok yang lebih tua, sehingga masa reproduksi yang dijalaninya juga relatif pendek. Usia 25-29 tahun adalah usia yang sangat aman untuk melahirkan baik dari segi fisik maupun psikis. Semakin tua umur wanita, tingkat kesuburan wanita pun akan semakin berkurang sehingga hanya sedikit dari mereka yang melahirkan. (NKLD, 2002)
Dalam istilah kebidanan, ada beberapa klasifikasi ibu berdasarkan paritas yaitu:
Nulipara, yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan seorang anak yang mampu hidup
Primipara, yaitu ibu yang telah melahirkan seorang anak
Multipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lebih dari seorang anak (2-4 kali)
Grandemultipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lima orang anak atau lebih.
Menurut Cuningham (2002) bahwa faktor predisposisi BBLR yang utama berdasarkan paritas adalah seorang ibu primipara. Katagori rawan hanya berlaku pada kehamilan anak pertama. Sedangkan pada kehamilan kedua dan ketiga, resiko akan menurun dengan sendirinya. Namun, bahaya akan kembali beresiko adalah kehamilan pada usia sebelum 18 tahun dan kehamilan diatas usia 35 tahun.

Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran penting bagi suatu bangsa karena pendidikan memiliki andil yang besar terhdap kemajuan bangsa, baik secara ekonomi maupun sosial. Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena pendidikan merupakan salah satu sarana meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Menurut Simanjuntak (1985:60), investasi dengan meningkatkan pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh orang yang meningkatkan pendidikan tersebut (private rate to retum) melainkan juga dinikmati oleh masyarakat luas (social rate retum). (Kompas, 2002)
Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara untuk memelihara kehamilannya. Semakin tinggi pendidikan, secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosialnya. Sebaliknya pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahun tentang kehamilan dan sering menjadi penyebab kurang gizi pada bayi. Selama masa intrauteruin, asupan nutrisi yang adekuat pada ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Dengan asupan nutrisi yang adekuat dari hari ke hari kehamilan ibu bertambah besar dan sejalan dengan itu, janin tumbuh dan berkembang sampai pada usia kehamilan yang matang maka janin siap dilahirkan dengan berat badan, panjang badan, dan pertumbuhan organ fisik lainnya yang normal. Sebaliknya, apabila ibu tidak mendapat asupan gizi yang adekuat, bayi dapat lahir dengan berat rendah. Pengatahuan maupun faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor utama seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). (Endang, 2004)
Suvei demografi di 40 negara (Engendering Development, Bank Dunia, 2001) yang memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi. Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar. Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu menyelesaikan pendidikan menegah tingkat pertama (Kompas, 2005)

Pekerjaan
Wanita hamil sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Salah satunya yaitu harus bekerja, padahal wanita hamil dianjurkan untuk banyak istirahat. Hal tersebut menyebabkan wanita kurang menjaga kesehatan selama hamil dan kurang memperhatikan asupan gizi yang benar. Jika asupan gizi saat hamil buruk, maka janin pun akan kekurangan nutrisi dalam perkembangannya dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Sehingga ibu yang bekerja lebih berpotensi berat badan lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. (Endang, 2004)
Pekerjaan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh terhadap akses informasi yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja (Depkes RI, 2004). Dilihat dari segi sosial ekonomi bagi sebagian anggota masyarakat yang mengalami krisis ekonomi atau dengan upah dan pendapatan yang kurang untuk pemeriksaan kehamilan merupakan beban berat, akibatnya mereka memilih untuk tidak memeriksakan kehamilannya sehingga ibu hamil tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, asupan gizi pun tidak diperhatikan. Kehidupan manusia dimulai sejak masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mengalami kurang gizi dan lahir dengan berat badan rendah yang mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap outcome kehamilan telah terdokumentasi dengan baik (Stein dan Susser, 1975). Masa paceklik di Belanda ?The Dutch Fainine? yang berlangsung pada tahun 1944-1945, telah membawa dampak yang cukup serius terhadap outcome kehamilan. Fenomena the Dutch Famine menunjukan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan 3) jatuh pada saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, dan berat plasenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi esensial lainnya. (Gsianturi, 2005)

Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berperan terhadap timbulnya kejadian BBLR. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah, hal ini disebabkan karena keadaan gizi ibu yang kurang baik menyebabkan asupan nutrisi yang disalurkan ke janin akan berkurang, senhingga pertumbuhan janin terhambat dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Selain itu pengawasan antenatal yang kurang sering terjadi pada golongan ekonomi rendah sehingga menyebabkan kurangnya pemantauan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. (endang, 2004).
Sebab lain
Faktor nutrisi, perokok, peminum alkohol, obat-obatan.
Faktor lanin
Kehamilan ganda
Hydramnion
kelainan kromosom
cacat bawaan
infeksi dalam kandungan (teksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes, sifilis ; TORCH )
diagnosis dan gejala klinik
sebelum lahir pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus, prematurus, dan lahir mati.
Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat. Gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum, dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum / perdarahan antepartum.
Setelah bayi lahir
Bayi premature (SMK)
Tampak luar dan tingkah bayi premature tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi premature ialah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500gram, panjang badan atau kurang sama dengan 45cm, lingkaran dada kurang dari 30cm, linkaran kepala kurang tau sama dengan 33cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. (prawiroharjo, 1999)
Kepala relative lebih besar dari dadanya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan banyak, sering tampak peristaltic usus. Tagnisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan sering timbul apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan dari 20 detik maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanent lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha dalam abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi. (prawiroharjo, 1999).
Refleks tonik-leher lemah dan refleks moro positif. G otot jarang akan tetapi lebih baik dari bayi cukup bulan. Daya isap lemah terutama pada hari-hari pertama. Bayi yang lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakan tangannya. Bila tanda-tanda lapar tersebut timbul dalam 96 jam, maka harus curiga akan adanya perdarahan intraventrikuler atau infeksi. Edema biasanya suka terlihat segera sesudah lahir dan makin bertambah jelas 24-28 jam berikutnya. Kulit mengkilat, licin, piting edema, dan ini dapat berpindah dengan antepartum, toksemia gravidarum dan diabetes mellitus. Frekwensi pernapasan 40-50 per menit. Pada hari-hari berikutnya 35-45 per menit. Bila frekwensi pernapasan terus meningkat dan selalu diatas 60 per menit, harus waspada terhadap sindroma gangguan pernapasan seperti membrane hialin, pneumonia, gangguan metabolic atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini harus dicari penyebabnya yaitu dengan membuat foto paru-paru-paru, pemeriksaan ultrasonografi dll. (Prawirohardjo, 1999)

Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, vemiks kaseosa sedikit/tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung atau rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan. (Prawirohardjo, 1999)

Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan penyesuaian hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pengaturan suhu
Bayi premature mudah dan cepat sekali terkena hipotermi bila berada dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kurang lemak coklat (brown fat). Untuk mencegah hipotermia, perlu diusahakan lingkungan yang hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat di incubator, maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 34, agar ia dapat mempertahankan suhunya sekitar 37. kelembaban incubator berkisar antara 50-60 persen. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakan botol-botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu di dekat tempat tidur bayi. Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan, kejang, dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan dapat dilakukan secepatnya. (Prawirohardjo, 1999)

Makanan Bayi
Pada bayi premature refleks isap, batuk dan telan belum sempurna, kapasitas lambung masih kurang. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung. Hal ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Makanan pada bayi diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. (Prawirohardjo, 1999)

Perawatan BBLR
Di Rumah Sakit
Cara penanganan bayi BBLR di rumah sakit tergantung kondisi masing-masing. Setelah dilahirkan bayi dengan BBLR akan segera diperiksa fungsi organ-organ tubuhnya terutama paru-paru-paru-paru dan jantung. Sebelum mencapai berat yang cukup, bayi BBLR memerlukan perawatan intensif dalam inkubator. Salah satu penyebabnya, bayi bertubuh kecil sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Oleh sebab itu, ia perlu masuk kotak kaca yang bisa diatur kestabilan suhunya. Kulit bayi-bayi kecil masih tipis sehingga dari tubuhnya mudah terjadi penguapan panas. Kalau penguapan panasnya berlebihan, bayi akan mengalami hipotermi atau temperatur badannya turun sangat rendah sehingga ia sangat mudah kehabisan tenaga. Pemberian alat bantu pernapasan juga dilakukan bila terdapat indikasi. Untuk indikasi ringan, bayi hanya akan diberi oksigen. Sebaliknya jika berat dapat sampai diberi ventilator atau alat bantu pernapasan. Infus juga akan diberikan untuk masukan cairan dan obat-obatan bila diperlulan. Bayi-bayi kecil biasanya belum mampu menghisap dengan baik karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Asi merupakan makanan utama dan terbaik untuk BBLR. Tidak ada patokan pasti untuk lama perawatan bayi BBLR di rumah sakit. Bayi dengan berat 1000 gram, misalnya memerlukan perawatan seksama dan bertahap sehingga bisa satu bulan lebih harus berada dalam inkubator. Lama perawatan lebih ditentukan oleh kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan, seperti tidak ada lagi gangguan pernapasan, suhu tubuh telah stabil dan bayi sudah punya repleks hisap dan menelan yang baik. Sebelum pulang, bayi sudah harus mampu minum sendiri dengan botol maupun dengan puting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badannya telah berkisar 10-30 gram/hari dan suhu tubuh tetap normal di ruangan biasa. Bayi juga tidak membutuhkan oksigen serta obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah atau infus. (Handayani, 2005)

Bayi harus dirawat bila:
Gangguan pernapasan. Salah satu sebabnya bayi menelan air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru-paru-paru dan mengganggu pernapasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR saja tapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya gangguan pernapasannya berkaitan dengan organ paru-paru-paru-paru yang belum matang.
Kasus-kasus berat seperti perdarahan otak, kelainan jantung, hipoglikemia (kadar gula rendah) dan lainnya.
Infeksi. Bayi bisa terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui placenta.
Kejang saat dilahirkan. Biasanya bayi akan dipantau dalam 1 x 24 jam untuk dicari penyebabnya. Misal apa karena ada infeksi sebelum lahir (prenatal), atau karena perdarahan intrakranial, atau karena vitamin B6 yang dikonsumsi ibu.
Apneu periodik (henti napas), kerap terjadi pada bayi BBLR karena prematuritas. Organ paru-paru-paru-paru dan susunan saraf pusat yang belum sempurna mengakibatkan kadang-kadang bayi berhenti nafas. Hal ini tentu memerlukan pemantauan dengan seksama.
Ikterus atau kuning. Jika terjadi di hari pertama dapat dipastikan ada kelainan pada bayi, seperti ketidak sesuaian golongan darah ibu dan bayi. Bila kuning terjadi setelah 5-7 hari sesudah bayi dilahirkan biasanya karena fungsi hati yang belum matang sehingga bayi belum bisa mengeluarkan bilirubin. Inilah yang disebut dengan kuning fisiologis.
Muntah, biasanya ada suatu kelainan di pencernaan bayi yang mungkin juga memerlukan tindakan bedah
Distensia abdomen, kelainan yang berkaitan dengan usus bayi. (Handayani, 2005)

Di rumah
Yang paling penting, orang tua terutama ibu secara fisik dan psikologis mesti mampu dan siap merawat bayinya di rumah. Kuasai cara memberi ASI dengan benar, cara memandikan, merawat tali pusat, mengganti popok, memberi ASI dan PASI, juga menjaga dan lingkungan yang optimal untuk tumbuh kembang bayi. Ibu harus percaya diri dan berani merawat bayinya sendiri, karena dari situlah akan terjadi kontak untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi. (Hanayani, 2005)
Ibu dapat merawat bayinya yang lahir 2000-2500 gram di rumah, dengan catatan:
Lahir spontan, aktif, menangis kuat, tidak ada kelainan bawaan, masa gestasi > 35 minggu, ditolong Bidan atau dukun terlatih.
Ibu akan merawat sendiri bayinya di rumah dan diawasi oleh bidan senior
ASI akan lebih terjamin penggunaannya hingga tumbuh kembang akan semakin cepat
Infeksi silang akan dapat dikurangi, tapi perlu diperhatikan:
Rumah dan lingkungan harus cukup bersih, ruang ibu dan bayi tidak bercampur dengan anggota lain, ventilasi cukup, tempat mandi bayi harus memadai
Ibu harus dapat menyusui, menganti popok, menidurkan bayi dan memberi kehangatan pada bayinya
Apabila bayi dalam keadaan gawat, ibu harus dapat mengetahui dan segera membawa bayi ke pelayanan kesehatan. (Handayani, 2005)
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua saat merawat bayi BBLR di rumah:

Perhatikan susu
Bayi kecil sangat rentan terhadap perubahan suhu. Jadi sebaiknya ruangan dijaga agar tetap hangat. Jangan lupa beri bayi selimut. Tapi selimut disini bukan berarti bedong yang diikat sedemikian rupa sehingga membuat bayi tidak bisa bergerak. Cara membedong seperti itu tidak disarankan karena malah akan menganggu motorik bayi.
Beri minum dengan porsi kecil tapi sering
Tujuannya agar ia dapat memperoleh asupan yang cukup dan aman. Penyerapan lambung bayi-bayi kecil ada yang teloransinya sudah sudah baik ada juga yang masih lambat. Inilah gunanya memberi porsi kecil tapi sering. Biasanya, setiap 1-2 jam sekali bayi perlu diberi susu.
Pemberian imunisasi
Pemberian imunisasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal imunisasi pada bayi yang lahir cukup bulan kecuali jika bayi masih dalam perawatan imunisasi diberikan setelah bayi pulang.
Lakukan banyak sentuhan
Salah satu yang bisa diterapkan adalah metode kanguru. Dengan cara ini, bayi sebisa dan sesering mungkin dibuat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Manfaatnya banyak sekali. Yang paling utama secara psikologis menjalin kasih sayang antara bayi dan orang tua.
Kegunaan lain: bisa mengurangi depresi dan ketegangan, sehingga bayi merasa aman dan terlindungi, membuat bayi dapat tidur dengan lelap, mengurangi rasa sakit, meningkatkan volume air susu ibu dan meningkatkan berat badan bayi. Jadi kalau bisa bayi dibawa kemana-mana seperti anak kanguru yang selalu menempel pada induknya.
Beri Vitamin
Biasanya vitamin diberikan untuk membantu pertumbuhan yang optimal pada bayi. (Handayani, 2005)

Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi berat lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal, seperti asfiksia, aspirasi pneunemonia, perdarahan intracranial, dan hipoglokemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ rendah, dan gangguan lainnya. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Kalaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika ia tumbuh dewasa kelak. Bayi yang lahir dengan BBLR memiliki risiko untuk mengalami hambatan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupannya. Lebih daripada itu, akibat status gizi yang rendah, bayi ini juga akan mudah mengalami penyakit infeksi dibanding bayi seumurnya yang lahir dengan berat badan normal. Apabila bayi mengalami penyakit infaksi seperti diare, maka kemungkinan penurunan berat badan dapat dengan mudah terjadi. Dapat diduga kemudian, bayi ini akan mempunyai berat badan yang sangat rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan yang berat. (Prawirohardjo, 1999)

BAB III
METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriktif kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan secara murni untuk mengadakan deskripsi tanpa melakukan analisis yang lebih mendalam dengan tujuan untuk menggambarkan variabel-variabel utama subjek studi (Notoatmodjo, 2005)
Penelitian ini dirancang dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek di observasi sekaligus pada waktu yang sama. (Notoatmodjo, 2005)

Kerangka Konsep
Angka BBLR masih cukup tinggi. Beberapa variabel mempengaruhi terjadinya BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan jumlah paritas. (Prawirohardjo, 2002)
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini ada pada bagian dibawah ini.












keterangan :

= variabel yang diteliti


= variabel yang tidak diteliti


Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian

Variabel penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Umur
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Paritas

Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala
1. BBLR Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir < 2500 gr (s.d. 2499 gr) Dokumentasi
(rekam medik) 1: ya
2: tidak Ordinal
2. Umur Lamanya seseorang hidup mulai dari lahir sampai pada saat dilakukan penelitian Dokumentasi
(rekam medik) 1: resiko tinggi (<20 thn dan >35 thn)
2: resiko rendah (20-35 thn) Ordinal
3. Pendidikan Proses pembelajaran yang didapat secara formal Dokumentasi
(rekam medik) 1: rendah (tamat SD)
2: sedang (tamat SMP dan SMA)
3: TINGGI (PT) Ordinal
4. Pekerjaan Semua upaya yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan upah dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan gizi. Dengan UMR thn 2005:
1. upah rendah = < 1 juta
2. upah tinggi = > 1 juta Dokumentasi
(rekam medik) 1: Bekerja
2: tidak bekerja Nominal
5. Paritas Jumlah persalinan yang telah dialami ibu bersalin Dokumentasi
(rekam medik) 1: 1 kali (primipara)
2: 2-4 kali (multipara
3: > 5 kali (grademultipara) Ordinal


Populasi dan sample
Polpulasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Notoatmodjo, 2005)
Populasi didalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di RSUD Kuningan tahu 2005 yaitu sebanyak-banyaknya 282 orang.

Sample
Arikunto (1998 : 117) mengatakan bahwa ?sample adalah bagian dari populasi sebagaian atau wakil dari populasi yang diteliti).
Sample dalam penelitian ini didapat dengan rumus:


N
n =
1 + N (d2)

= 282
1 + 282 (0,052)


= 282 = 165,39 (dibulatkan 165)
1 + 0,705
keterangan :

N = besar populasi
n = besar sample
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
(Notoatmodjo, 2005)
dari hasil perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 165 orang. Adapun pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling.

Pengumpulan dan pengolahan data
Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data sekunder. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menganalisa status ibu di Ruang Rekam Medik RSUD Kuningsn periode tahun 2005.

Pengolahan data
Dalam penelitian ini data telah terkumpul kemudian diolah melalui tahapan:
a. Editing, yaitu memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Hal ini bermaksud untuk merapihkan data agar bersih, rapih, dan tinggal mengadakan pengolahan lebih lanjut.
b. Koding, yaitu merubah data yang dikumpulkan kedalam bentuk yang lebih ringkas. Mengkode untuk masing-masing variabel terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya.
c. Scoring, yaitu menjumlahkan data
d. Processing, yaitu memindahkan data kedalam master tabel
e. Cleaning, yaitu pengecekan kembali data yang sudah dimasukan. Dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti dan menilai kelogisannya. (Notoatmodjo, 2005)

Analisa data
Dalam analisa data, penulis menggunakan analisa univariat yaitu dengan menggunakan analisis prosentasi untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi.

Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan perinatalogi dan rekam medik RSUD yang dilakukan pada bulan April 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

download software

Entri Populer