google-site-verification: google6968eaab40b0eb36.html ano.sb

selamat datang

selamat datang
terimakasih atas kunjungan anda hari ini semoga dapat bermanfaat

Selasa, 06 Oktober 2009

ANATOMI SISTEM MUSKULOSKELETAL DAN SISTEM INTEGUMEN

ANATOMI
SISTEM MUSKULOSKELETAL
& SISTEM INTEGUMEN
CASMADI
AKADEMI KEPERAWATAN SAIFUDDIN ZUHRI INDRAMAYU
ANATOMI
 Anatomi = ilmu urai
 Ilmu yg mempelajari suatu bangun atau suatu bentuk dengan mengurai-uraikannya ke dalam bagian-bagiannya
 Anatomi makroskopik  hanya menggunakan mata
 Anatomi mikroskopik  juga menggunakan mikroskop  histologi (histos = jaringan; logos = ilmu)
SIKAP ANATOMI
 Secara deskriptif: tubuh manusia sll dipandang dlm sikap anatomi
 Sikap anatomi
“mata memandang lurus ke depan, sejajar bidang Jerman (bidang yg melalui pinggir bawah lekuk mata dan pinggir atas liang pendengaran luar), mendatar, kedua lengan tergantung di samping badan dengan tapak tangan menghadap ke depan, badan tegak dan kedua kaki berdampingan dengan jari-jari kaki mengarah ke depan.”
Istilah-istilah dalam Anatomi
Bidang
 Median: bidang yg membagi badan dlm 2 belahan, kiri dan kanan
 Sagital: bidang yg sejajar dgn bidang median
 Paramedian: bidang sagital yang dekat pada bidang median
 Frontal: bidang yg tegak lurus pd bidang median dan sejajar dg sumbu panjang badan
 Transversal: bidang melintang yang tegak lurus pada sumbu panjang badan
Istilah-istilah dalam Anatomi
Arah
 Transversal: arah kiri-kanan
 Sagital: arah muka-belakang
 Longitudinal: arah sumbu panjang
Istilah-istilah dalam Anatomi
Letak
 Anterior: letak lebih dekat ke bagian depan badan
 Posterior: letak lebih dekat ke bagian belakang badan
 Superior: letak lebih dekat ke atas (kepala)
 Inferior: letak lebih dekat ke bawah (kaki)
 Medial: letak lebih dekat ke bidang median
 Lateral: letak lebih jauh dari bidang medial
 Kranial: letak lebih dekat ke kepala
 Kaudal: letak lebih dekat ke ekor
Istilah-istilah dalam Anatomi
 Ventral: letak lebih dekat ke perut
 Dorsal: letak lebih dekat ke punggung
 Rostral: lebih dekat ke pertengahan (regio oris & regio nasi); lebih dekat ke ujung depan
 Radial: lebih dekat ke os radius; Ulnar: lebih dekat ke os ulna
 Tibial: lebih dekat ke os tibia; Fibular: lebih dekat ke os fibula
 Distal: lebih jauh dari batang badan; proksimal: lebih dekat dr batang badan
JARINGAN
 PENGERTIAN
 JARINGAN ADALAH; SEKUMPULAN SEL YANG SERUPA BENTUK , BESAR DAN FUNGSINYA SERTA TERIKAT MENJADI SATU.

 MACAM-MACAM JARINGAN
– JARINGAN EPITEL
– JARINGAN OTOT
– JARINGAN SARAF
– JARINGAN IKAT/ KONEKTIF

JARINGAN EPITEL
 JARINGAN PENUTUP YANG MENUTUPI PERMUKAAN TUBUH BAGIAN LUAR DAN DALAM YANG BERHUBUNGAN DENGAN UDARA.
 DI DALAM JARINGAN INI TERDAPAT PEMBULUH DARAH
 TERDAPAT DI PERMUKAAN KULIT, SELAPUT LENDIR, JALAN NAFAS DAN PENCERNAAN/ VISERAL.
 BENTUK JARINGAN INI TERDIRI DARI ;
 BERBENTUK GEPENG/EPITEL SKUAMOSA
 BERBENTUK KUBUS/ EPITEL KUBOIDEA
 BERBENTUK SILINDER/ EPITEL KOLUMNAR
 PADA BEBERAPA TEMPAT MEMBENTUK ALAT YANG DISEBUT KELENJAR MENGHASILKAN GETAH UNTUK SEKRESI/ PAKAI DAN EKSKRESI/ BUANG.
FUNGSI JARINGAN EPITEL
• PROTEKSI, melindungi jaringan di bawahnya
• ABSORPSI, menyerap zat-zat, mis. pd usus.
• SEKRESI, mengeluarkan & menghasilkan zat-zat yg berguna bagi tubuh, mis. kelenjar
• SENSASI, rangsang sensorik menembus sel epitel yg memiliki reseptor/ujung-ujung saraf sensorik
• EKSKRESI, mengeluarkan zat-zat yg sudah tdk berguna, mis. Epitel pd ginjal & kelenjar keringat
• FILTRASI, menyaring zat-zat, mis. Dinding kapiler darah & kapsula bowman pd ginjal
• DIFUSI, memperantarai difusi gas, cairan, & zat gizi
• PEMBERSIH, epitel bersilia membantu membersihkan partikel & benda asing yg masuk ke saluran
Kelenjar
 Kumpulan sel yg berfungsi sebagai organ sekretori atau ekskretori berupa hormon, enzim, metabolit, & molekul lain
 Macam-macam kelenjar:
1. Kelenjar eksokrin; memiliki saluran &
mengalirkan produknya ke permukaan tubuh
2. Kelenjar endokrin: tdk memiliki saluran ke
permukaan tubuh; produk yg dihasilkan
menembus membran sel ke interstisial &
berdifusi ke kapiler
Kelenjar Eksokrin
 Merocrine
Produk yg disekresi dikeluarkan dg cara eksositosis vesikel ke permukaan apeks kelenjar. Sbgn besar kelenjar merupakan kel.merokrin.
 Apokrin
Bagian apeks dari sel terlepas & hilang selama proses sekresi. Produk sekresi mengandung komponen sel spt membran sel. Cth: kelenjar payudara
 Holokrin
Sel sekretori dilepaskan sbg & mrpkn bgn dari produk. Cth: kelenjar keringat di aksila, area pubis, & areola payudara; kelenjar sebasea
Kelenjar Endokrin
 Kelenjar yg menghasilkan hormon
 Beberapa kelenjar endokrin:
1) Kelenjar hipofisis
2) Kelenjar tiroid
3) Kelenjar adrenal
4) Pankreas
5) Ovarium
6) Testis


JARINGAN IKAT
 Fungsi utama: menyokong tubuh & mengikat atau menghubungkan bbrp macam jaringan yg berbeda.
 Fungsi lain:
- membentuk kerangka kerja mekanik untuk bergerak, mis.sistem rangka
 Merupakan substansi intrasel terbesar (disebut substansi dasar atau matriks)
 Matriks dapat berbentuk padat (mis.pd tulang), lunak (sbg jar.ikat longgar), atau cairan (mis.darah)
JARINGAN IKAT
Macam-macam jaringan ikat:
 Jaringan ikat longgar
- serat kolagen
- serat elastin
- serat retikular
 Jaringan ikat fibrosa: sbgn bsr tersusun atas serat kolagen yg rapat
- ligamen & tendon
 Jaringan ikat khusus
- jaringan adiposa  lemak
- tulang rawan/ kartilago  serat kolagen dl
substansi gel
- tulang  serat kolagen & mineral (kalsium fosfat)
- darah
SISTEM MUSKULOSKELETAL
(OTOT-RANGKA)
Otot (muscle)
jaringan tubuh yg berfungsi mengubah energi kimia menjadi kerja mekanik sebagai respons tubuh terhadap perubahan lingkungan
Rangka (skeletal)
bagian tubuh yg tdd tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sbg tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi
Sistem Rangka dan Sendi
 Alat gerak tubuh manusia  sistem muskuloskeletal: pasif rangka (skeletal); aktif  otot (muscle)
 Rangka-tulang: jaringan ikat yg keras & kaku (jaringan penyokong); banyak mengandung mineral, zat perekat dan zat kapur.
 Tulang rawan, tulang, dan sendi
Fungsi Sistem Rangka
 Penyangga: berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamen-ligamen, otot, jaringan lunak & organ
 Penyimpanan mineral (kalsium & fosfat) dan lipid (yellow marrow)
 Produksi sel darah (red marrow)
 Pelindung; membentuk rongga melindungi organ yang halus & lunak
 Penggerak; dpt mengubah arah & kekuatan otot rangka saat bergerak; adanya persendian
Tulang rawan
 Berkembang dari mesenkim membentuk sel yg disebut kondrosit
 Kondrosit menempati rongga kecil (lakuna) di dalam matriks dgn substansi dasar seperti gel (berupa proteoglikans) yg basofilik.
 Kalsifikasi menyebabkan tulang rawan tumbuh menjadi tulang (keras).
Tulang rawan
Berdasarkan jenis & jumlah serat di dalam matriks, ada 3 macam tulang rawan:
 Tl rawan hialin: matriks mengandung seran kolagen; jenis yg paling banyak dijumpai
 Tl rawan elastin: serupa dg tl rawan hialin ttp lebih bny serat elastin yg mengumpul pd dinding lakuna yg mengelilingi kondrosit
 Fibrokartilago: tdk pernah berdiri sendiri ttp scr berangsur menyatu dg tl rawan hialin atai jar.ikat fibrosa yg berdekatan
Pertumbuhan Tulang Rawan
Ada 2 cara:
 Appositional growth; tumbuh dari luar  sel pembentuk kartilago di dlm perikondrium menyekresi matriks baru ke permukaan luar kartilago yg sdh ada
 Interstisial growth; tumbuh dari dalam  kondrosit yg berikatan dg lakuna di dlm kartilago membelah & menyekresi matriks baru & memperluas kartilago dari dalam
Pertumbuhan tulang rawan berakhir selama periode dewasa
Tulang
 Pembentuk jaringan:
- sel-sel tulang (sel
osteoprogenitor, osteoblast,
osteosit, dan osteoklas)
- matriks
 Matriksnya mengandung unsur anorganik, terutama kalsium fosfat (hidroksiapatit)
 Scr makroskopik:
- spongiosa (kanselosa)
- kompak (padat)
 Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum); lapis tipis jaringan ikat (endosteum) melapisi rongga sumsum & meluas ke dlm kanalikuli tulang kompak
Struktur Mikroskopis Tulang
 Sistem havers
 Lamella
 Lacuna
 Kanalikuli
Struktur Mikroskopis Tulang
 Sistem Havers: saluran Havers (saraf, pembuluh darah, aliran limfe)
 Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris).
 Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan–lempengan yang mengandung sel tulang).
 Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai ke osteon).
Periosteum
 Membran vaskuler fibrosa yang melapisi tulang, banyak pembuluh darah dan melekat erat pada tulang.

 Pada tulang yang
sedang tumbuh
terdapat lapisan
sel pembentuk
tulang diantara
periosteum dan tulang.
Tulang
 Membran periosteum berasal dari perikondrium tulang rawan yang merupakan pusat osifikasi.
 Pada tulang yang sedang tumbuh terdiri atas 1 batang (diafisis) dan 2 ujung (epifisis)
Tulang menurut bentuknya
 Ossa longa (tulang panjang): tulang yg ukuran panjangnya terbesar, cth: os humerus
 Ossa brevia (tulang pendek): tulang yg ketiga ukurannya kira-kira sama besar, cth: ossa carpi
 Ossa plana (tulang gepeng/pipih): tulang yg ukuran lebarnya terbesar, cth: os parietale
 Ossa irregular (tulang tak beraturan), cth: os sphenoidale
 Ossa pneumatica (tulang berongga udara), cth: os maxilla
Sistem skeletal/ rangka

 Skull
 Sternum
 Ribs
 Vertebrae
 Sacrum


 Skull
- Os Occipitale
- Os Parietale
- Os Temporale
- Os Frontale
- Os Sphenoid
- Os Ethmoid
- Os Maxilla
- Os Palatine
- Os Nasal
- Vomer
- Concha nasal inferior
- Os Zygomatic
- Os Lacrimal
- Mandibula
- Ossicles auditori & Os Hyoid

Upper limb
 Os Scapula
 Os Clavicula
 Os Humerus
 Os Radius
 Os Ulna
 Os Carpals
 Ossa Metacarpals
 Ossa Phalanges

Sendi
 Persambungan/ artikulasio : pertemuan antara dua atau lebih dari tulang rangka.
 Artrologi: ilmu yang mempelajari persendian.
3 Jenis Sendi Berdasarkan strukturnya
 Fibrosa: hubungan antar sendi oleh jaringan fibrosa
 Kartilago/tulang rawan: ruang antar sendinya berikatan dengan tulang rawan.
 Sinovial/sinovial joint: ada ruang sendi dan ligament untuk mempertahankan persendian.
Sendi berdasarkan jenis persambungannya
Sinartrosis
Sendi yang terdapat kesinambungan krn di antara kedua ujung tulang yang bersendi tdp suatu jaringan
Diartrosis
Sendi terdapat ketidak-sinambungan karena di antara tulang yg bersendi terdapat rongga (cavum articulare)
Sinartrosis
 Syndesmosis: jaringan penghubungnya mrp jaringan ikat
a. Sutura: tepi-tepi tulang dihubungkan oleh
jaringan ikat yg tipis. Cth: di antara tulang-
tulang tengkorak
b. Schindylesis: lempeng pd tulang yg satu
terjepit di dlm celah pada tulang lain. Cth
antara rostrum sphenoid & vomer
c. Ghomphosis: tulang yg 1 berbentuk kerucut
masuk ke dalam lekuk yg sesuai dgn bentuk
itu pd tlng lain.Cth: antara gigi dg rahang
d. Syndesmosis elastica: jar ikat penghubungnya
mrp jar ikat elastin. Cth: di antara arc.
Vertebra oleh lig.flavum
e. Syndesmosis fibrosa: jar ikat penghubungnya
mrp serat kolagen. Cth: antara ulna & radius
oleh membran interossa antebrachii
Sinartrosis
 Synchondrosis: jaringan penghubungnya jaringan tulang rawan. Cth:antara epifisis & diafisis sebelum penulangan selesai, antara kedua ossa pubica
 Synostosis: jaringan penghubungnya jaringan tulang. Cth: antara epifisis & diafisis setelah penulangan selesai, antara os ilium, os pubis, dan os ischium
Diartrosis
Pada diartrosis tdp bgn2 sbb:
 Ujung-ujung tulang yg bersendi:
kepala sendi (caput articulare)
& lekuk sendi (cavitas glenoidalis)
 Simpai sendi (capsula articularis): stratum fibrosum (bgn luar) & stratum synoviale (bgn dlm)
 Rongga sendi (cavum articulare) berisi cairan synovial
 Alat-alat khusus:
- tendon: membatasi gerak sendi & sbg penyokong
mekanik
- kartilago & bantalan lemak (fat pads): discus &
meniscus articulares sbg alat menerima tumbukan,
penyangga, & untuk mengurangi diskongruen
- kandung sega (bursae mucosae) untuk memudahkan
gerakan sendi
- ligament (accessories, extracapsular, & intracapsular
ligaments)

Diartrosis bdskn kemungkinan gerak
 Sendi kejur (amphiartrosis): kemampuan gerak sangat sedikit
-Symphysis; dihubungkan oleh fibrokartilago. Cth: intervertebral
disc, pubic symphysis

 Articulationes: kemampuan gerak luas
a. Sendi sumbu 1
(1) sendi engsel/ hinge joint (ginglymus): sumbu gerak tegak lurus pd
arah panjang tulang. Cth: art.interphalangeae, humero-
ulnaris
(2) sendi kisar/ pivot joint (art trochoidea): sumbu gerak kira-kira
sesuai dgn arah panjang tulang. Cth: art.radioulnaris,atlantodentalis

b. Sendi sumbu 2: kedua sumbu gerak berpotongan tegak lurus
(1) Sendi telur/ ellipsoidal joint (art. Ellipsoidea): kepala sendi cekung
berbentuk ellipsoid dg sumbu panjang & sumbu pendek.
Cth: art.radiocarpae
(2) Sendi pelana/saddle joint (art.sellaris): permukaan sendi berbentuk
pelana; arah sumbu yg 1 permukaannya cembung &
arah sumbu yg lain cembung. Cth: art.carpo-metacarpea
Diartrosis bdskn kemungkinan gerak
c. Sendi sumbu 3 (arthroida): kemampuan gerak paling luas; kepala sendi berbentuk bola
(1) Sendi peluru/ ball & socket joint (art.
Globoidea): lekuk sendi mencakup kurang
dari setengah kepala sendi. Cth: art.humeri
(2) Sendi buahpala (enarthrosis
spheroidea): lekuk sendi mencakup
lebih dari setengah kepala sendi. Cth:
art coxae

Penstabil sendi
 Jaringan kolagen kapsula sendi & ligamen.
 Bentuk permukaan sendi  menentukan gerakan spesifik sendi
 Adanya tulang lain, otot rangka, & bantalan lemak pd sendi
 Tegangan pd tendon yg menempel pd tulang yang bersendi

Gerakan Sendi
 Gerakan lurus (linear motion) - gliding
 Gerakan sudut (angular motion)
* fleksi-ekstensi-hiperekstensi
* abduksi-adduksi
* sirkumduksi
 Gerakan putar (rotation)
* rotasi kanan-kiri
* rotasi medial-lateral
* pronasi-supinasi
 Gerakan khusus
* inversi-eversi
* dorsofleksi-plantar fleksi
* opposisi
* protraksi-retraksi
* elevasi-depresi
* fleksi lateral
Otot
 Otot membentuk 43% berat badan; > 1/3-nya mrpkn protein tubuh & ½-nya tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat
 Proses vital di dlm tubuh (spt. Kontraksi jantung, kontriksi pembuluh darah, bernapas, peristaltik usus) terjadi krn adanya aktivitas otot

Fungsi Sistem Otot Rangka
 Menghasilkan gerakan rangka.
 Mempertahankan sikap & posisi tubuh.
 Menyokong jaringan lunak.
 Menunjukkan pintu masuk & keluar saluran dlm sistem tubuh.
 Mempertahankan suhu tubuh; kontraksi otot:energi  panas
3 Tipe jaringan otot
 Otot polos
memiliki 1 inti yg berada di tengah, dipersarafi oleh saraf otonom (involunter), serat otot polos (tidak berserat), terdapat di organ dalam tubuh (viseral), sumber Ca2+ dari CES, sumber energi terutama dr metabolisme aerobik, awal kontraksi lambat, kadng mengalami tetani, tahan thd kelelahan
 Otot rangka
memiliki banyak inti, dipersarafi oleh saraf motorik somatik (volunter), melekat pada tulang, sumber Ca2+ dari retikulum sarkoplasma (RS), sumber energi dr metabolisme aerobik & anaerobik, awal kontraksi cepat, mengalami tetani, & cepat lelah
 Otot jantung
memiliki 1 inti yg berada di tengah, dipersarafi oleh saraf otonom (involunter), serat otot berserat, hanya ada di jantung, sumber Ca2+ dari CES & RS, sumber energi dr metabolisme aerobik, awal kontraksi lambat, tdk mengalami tetani, & tahan thd kelelahan
3 Tipe Jaringan Otot
Struktur Otot Rangka
 Tendon
Hampir semua otot rangka menempel pada tulang. Tendon: jaringan ikat fibrosa (tdk elastis) yang tebal dan berwarna putih yg menghubungkan otot rangka dengan tulang.
Struktur Otot Rangka
 Fascia
- Otot rangka mrpkn kumpulan fasciculus (berkas sel otot
berbentuk silindris yg diikat oleh jaringan ikat).
- Seluruh serat otot dihimpun menjadi satu oleh jaringan ikat
yg disebut epimysium (fascia).
- Setiap fasciculus dipisahkan oleh jar.ikat perimysium
- Di dlm fascicle, endomysium mengelilingi 1 berkas sel otot.
- Di antara endomysium & berkas serat otot tersebar sel satelit
yg berfungsi dlm perbaikan jaringan otot yang rusak.

Sel otot serat otot (endomysium) fascicle  fasciculus (perimysium) fascia (epimysium) otot rangka (organ)
Struktur Otot Rangka
Sarcolemma (membran sel/serat otot) & Sarcoplasma
 Unit struktural jaringan otot ialah serat otot (diameter 0,01-0,1 mm;panjang 1-40 mm).
 Besar dan jumlah jaringan, terutama jaringan elastik, akan meningkat sejalan dengan penambahan usia.
 Setiap 1 serat otot dilapisi oleh jaringan elastik tipis yg disebut sarcolemma.
 Protoplasma serat otot yg berisi materi semicair disebut sarkoplasmA.
 Di dalam matriks serat otot terbenam unit fungsional otot berdiameter 0,001 mm yg disebut miofibril.
Struktur Otot Rangka
Miofibril (diameter 1-2m)
 Di bawah mikroskop, miofibril akan tampak spt pita gelap & terang yang bersilangan.
 Pita gelap (thick filament) dibentuk oleh miosin
 Pita terang (thin filament) dibentuk oleh aktin, troponin & tropomiosin)
Struktur Otot Rangka
Sarkomer
 1 sarkomer tdd:
- filamen tebal,
- filamen tipis,
- protein yg menstabilkan posisi filamen tebal & tipis, &
- protein yg mengatur interaksi antara filamen tebal & tipis.
 Pita gelap (pita/ bands Aanisotropic); pita terang (pita/bands I isotropic)
 Filamen tebal tdp di tengah sarkomer Pita A, tdd 3 bgn:
- garis M; zona H; dan zona overlap
 Filamen tebal tdp pd pita I;
 garis Z mrp batas antara 2 sarkomer yg berdekatan & mengandung protein Connectins yg menghubungkan filamen tiois pd sarkomer yg berdekatan.
Struktur Otot Rangka
Retikulum sarkoplasma
 Jejaring kantung dan tubulus yang terorganisir pada jaringan otot
  retikulum endoplasma di sel lain.
 Tdd tubulus-tubulus yg sejajar dg miofibril, yg pd garis Z dan zona H bergabung membentuk kantung (lateral sac) yang dekat dengan sistem tubulus transversal (Tubulus T).
 Tempat penyimpanan ion Ca2+.
 Tubulus T  saluran untuk berpindahnya cairan yang mengandung ion.
 Tubulus T dan retikulum sarkoplasma berperan dlm metabolisme, eksitasi, dan kontraksi otot.
Struktur Otot Rangka
 Motor end plates
merupakan tempat inervasi ujung-ujung saraf pada otot.
Komposisi Otot Rangka
Komposisi Otot Rangka
 Otot merah & putih
Otot merah  bny mengandung pigmen pernapasan yaitu mioglobin, yg berfungsi membawa oksigen dari kapiler darah (ekstrasel) ke mitokondria (intrasel)  kapasitas metabolisme oksidatif yang lebih tinggi dgn aktivitas siklus Krebs dan enzim transport elektron yang kuat

Otot putih  krn kurang mioglobin  kapasitas glikolisis anaerobik yang tinggi dgn aktivitas enzim glikolisis dan fosforilase yang kuat.

 Ekstraktif
Yaitu zat non-protein yang larut dlm air meliputi kreatinin, kreatinin fosfat, ADP, asam amino, asam laktat, dll. Zat yang memiliki struktur grup fosfat mrpkn zat yang ‘kaya energi’

 Protein
Komponen enzim otot yang mengkatalisis berbagai tahapan pd proses glikolisis mrpkn protein sarkoplasmik. Protein lain yang membentuk struktur otot ialah miosin, aktin, troponin, dan tropomiosin.
4 Pola pengorganisasian otot rangka
 Parallel muscle
 Convergent muscle
 Pennate muscle
 Circular muscle

 Axial musculature
- melekat pd rangka aksial
- memposisikan kepala, tulang belakang;
menggerakkan tulang iga
- mencakup 60% otot rangka tubuh
 Appendicular musculature
- menstabilkan atau menggerakkan
komponen rangka appendikular
- mencakup 40% otot rangka tubuh
Sistem Integumen
 Mrpkn organ terbesar, tertipis, & sangat penting (vital, diverse, complex, extensive)
 Mampu memperbaiki sendiri (self-repairing) & mekanisme pertahanan tubuh pertama (pembatas antara lingkungan luar tubuh dg dalam tubuh)
 Pd orang dewasa: luas=1,6-1,9 m2; tebal= 0,05-0,3cm
Fungsi Sistem Integumen
 PELINDUNG; dr kekeringan, invasi mikroorganisme, sinar ultraviolet, & … mekanik, kimia, atau suhu
 PENERIMA SENSASI; sentuhan, tekanan, nyeri, & suhu
 PENGATUR SUHU; menurunkan kehilangan panas saat suhu dingin & meningkatkan kehilangan panas saat suhu panas
 FUNGSI METABOLIK; menyimpan energi mll cadangan lemak; sintesis vitamin D
 EKSKRESI & ABSORPSI
Struktur kulit (membran kutan)
 Epidermis
 Dermis
Lapisan subkutan/ hipodermis/fasia superfisial  jaringan lemak & areolar
• Kulit tipis  kulit yg menutupi sbgn besar permukaan tubuh
• Kulit tebal  kulit yg menutupi telapak tangan & kaki


EPIDERMIS
Dibentuk oleh 5 lapis sel epitel:
 Stratum corneum
tdd sel skuamosa yg sangat tipis; mengandung keratinosit
 Stratum lucidum
Tdd keratinosit yg bersih, tdk berinti, & tdk jelas batas antar selnya; sel berisi materi spt gel (eleidin) yg akan diubah mjd keratin; eleidinlemak berikatan dg proteinmenghambat masuk/keluarnya air; pd kulit tipis lapisan ini tdk ada.
 Stratum granulosum
Proses keratinisasi dimulai dr lapisan ini. Tdd 2-4 lapis sel yg berisi granul (keratohyalin) yg dibutuhkan untuk pembentukan keratin. Sitoplasma sel memiliki kadar enzim lysosom yg tinggi, inti sel tdk ada & berdegenerasi. Pd kulit tipis lapisan ini tidak ada.
EPIDERMIS
 Stratum spinosum
Tdd 8-10 lapis sel yg berbentuk tdk teratur (polyhedral). Sel pd lapisan ini kaya akan RNA yg menginisiasi sintesis protein untuk produksi keratin.
 Stratum basale
Tdd 1 lapis sel kolumnar yg dapat mengalami mitosis  aktivitas regenerasi  sel berpindah dari lapisan terbawah ke paling atas

Stratum germinativum (growth layer)  stratum spinosum + stratum basale

DERMIS
 Tdd lapis tipis papil & retikular tebal
 Lapisan dermis lebih tebal drpd epidermis
 Bny tdp jaringan saraf & ujung-ujung saraf reseptor sensori somatik
 Bny tdp pembuluh darah  regulasi suhu tubuh
DERMIS
 Lapisan papil (dermal papillae)
 Lapisan retikular
- tdd retikulum jaringan serat kolagen
(terbanyak) & serat elastin
- tmpt menempelnya serat otot rangka
(wajah & kulit kepala) & otot polos
(arrector pili muscles/ akar rambut)
- tdpt reseptor sensori somatik (rasa
nyeri, tekanan, sentuhan, & suhu)
Warna Kulit
 Penentu dasar warna kulit: kuantitas melanin yg tersimpan di dlm sel epidermis
 Melanosit yg memproduksi pigmen tersebar di stratum basale epidermis
 Melanosit: mengubah as.amino tyrosin mjd pigmen melanin coklat kehitaman yg diatur oleh enzim tyrosinase.
 Konversi tyrosin mjd pigmen tgtg pd:
(1) gen/ keturunan , (2) paparan cahaya matahari, (3) hormon ACTH
 Pd keadaan ttt yg bersifat sementara, warna kulit berubah oleh perubahan volume darah yg melalui kapiler kulit & jumlah hemoglobin yg teroksigenasi

MASALAH SISTEM ENDOKRIN

MASALAH SISTEM ENDOKRIN
Oleh : CASMADI
AKADEMI KEPERAWATAN SAIFUDDIN ZUHRI INDRAMAYU
SISTEM ENDOKRIN
 TERDIRI DARI KELENJAR-KELENJAR YG MENSINTESIS HORMON
 HORMON ADALAH SUBSTANSI KIMIA YG DISEKRESIKAN KE DALAM CAIRAN TUBUH DAN DAPAT MEMPENGARUHI PENGATURAN FISIOLOGI SEL-SEL TUBUH LAIN
KLASIFIKASI :
 BERDASARKAN SIFAT HORMON :
 HORMON SETEMPAT
 HORMON UMUM
 BERDASARKAN KIMIAWI HORMON
 HORMON STEROID
 DERIVAT ASAM AMINO TIROSIN
 PROTEIN / PEPTIDA
PENGATURAN SEKRESI HORMON
→ MEKANISME UMPAN BALIK NEGATIF
 KEL. ENDOKRIN CENDERUNG MENSEKRESI HORMON SECARA >>>
 EFEK PADA ORGAN TARGET ↑
 ORGAN TARGET MELAKUKAN FUNGSINYA
 BILA FUNGSI >>> →FAKTOR FUNGSI INI MRPK UMPAN BALIK (-)




MEKANISME UMPAN BALIK NEGATIF
HIPOTHALAMUS
I (-)
CRF

HIPOFISE ANTERIOR
I (-)
ACTH

ADRENAL → KONSENTRASI
CORTISOL PLASMA

RESEPTOR HORMOM
 KEGIATAN HORMON TERJADI SETELAH HORMON BERIKATAN DG RESEPTOR
 RESEPTOR HORMON ADALAH PROTEIN BERMOLEKUL BESAR
 SETIAP SEL MEMPUNYAI 2000 – 10.000 RESEPTOR
 SETIAP RESEPTOR BIASANYA SPESIFIK UNTUK 1 MACAM HORMON
LOKASI RESEPTOR
 DI MEMBRAN SEL , UNTUK HORMON GOL. PROTEIN, PEPTIDA DAN KATEKOLAMIN
 DI SITOPLASMA , UNTUK GOL. STEROID
 DI INTISEL , UNTUK HORMON GOL. ASAM AMINO TYROSIN
MEKANISME KERJA HORMON

1) RESEPTOR PADA MEMBRAN SEL
MEMBRAN SEL

ATP 5 – AMP

Mg


FOSFODIESTERASE






3,5 CAMP + PPi




RESPON FISIOLOGIS
RESPON FISIOLOGIS
 MENGAKTIFKAN ENZIM
 MENGUBAH PERMIABILITAS MEMBRAN
 MENYEBABKAN KONTRAKSI / RELAXASI OTOT
 MENYEBABKAN SINTESIS PROTEIN
 MENIMBULKAN SEKRESI
HORMON YG M’GUNAKAN MEKANISME C-AMP
 ACTH
 TSH
 LH
 FSH
 VASOPRESSIN
 PARATHYROID
 GLUKAGON
 KATEKOLAMIN
 SEKRETIN
 R H HIPOTHALAMUS


2) RESEPTOR DI SITOSOL
MEMBRAN SEL



INTI SEL



mRNA


PROTEIN SPESIFIK


+
RESPON FISIOLOGIS






RANGKAIAN KEGIATAN
 H. STEROID MEMASUKI SITOPLASMA SEL, KMD BERIKATAN DG RESEPTOR
 IKATAN H – R BERDIFUSI KE INTISEL
 IKATAN H – R M’AKTIFKAN PROSES TRANSKRIPSI GEN GEN SPESIFIK U/. MEMBENTUK Mrna
 mRNA BERDIFUSI KE SITOPLASMA ↑ PROSES TRANSKRIPSI DLM RIBOSOM U/ MEMBENTUK PROTEIN BARU

3) RESEPTOR DI INTRASEL
 HORMON TIROKSIN / TRIIODOTIRONIN MEMASUKI SITOPLASMA → KE INTISEL, KMD BERIKATAN DG RESEPTOR
 IKATAN H – R MENGAKTIFKAN MEKANISME GENETIK U/. MEMBENTUK BERBAGAI TIPE PROTEIN INTRASEL YG SEBAGIAN BESAR ENZIME U/. ↑ AKTIVITAS METABOLISME INTRASEL

DEGRADASI HORMON

 PENGRUSAKKAN SECARA METABOLIK O/ JARINGAN
 PENGIKATAN O/ JARINGAN
 DIEKSKRESI O/ HATI → EMPEDU
 DIEKSKRESI O/ GINJAL → URINE

PENGATURAN OLEH HIPOTHALAMUS
HIPOTHALAMUS

TRH HIPOFISE POSTERIOR
CRF
GHRH VASOPRESSIN (ADH)
LRH (GnRH) OXYTOSIN
PIF

HIPOFISE ANTERIOR ↑ TSH
THYROID ↑ ACTH
ADRENOCORT. ↑ GH
OVARIUM/ TESTIS ↑ LH, FSH
PAYUDARA ↓ PROLACTIN
MASALAH PADA SISTEM ENDOKRIN
 GANGGUAN PRIMER YG MERUBAH KONSENTRASI HORMON
 GANGGUAN PRIMER PADA RESEPTOR ( ∑ / AFINITAS NYA)
→ DIKENALI MELALUI AKTIVITAS
METABOLIK DARI HORMON YG TERLIBAT
→MASALAH YG TERJADI BERHUBUNGAN
DENGAN
 (↑) HYPER
 (↓) HYPO

1. MASALAH PADA KEL.HIPOFISE
 HIPOFISE ANTERIOR
 FUNGSI :
 MENSEKRESI
 ACTH
 MSH
 TSH
 FSH & LH
 GH
 PROLACTIN
MASALAH YG BIASA TERJADI :


a. PANHIPOPITUITARISM
PADA ANAK-ANAK :
 ↓ GH → KEC. PERTUMBUHAN SANGAT
 LAMBAT → TUBUH KERDIL (DWARFISM)
 T’ ADA TANDA < THYROID DAN ADRENOCORTICAL
 T’MENGALAMI PUBERTAS O.K. GONADOTROPIN DISEKRESI ≠~ DG KEBUTUHAN U/ PERTUMBUHAN FUNGSI SEXUAL DEWASA

PADA ORANG DEWASA
 MANIFESTASI HIPOTHYROID, DEFISIENSI GLUKOCORTIKOID DAN REPRESSI H. GONADOTROPIN
 HIPOTHYROID → ↓ METABOLISME → INDIVIDU LETHARGIC
 ↓ GH, ADRENOCORTIKOTROPIN, H.THYROID → BB↑ O.K.↓ MOBILISASI LEMAK, SERTA FUNGSI SEX HILANG
b. HIPERSEKRESI KEL. HIPOFISE ANT.
 →↑ HORMON-2 YG DISEKRESI
 ↑GH → TUBUH TUMBUH PESAT
 JIKA TERJADI SEBELUM EPIFISIS TL PANJANG BERSATU DG BTG TL → TUMBUH SPT RAKSASA (GIGANTISM)
 ↑ ACTH →↑GLUKOSA DLM DARAH →BEBAN PANCREAS ↑ → DEGENERASI P. LANGERHANS → DIABETES MELLITUS
 O.K. SERINGKALI TERJADI AKIBAT TUMOR → TERUS TUMBUH → RUSAK → PANPITUITARISM.

 JIKA TERJADI SETELAH TL PJG BERSATU DG EPIFISIS → TIDAK BERTAMBAH TINGGI TETAPI JARINGAN IKAT LONGGAR TERUS TUMBUH →
 TULANG BERTAMBAH TEBAL → AKROMEGALI
PEMBESARAN DAPAT DILIHAT PADA
 TL KECIL TANGAN / KAKI
 TL MEMBRANOSA (TL TENGKORAK, TL HIDUNG, TL DAHI, TEPI SUPRAORBITA, TL BAWAH RAHANG
 BAG. TL VERTEBRA → BUNGKUK (KIFOSIS)
 PEMBESARAN JARINGAN LUNAK
c. HIPOSEKRESI KEL. HIPOFISE POST.
 → DIABETES INSIPIDUS
 SEKRESI ADH↓ →↓ ABSORPSI AIR DI GINJAL →↑ EKSKRESI URINE →↓ JUMLAH CAIRAN TUBUH → DRHIDRASI

d. SIADH
 ↑ AKTIVITAS HIPOTHALAMUS (O.K. STRESS FISIK / PSIKOLOGIS) →↑ STIMULASI KE NEUROENDOKRIN →↑ HIPERSEKRESI ADH →↑ RETENSI AIR DI GINJAL → CAIRAN TUBUH >>>
2. MASALAH PADA KEL. THYROID
 KEL. THYROID MENSEKRESI :
 H. TIROKSIN
 TRIIODOTIRONIN
 CALSITONIN
 KEL. THYROID TERDIRI DARI FOLIKEL-2 YG DIPENUHI OLEH BAHAN SEKRETORIK (KOLOID) DG UNSUR UTAMA GLIKOPROTEIN TIROGLOBULIN, DAN SEL EPITEL KUBOID
 TIROGLOBULIN TERDIRI DARI 140 aa TIROKSIN
 UNTUK MEMBENTUK HORMON TIROKSIN DAN TRIIODOTIRONIN DIPERLUKAN IODIUM


EFEK HORMON TIROKSIN/TRIIODOTIRONIN

 ↑ KECEPATAN METABOLISME (KEC. PADA OTAK, RETINA, LIMPA, TESTIS DAN PARU) →↑NAFSU MAKAN
 PADA ANAK : MERANGSANG PERTUMBUHAN, KHUSUSNYA TUM-BANG OTAK SAAT JANIN – AWAL KEHIDUPAN (2TH)
 ↑ METAB. KH. LEMAK
 ↓ CHOLESTEROL PLASMA, FOSFOLIPID, DAN TRIGLICERIDA
 ↑ ENZIME → KEBUTUHAN VITAMIN ↑
 ↑ PENGGUNAAN O2 DAN SISA METABOLISME
 ↑ SEKRESI & MOTILITAS SAL. CERNA
 ↑ AKTIVITAS SARAF OTAK

a. HIPERTHYROID
↑ HORMON TIROKSIN / TRIIODOTIRONIN →
 INTOLERANCE THD PANAS
 BERKERINGAT BANYAK
 ↓ BB, DIARE
 KELEMAHAN OTOT, NERVOUS, TREMOR
 RASA LELAH, SULIT TIDUR
 PROTUSI BOLA MATA (EXOPHTHALMUS) O.K PEMBENGKAKAN JAR. RETROORBITA & PERUBAHAN DEGENERATIF OTOT OCCULER → MATA MENONJOL, KELOPAK SULIT DITUTUP SEMPURNA → IRITASI → INFEKSI → ULKUS CORNEA
b. HYPOTHYROID
 → GOITER THYROID
 TERDAPAT 2 JENIS
1) GOITER KOLOID ENDEMIK
 < INTAKE IODIUM →↓PRODUKSI HORMON → SEKRESI TSH >>> → THYROID M’SEKRESI TIROGLOBULIN (KOLOID) KE DLM FOLIKEL → KELENJAR >>>
 KARENA HORMON TETAP TAK TERBENTUK (T’ADA IODIUM) → TSH TETAP DISEKRESI →KERJA KEL. THYROID ↑ →↑ SEKRESI TIROGLOBULIN ……………….. DST
2) GOITER NON TOKSIK IDEOPATIK

MANIFESTASI KLINIS
 DENYUT JANTUNG ↓, CURAH JANTUNG ↓
 KELEMAHAN YG EKSTRIM
 RASA LELAH, MENGANTUK →TIDUR 14 – 15 JAM/HARI
 BB ↑, KONSTIPASI
 KELAMBANAN MENTAL
 PERTUMBUHAN RAMBUT <, KULIT BERSISIK
 SUARA PARAU

 TUBUH BENGKAK (MIXEDEMA) O.K. ↑ PROTEOGLIKAN YG BERKUMPUL DI INTERSTITIAL →↑ ABSORPSI AIR KE
 INTERSTITIAL → EDEMA
 PROTEOGLIKAN → GEL → EDEMA DAN TAK ADA PITTING EDEMA
 ↑ CHOLESTEROL, TRIGLICERIDA, →
↑ FAKTOR RESIKO :
 ARTEROSCLEROSIS
 ATHEROSCLEROSIS










3. MASALAH PADA KEL. ADRENAL
KEL. ADRENAL TERDIRI DARI 2 BAGIAN
1) MEDULLA
 SECARA FUNGSIONAL BERHUBUNGAN DG SISTEM SARAF SIMPATIS
 MENSEKRESI :
 H. EPINEPHRIN
 NOREPINEPHRIN

2) KORTEK (ADRENOKORTIKAL)
MENSEKRESI :
 HORMON MINERALOKORTIKOID
 HORMON GLUKOKORTIKOID
 SEDIKIT H. ANDROGEN
HORMON-2 INI MERUPAKAN STEROID DAN DIBENTUK TERUTAMA DARI CHOLESTEROL
 95% AKTIVITAS GLUKOKORTIKOID O/ KORTISOL
 95% AKTIVITAS MINERALOKORTIKOID OLEH ALDOSTERON


FUNGSI ALDOSTERON
 ↑ SEKRESI K DAN H
 ↑ ABSORPSI Na
PENGATURAN SEKRESI ALDOSTERON :
 BESARNYA KONSENTRASI ION KALIUM DALAM CAIRAN EKSTRA SEL
 SISTEM RENIN – ANGIOTENSIN
 KONSENTRASI Na PLASMA
 ACTH


FUNGSI GLUKOKORTIKOID
 ↑ GLUKONEOGENESIS
 ↓ PENYIMPANAN PROTEIN DALAM SEL
 ↑ PROTEIN DALAM HATI DAN DARAH
 ↓ PENGANGKUTAN ASAM AMINO KE DLM SEL EKSTRAHEPATIK
 ↑ LIPOLISIS DAN MOBILISASI LEMAK
 EFEK ANTIINFLAMASI DG :
 STABILISASI MEMBRAN LISOSOM
 ↓ PERMIABILITAS KAPILER
 ↓ KEMAMPUAN FAGOSITOSIS LEUKOSIT
 ↓ ∑ LIMFOSIT
PENGATURAN SEKRESI:
 SETIAP KEADAAN STRES → ↑ SEKRESI ACTH → ↑ SEKRESI HORMON ADRENOKORTIKAL



a. ALDOSTERONISME
 TERJADI O.K. TUMOR PADA ZONA GLOMERULOSA → SEKRESI ALDOSTERON ↑
 ↑ ALDOSTERON →
 ↑ ABSORPSI Na DIIKUTI DG REABSORPSI H2O DAN Cl → VOL CAIRAN EXTRASEL ↑
 ↑ SEKRESI K → HIPOKALEMI
JIKA K PLASMA ↓ S.D. ½ / < → KELEMAHAN OTOT
 ↑ SEKRESI H → GANGGUAN ~ ASAM BASA (ALKALOSIS)





b. HIPOADRENALISME (ADDISON DISEASE)
 HIPOGLUKOKORTIKOID
 HIPOMINERALOKORTIKOID
 → MENGGANGGU MEKANISME RENIN-ANGIOTENSIN
 DEFISIENSI ANDROGEN(PADA WANITA)
 ↓ PERTUMBUHAN RAMBUT PUBIS & AXILA
 HIPERPIGMENTASI O.K ↓ KORTISOL → T’ ADA (-) FEED BACK MECHANISM KE HIPOTHAL.
→ ACTH ↑→ MSH ↑ → HIPERPIGMENTASI






c. HIPERSEKRESI GLUKOKORTICOID
(CUSHING SYNDROME)
 → HIPERGLIKEMIA
BILA TERJADI BER-BULAN2 → KERUSAKAN SEL β P.LANGERHANS → DM
 ↓ PROTEIN SELURUH TUBUH
 → OTOT LEMAH, ATROPI, PENIPISAN DINDING PEMB. DARAH → MUDAH PECAH → MEMAR
 → KULIT TIPIS, ATROPI, BILA LUKA SULIT SEMBUH, RUPTUR SELAPUT ELASTIS → STRIAE BERWARNA KEUNGUAN
 → TULANG JADI RAPUH → OSTEOPOROSIS → FRAKTUR PATOLOGIS
 LEMAK >>> DILUAR KEBIASAAN O.K. ↑MOBILISASI LEMAK TAK SEIMBANG DG PENGGUNAAN







d. MASALAH PADA KEL.PANCREAS
 PANCREAS MENSEKRESI :
 INSULIN
 GLUKAGON (PERUBAHANNYA TIDAK MENIMBULKAN MASALAH)
 INSULIN BERFUNGSI :
 MENGHAMBAT FOSFORILASE
 ↑ UPTAKE GLUKOSA OLEH SEL HATI, OTOT, DAN ADIPOSA
 ↑AKTIVITAS ENZIM U/ SINTESIS GLIKOGEN
 ↑ SINTESIS ASAM LEMAK & PENYIMPANANNYA PADA JAR. ADIPOSA
 MENGHAMBAT KERJA LIPASE YG SENSITIF THD HORMON




 ↑ UPTAKE ASAM AMINO OLEH SEL
 ↑ TRANSLASI mRNA PADA RIBOSOM→ SINTESIS PROTEIN ↑
 ↑ TRANSKRIPSI DNA →∑ RNA BARU ↑→ PRODUKSI SEL BARU ↑
 ↓ KATABOLISME DG ↓ PELEPASAN ASAM AMINO DARI SEL OTOT
 ↓ KECEPATAN GLUKONEOGENESIS




PENGATURAN INSULIN
 PERANGSANGAN
 ↑ GLUKOSA DARAH
 ↑ ASAM AMINO DARAH (ARGININ DAN LISIN)
 HORMON PENCERNAAN (GASTRIN, SEKRETIN, CHOLESISTOKININ) DAN HORMON LAIN ( GH, KORTISOL, GLUKAGON, PROGESTERON, ESTROGEN)
 PENGHAMBATAN :
 ↓ GLUKOSA DARAH




a. HIPOINSULIN
 ↓ ∑ INSULIN SECARA ABSOLUT / RELATIF
(INSULIN DEPENDENT DIABETES MLLITUS / IDDM)
 ↓ ∑ / AFINITAS RESEPTOR ( NON-INSULIN DEPENDENT DIABETES MELLITUS / NIDDM)


EFEK HIPOINSULIN
 ↑ GLUKOSA DARAH →OSMOLALITAS CES↑ → SHIFT CAIRAN DARI INTRASEL KE EKSTRASEL
 VOL. CES↑ → GFR ↑
 VOL. CIS↓(DEHIDRASI SEL) → RANGSANG KE HIPOTHALAMUS → HAUS → POLIDIPSI
 ↑ GFR → FILTRAT GLOMERULUS↑→ URINE ↑
 KONSENTRASI GLUKOSA PADA FILTRAT ≥ 180 mg% → TERLEWATI AMBANG GINJAL THD GLUKOSA → OSMOLALITAS FILTRAT↑ → ABSORPSI H2O DI GINJAL ↓ → URINE YG TERBENTUK >>> (POLIURI)
 ↓ UPTAKE GLUKOSA OLEH SEL
 → SEL KELAPARAN→ STIMULASI KE HYPOTH. → LAPAR TERUS → POLIPHAGI
 ↓ PEMBENTUKAN ENERGI








 SORBITOL (JALUR POLIOL: GLUKOSA – SORBITOL – FRUKTOSA)→ M’GANGGU KEGIATAN METABOLIK SEL SCHWANN → KERUSAKAN AKSON → KECEPATAN KONDUKSI MOTORIK ↓,NYERI,PARASTHESIA (BAAL / KESEMUTAN), ↓ SENSASI GETAR. PADA LENSA → KATARAK & KEBUTAAN
 ↑ SERUM FFA, SORBITOL, SERUM GLUKOSA → VISKOSITAS DARAH ↑ → HIPERTENSI, ATHEROSCLEROSIS, ARTERIOSCLEROSIS
 ↓ ∑ DAN KEMAMPUAN FAGOSITOSIS
 → TERJADI LUKA YANG SERINGKALI TAK DISADARI DAN SULIT SEMBUH





KOMPLIKASI
1) METABOLIK AKUT :
 IDDM → KETOASIDOSIS
 NIDDM → HYPERGLIKEMI HYPEROSMOLAR NON- KETOTIC AYIDOSIS
 HIPOGLIKEMIA O.K. TH/ INSULIN
2) JANGKA PANJANG :
 MICROANGIOPATHY
 RETINOPATHY
 DIABETIC NEPHROPATHY
 DIABETIC NEUROPATHY
 MACROANGIOPATHY :
 ATHEROSCLEROSIS/ ARTERIOSCLEROSIS → RESIKO CAD, STROKE

Sabtu, 29 Agustus 2009

PENELITIAN KASUS BBLR

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang

Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dengan menggunakan indicator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). World Health Organization 9WHO) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan fenomena 2/3. fenomena itu terdiri dari, 2/3 kematian bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal). 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. (Komalasari, 2002)
Angka Kematian Bayi di Indonesia sebanyak 35 per 1000 kelahiran hidup yaitu hamper 5 kali lipat dibandingkan angka kematian bayi Malayasia, hamper 2 kali lipat dibandingkan dengan Thailand dan hampir 1,3 kalii lipat dibandingkan dengan Filipina. (Depkes RI, 2004). Adapun target cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2010 yaitu sebanyak 25 per 1000 kelahiran hidup. (Wardani, 2005).
Angka kematian bayi di Jawa Barat melebihi angka rata-rata kematian bayi nasional. Saat ini, angka rata-rata kematian bayi nasional sebanyak 36 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan Jawa Barat masih diatas rata-rata, dengan angka kematian bayi sebanyak 40 per 1000 kelahiran hidup. (Gsianturi, 2005).
Angka kematian bayi di Kabupaten Kuningan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari tahun 2000 Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak-banyaknya 169 per 1000 kelahiran hidup menjadi 76 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005. (Laporan Tahunan Dinkes Kabupaten Kuningan, 2005).
Pola penyakit penyebab kematian menujukan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal dini (kelompok umur o-7 hari) tertinggi adalah prematur dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudin asfiksia lahir (33,6%). Penyakit penyebab kematian neonatal lanjut (kelompok umur 8-28 hari) tertinggi adalah infeksi seberang 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), kemudian feeding problem (14,3%). (djaja, 2001).
Bayi berat lahir rendah (BBLR ) / Low Birtgweight Infant adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 Gram. Berat badan lahir rendah (bblr) dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 3 minggu) atau BBLR karena instrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. (Djaja, 2001).
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh faktor ibu dan faktor janin. Hal-hal yang mempengaruhi BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan (Toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis), karakteristik sosial ekonomi (pendidikan ibu yang rendah, pekerjaan ibu, status ekonomi rendah), biomedis ibu dan riwat persalinan diantaranya umur ibu (< 20 tahun dan > 35 tahun), paritas (primitara dan grandemultipara), keguguran/lahir mati mati dan pelayan antenatal (frekuen periksa hamil, tenaga periksa hamil, umur kandungan saat memeriksakan kehamilannya).
Adapun dari faktor janin BBLR disebabkan karena karena kehamilan ganda, hidramnion, kelainan kromosom, cacat bawaan, dan infeksi dalam kandungan. (prawiroharjo, 2002).
Menurut siti fadilah supari, jika bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5kg pada umur 40th (jika dapat mencapai usia itu ) akan menderita penyakit jantung, darah tinggi maupun diabetes. Dengan demikian setiap setiap tahun akan terdapat sekitar 400.000 calon-calon penderita pengakit degeneratif. (depkes, 2004).
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Walaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika dia tumbuh dewasa kelak. (Kumiasih, 2005).
Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan merupakan rumah sakit rujukan baik dari puskesmas maupun dari klinik swasta lain di daerah Kuningan. Pada tahun 2004 tercatat jumlah bayi yang lahir dengan berat badan rendah sebanyak-banyaknya 204 bayi dimana pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah BBLR yaitu sebanyak-banyaknya 282 bayi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui kejadian BBLR di RSUD Kuningan dengan menulis dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Gambaran Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan faktor ibu di RSUD Kuningan periode tahun 2005.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tingginya angka kejadian BBLR di RSUD periode tahun 2005.

Tujuan
Tujuan umum
Dapat mengetahui gambaran kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) BERDASARKAN FAKTOR IBU DI Ruang Perinatalogi RSUD Kuningan tahun 2005.

Tujuan khusus
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor umur ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pendidikan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pekerjaan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan jumlah paritas ibu

Manfaat Penelitian
bagi Penulis
sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh saat kuliah dan untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.

Bagi RSUD Kuningan
Diharapkan penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat memberikan informasi dan memberikan gambaran kepada RS mengenai kejadian BBLR.

Bagi Institusi Pendidikan
Dengan penelitian yang dilakukan diharapkan bermanfaat bagi pihak pendidikan sebagai bahan perbendaharaan bacaan di perpustakaan dan dapat dijadikan dasar pemikiran didalam penelitian lanjutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badanya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan menjadi:
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat lahir 1500 ? 2500 gram;
Bayi Berat Sangat Lahir Rendah (BBLSR), yaitu berat lahir < 1500 gram;
Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER), yaitu berat lahir < 1000 gram.
Sejak tahun 1961 Wordl Health Organization (WHO) telah mengganti istilah premature baby dengan low weight baby (Bayi dengan Berat Lahir Rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature. Keadaan ini dapat disebabkan oleh:
Masalah kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur);
Bayi Small for Gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan = KMK);
Kedua-duanya.

Pembagian BBLR
Bayi Prematur (SMK)
Makin rendah masa gestasi dan maklin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi mortalitas dan morbilitasnya. Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan cara-cara yang kompleks serta menggunakan alat-alat yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya dapat diobati. Dengan demikian gejala sisa yang mungkin diderita dikemudian hari dapat dicegah atau dikurangi.
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam-macam problematika pada derajat prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok, yaitu:
Bayi yang sangat premature (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum.
Bayi pada derajat premature yang sedang (Moderately premature): 31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga sangat ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
Borderline premature, masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat yang premarure dan mature, akan tetapi timbul problematic seperti yang dialami bayi premature, misalnya sindroma gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.

Problematik bayi premature
Alat tubuh bayi premature belum berfungsi seperti bayi matur. Oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi premature.
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan sebagai berikut:
a. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh yang relativ lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru-paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita premature adalah penyakit membrane hialin dan aspirasi pneumonia. Disamping itu sering timbul pernapasan periodic dan apneu yang disebabkan oleh pusat pernafasan di medula belum matur.
c. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi: distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorpsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari spingter kardio-eosepagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitas isi lambung ke eosephagus dan mudah terjadi aspirasi.
d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
e. Ginjal yang imature baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik.
f. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile), kekurangan faktor pembekuan protombin, faktor VII.
g. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gama globulin. Bayi premature relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.
h. Perdarahan intraventriculer: lebih dari 50% bayi premature menderita perdarahan intraventriculer. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnue, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah. Penambahan darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia dilapisan germinal yang terdapat didasar ventrikel lateralis antara nucleus caudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventriculer ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan.

Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Setiap bayi baru lahir (premature, matur, dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas, dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.
Ada 2 bentuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu:
Propotionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah gestasi yang sebenarnya.
Disproportionate IUGR; terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi setelah beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala noarmal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi.

Problematik bayi KMK
Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan uterus didalam uterus. Dengan kata lain alat-alat tubuhnya sudah bertumbuh dengan lebih baik bila dibandingkan dengan bayi premature dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi KMK yang tidak premature lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian, harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik, diantaranya:
1. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Ini disebabkan distrass yang sering dialami bayi ini dalam persalinan.
2. Hipoglikemia terjadi terutama apabila pemberian minum pada bayi terlambat. Hipoglkemia ini terjadi karena disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi.
3. Keadaan lain yang mungkin terjadi: asfiksia, perdarahan paru yang massif, hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindron down, tumer dll).

Etiologi BBLR
Faktor Ibu
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis. Selain itu penyakit lain seperti nefritis acut, infeksi akut dll.
Usia
Usia wanita mempengaruhi kehamilan. Saat pertama hamil merupakan perubahan status dari perubahan seorang perempuan menjadi seorang ibu. Beberapa ahli mengatakan bahwa kehamilan adalah kondisi krisis yang dialami oleh perempuan tidak hanya gangguan pada psikologis namun juga adanya perubahan sense dan identitas pada diri perempuan. Pada perempuan dewasa, perubahan ini sama sekali tidak berhenti namun menjadi masalah yang cukup besar jika terjadi pada remaja. Lee dan Corpuz (1988) menemukan 14,5% dari bayi yang lahir dari ibu usia dibawah 15 tahun dan 9,4% dari ibu usia antara 15-19 tahun mengalami BBLR (Trad, 2002).
Resiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Resiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban kehamilan (Soelaeman, 2006). Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi lainnya adalah terjadinya keracunan kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak ari-ari (plasenta previa) yang dapat menyebabkan perdarahan selama persalinan. (Soelaeman, 2006).
Sebagian besar wanita yang berusia diatas 35 tahun mengalami kehamilan yang sehat dan dapat melahirkan bayi yang sehat pula. Namun beberapa penelitian semakin matang usia ibu dihadapkan pada kemungkinan terjadinya beberapa resiko tertentu. Resiko kehamilan yang akan dihadapi pada usia tua hampir mirip dengan kehamilan diusia muda hanya saja karena faktor kematangan fisik yang dimiliki maka ada beberapa resiko yang akan berkurang, misalnya menurunnya resiko cacat janin yang disebabkan asam folat. Resiko kelainan letak janin juga berkurang karena rahim ibu diusia ini sudah matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik. Bahaya yang mengancam justru berkaitan dengan organ reproduksi diatas usia 35 tahun yang sudah menurun sehingga bisa mengakibatkan perdarahan pada proses persalinan dan preeklamsia. Preeklamsia terjadi pada sekitar 5% wanita hamil, ditandai dengan tingginya tekanan darah, dan banyaknya protein serta cairan dalam urine. Para calon ibu yang terserang dapat mengalami gangguan ginjal dan hati, sementara jabang bayinya akan mengalami pertumbuhan yang lambat. (Soelaeman, 2006).
Pada wanita hamil usia 35 tahun atau lebih, kemungkinan dapat melahirkan bayi dengan BBLR, yaitu berat lahir bayi kurang dari 2500 gram, atau lahir premature (bayi lahir kurang dari 37 minggu kehamilan) (Suara Merdeka, 2002). Pada penelitian di Canada tahun 2002 ditemukan resiko ini sebesar 40% untuk BBLR dan 20% lahir premature. Resiko ini sering muncul, meskipun wanita hamil tersebut tidak memiliki masalah kesehatan kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (Suara Merdeka, 2003).

Paritas
Paritas wanita (woman parity) adalah rata-rata anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita usia subur yang pernah kawin pada tahun tertentu. Pola paritas wanita mengikuti huruf U terbalik, pada wanita usia muda (15-19 tahun) paritasnya relatif kecil. Paritas wanita mencapai puncaknya pada usia 25-29 tahun, kemudian mulai menurun kembali pada kelompok usia diatasnya (NKLD, 2002).
Anak yang dilahirkan hidup oleh wanita usia 15-19 tahun, relatif sedikit dibandingkan kelompok usia diatasnya. Hal ini disebabkan karena secara umum lamanya waktu wanita tersebut berbeda dalam ikatan perkawinan juga lebih pendek dibandingkan kelompok yang lebih tua, sehingga masa reproduksi yang dijalaninya juga relatif pendek. Usia 25-29 tahun adalah usia yang sangat aman untuk melahirkan baik dari segi fisik maupun psikis. Semakin tua umur wanita, tingkat kesuburan wanita pun akan semakin berkurang sehingga hanya sedikit dari mereka yang melahirkan. (NKLD, 2002)
Dalam istilah kebidanan, ada beberapa klasifikasi ibu berdasarkan paritas yaitu:
Nulipara, yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan seorang anak yang mampu hidup
Primipara, yaitu ibu yang telah melahirkan seorang anak
Multipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lebih dari seorang anak (2-4 kali)
Grandemultipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lima orang anak atau lebih.
Menurut Cuningham (2002) bahwa faktor predisposisi BBLR yang utama berdasarkan paritas adalah seorang ibu primipara. Katagori rawan hanya berlaku pada kehamilan anak pertama. Sedangkan pada kehamilan kedua dan ketiga, resiko akan menurun dengan sendirinya. Namun, bahaya akan kembali beresiko adalah kehamilan pada usia sebelum 18 tahun dan kehamilan diatas usia 35 tahun.

Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran penting bagi suatu bangsa karena pendidikan memiliki andil yang besar terhdap kemajuan bangsa, baik secara ekonomi maupun sosial. Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena pendidikan merupakan salah satu sarana meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Menurut Simanjuntak (1985:60), investasi dengan meningkatkan pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh orang yang meningkatkan pendidikan tersebut (private rate to retum) melainkan juga dinikmati oleh masyarakat luas (social rate retum). (Kompas, 2002)
Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara untuk memelihara kehamilannya. Semakin tinggi pendidikan, secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosialnya. Sebaliknya pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahun tentang kehamilan dan sering menjadi penyebab kurang gizi pada bayi. Selama masa intrauteruin, asupan nutrisi yang adekuat pada ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Dengan asupan nutrisi yang adekuat dari hari ke hari kehamilan ibu bertambah besar dan sejalan dengan itu, janin tumbuh dan berkembang sampai pada usia kehamilan yang matang maka janin siap dilahirkan dengan berat badan, panjang badan, dan pertumbuhan organ fisik lainnya yang normal. Sebaliknya, apabila ibu tidak mendapat asupan gizi yang adekuat, bayi dapat lahir dengan berat rendah. Pengatahuan maupun faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor utama seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). (Endang, 2004)
Suvei demografi di 40 negara (Engendering Development, Bank Dunia, 2001) yang memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi. Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar. Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu menyelesaikan pendidikan menegah tingkat pertama (Kompas, 2005)

Pekerjaan
Wanita hamil sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Salah satunya yaitu harus bekerja, padahal wanita hamil dianjurkan untuk banyak istirahat. Hal tersebut menyebabkan wanita kurang menjaga kesehatan selama hamil dan kurang memperhatikan asupan gizi yang benar. Jika asupan gizi saat hamil buruk, maka janin pun akan kekurangan nutrisi dalam perkembangannya dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Sehingga ibu yang bekerja lebih berpotensi berat badan lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. (Endang, 2004)
Pekerjaan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh terhadap akses informasi yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja (Depkes RI, 2004). Dilihat dari segi sosial ekonomi bagi sebagian anggota masyarakat yang mengalami krisis ekonomi atau dengan upah dan pendapatan yang kurang untuk pemeriksaan kehamilan merupakan beban berat, akibatnya mereka memilih untuk tidak memeriksakan kehamilannya sehingga ibu hamil tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, asupan gizi pun tidak diperhatikan. Kehidupan manusia dimulai sejak masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mengalami kurang gizi dan lahir dengan berat badan rendah yang mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap outcome kehamilan telah terdokumentasi dengan baik (Stein dan Susser, 1975). Masa paceklik di Belanda ?The Dutch Fainine? yang berlangsung pada tahun 1944-1945, telah membawa dampak yang cukup serius terhadap outcome kehamilan. Fenomena the Dutch Famine menunjukan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan 3) jatuh pada saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, dan berat plasenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi esensial lainnya. (Gsianturi, 2005)

Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berperan terhadap timbulnya kejadian BBLR. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah, hal ini disebabkan karena keadaan gizi ibu yang kurang baik menyebabkan asupan nutrisi yang disalurkan ke janin akan berkurang, senhingga pertumbuhan janin terhambat dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Selain itu pengawasan antenatal yang kurang sering terjadi pada golongan ekonomi rendah sehingga menyebabkan kurangnya pemantauan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. (endang, 2004).
Sebab lain
Faktor nutrisi, perokok, peminum alkohol, obat-obatan.
Faktor lanin
Kehamilan ganda
Hydramnion
kelainan kromosom
cacat bawaan
infeksi dalam kandungan (teksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes, sifilis ; TORCH )
diagnosis dan gejala klinik
sebelum lahir pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus, prematurus, dan lahir mati.
Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat. Gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum, dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum / perdarahan antepartum.
Setelah bayi lahir
Bayi premature (SMK)
Tampak luar dan tingkah bayi premature tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi premature ialah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500gram, panjang badan atau kurang sama dengan 45cm, lingkaran dada kurang dari 30cm, linkaran kepala kurang tau sama dengan 33cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. (prawiroharjo, 1999)
Kepala relative lebih besar dari dadanya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan banyak, sering tampak peristaltic usus. Tagnisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan sering timbul apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan dari 20 detik maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanent lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha dalam abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi. (prawiroharjo, 1999).
Refleks tonik-leher lemah dan refleks moro positif. G otot jarang akan tetapi lebih baik dari bayi cukup bulan. Daya isap lemah terutama pada hari-hari pertama. Bayi yang lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakan tangannya. Bila tanda-tanda lapar tersebut timbul dalam 96 jam, maka harus curiga akan adanya perdarahan intraventrikuler atau infeksi. Edema biasanya suka terlihat segera sesudah lahir dan makin bertambah jelas 24-28 jam berikutnya. Kulit mengkilat, licin, piting edema, dan ini dapat berpindah dengan antepartum, toksemia gravidarum dan diabetes mellitus. Frekwensi pernapasan 40-50 per menit. Pada hari-hari berikutnya 35-45 per menit. Bila frekwensi pernapasan terus meningkat dan selalu diatas 60 per menit, harus waspada terhadap sindroma gangguan pernapasan seperti membrane hialin, pneumonia, gangguan metabolic atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini harus dicari penyebabnya yaitu dengan membuat foto paru-paru-paru, pemeriksaan ultrasonografi dll. (Prawirohardjo, 1999)

Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, vemiks kaseosa sedikit/tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung atau rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan. (Prawirohardjo, 1999)

Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan penyesuaian hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pengaturan suhu
Bayi premature mudah dan cepat sekali terkena hipotermi bila berada dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kurang lemak coklat (brown fat). Untuk mencegah hipotermia, perlu diusahakan lingkungan yang hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat di incubator, maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 34, agar ia dapat mempertahankan suhunya sekitar 37. kelembaban incubator berkisar antara 50-60 persen. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakan botol-botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu di dekat tempat tidur bayi. Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan, kejang, dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan dapat dilakukan secepatnya. (Prawirohardjo, 1999)

Makanan Bayi
Pada bayi premature refleks isap, batuk dan telan belum sempurna, kapasitas lambung masih kurang. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung. Hal ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Makanan pada bayi diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. (Prawirohardjo, 1999)

Perawatan BBLR
Di Rumah Sakit
Cara penanganan bayi BBLR di rumah sakit tergantung kondisi masing-masing. Setelah dilahirkan bayi dengan BBLR akan segera diperiksa fungsi organ-organ tubuhnya terutama paru-paru-paru-paru dan jantung. Sebelum mencapai berat yang cukup, bayi BBLR memerlukan perawatan intensif dalam inkubator. Salah satu penyebabnya, bayi bertubuh kecil sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Oleh sebab itu, ia perlu masuk kotak kaca yang bisa diatur kestabilan suhunya. Kulit bayi-bayi kecil masih tipis sehingga dari tubuhnya mudah terjadi penguapan panas. Kalau penguapan panasnya berlebihan, bayi akan mengalami hipotermi atau temperatur badannya turun sangat rendah sehingga ia sangat mudah kehabisan tenaga. Pemberian alat bantu pernapasan juga dilakukan bila terdapat indikasi. Untuk indikasi ringan, bayi hanya akan diberi oksigen. Sebaliknya jika berat dapat sampai diberi ventilator atau alat bantu pernapasan. Infus juga akan diberikan untuk masukan cairan dan obat-obatan bila diperlulan. Bayi-bayi kecil biasanya belum mampu menghisap dengan baik karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Asi merupakan makanan utama dan terbaik untuk BBLR. Tidak ada patokan pasti untuk lama perawatan bayi BBLR di rumah sakit. Bayi dengan berat 1000 gram, misalnya memerlukan perawatan seksama dan bertahap sehingga bisa satu bulan lebih harus berada dalam inkubator. Lama perawatan lebih ditentukan oleh kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan, seperti tidak ada lagi gangguan pernapasan, suhu tubuh telah stabil dan bayi sudah punya repleks hisap dan menelan yang baik. Sebelum pulang, bayi sudah harus mampu minum sendiri dengan botol maupun dengan puting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badannya telah berkisar 10-30 gram/hari dan suhu tubuh tetap normal di ruangan biasa. Bayi juga tidak membutuhkan oksigen serta obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah atau infus. (Handayani, 2005)

Bayi harus dirawat bila:
Gangguan pernapasan. Salah satu sebabnya bayi menelan air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru-paru-paru dan mengganggu pernapasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR saja tapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya gangguan pernapasannya berkaitan dengan organ paru-paru-paru-paru yang belum matang.
Kasus-kasus berat seperti perdarahan otak, kelainan jantung, hipoglikemia (kadar gula rendah) dan lainnya.
Infeksi. Bayi bisa terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui placenta.
Kejang saat dilahirkan. Biasanya bayi akan dipantau dalam 1 x 24 jam untuk dicari penyebabnya. Misal apa karena ada infeksi sebelum lahir (prenatal), atau karena perdarahan intrakranial, atau karena vitamin B6 yang dikonsumsi ibu.
Apneu periodik (henti napas), kerap terjadi pada bayi BBLR karena prematuritas. Organ paru-paru-paru-paru dan susunan saraf pusat yang belum sempurna mengakibatkan kadang-kadang bayi berhenti nafas. Hal ini tentu memerlukan pemantauan dengan seksama.
Ikterus atau kuning. Jika terjadi di hari pertama dapat dipastikan ada kelainan pada bayi, seperti ketidak sesuaian golongan darah ibu dan bayi. Bila kuning terjadi setelah 5-7 hari sesudah bayi dilahirkan biasanya karena fungsi hati yang belum matang sehingga bayi belum bisa mengeluarkan bilirubin. Inilah yang disebut dengan kuning fisiologis.
Muntah, biasanya ada suatu kelainan di pencernaan bayi yang mungkin juga memerlukan tindakan bedah
Distensia abdomen, kelainan yang berkaitan dengan usus bayi. (Handayani, 2005)

Di rumah
Yang paling penting, orang tua terutama ibu secara fisik dan psikologis mesti mampu dan siap merawat bayinya di rumah. Kuasai cara memberi ASI dengan benar, cara memandikan, merawat tali pusat, mengganti popok, memberi ASI dan PASI, juga menjaga dan lingkungan yang optimal untuk tumbuh kembang bayi. Ibu harus percaya diri dan berani merawat bayinya sendiri, karena dari situlah akan terjadi kontak untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi. (Hanayani, 2005)
Ibu dapat merawat bayinya yang lahir 2000-2500 gram di rumah, dengan catatan:
Lahir spontan, aktif, menangis kuat, tidak ada kelainan bawaan, masa gestasi > 35 minggu, ditolong Bidan atau dukun terlatih.
Ibu akan merawat sendiri bayinya di rumah dan diawasi oleh bidan senior
ASI akan lebih terjamin penggunaannya hingga tumbuh kembang akan semakin cepat
Infeksi silang akan dapat dikurangi, tapi perlu diperhatikan:
Rumah dan lingkungan harus cukup bersih, ruang ibu dan bayi tidak bercampur dengan anggota lain, ventilasi cukup, tempat mandi bayi harus memadai
Ibu harus dapat menyusui, menganti popok, menidurkan bayi dan memberi kehangatan pada bayinya
Apabila bayi dalam keadaan gawat, ibu harus dapat mengetahui dan segera membawa bayi ke pelayanan kesehatan. (Handayani, 2005)
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua saat merawat bayi BBLR di rumah:

Perhatikan susu
Bayi kecil sangat rentan terhadap perubahan suhu. Jadi sebaiknya ruangan dijaga agar tetap hangat. Jangan lupa beri bayi selimut. Tapi selimut disini bukan berarti bedong yang diikat sedemikian rupa sehingga membuat bayi tidak bisa bergerak. Cara membedong seperti itu tidak disarankan karena malah akan menganggu motorik bayi.
Beri minum dengan porsi kecil tapi sering
Tujuannya agar ia dapat memperoleh asupan yang cukup dan aman. Penyerapan lambung bayi-bayi kecil ada yang teloransinya sudah sudah baik ada juga yang masih lambat. Inilah gunanya memberi porsi kecil tapi sering. Biasanya, setiap 1-2 jam sekali bayi perlu diberi susu.
Pemberian imunisasi
Pemberian imunisasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal imunisasi pada bayi yang lahir cukup bulan kecuali jika bayi masih dalam perawatan imunisasi diberikan setelah bayi pulang.
Lakukan banyak sentuhan
Salah satu yang bisa diterapkan adalah metode kanguru. Dengan cara ini, bayi sebisa dan sesering mungkin dibuat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Manfaatnya banyak sekali. Yang paling utama secara psikologis menjalin kasih sayang antara bayi dan orang tua.
Kegunaan lain: bisa mengurangi depresi dan ketegangan, sehingga bayi merasa aman dan terlindungi, membuat bayi dapat tidur dengan lelap, mengurangi rasa sakit, meningkatkan volume air susu ibu dan meningkatkan berat badan bayi. Jadi kalau bisa bayi dibawa kemana-mana seperti anak kanguru yang selalu menempel pada induknya.
Beri Vitamin
Biasanya vitamin diberikan untuk membantu pertumbuhan yang optimal pada bayi. (Handayani, 2005)

Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi berat lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal, seperti asfiksia, aspirasi pneunemonia, perdarahan intracranial, dan hipoglokemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ rendah, dan gangguan lainnya. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Kalaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika ia tumbuh dewasa kelak. Bayi yang lahir dengan BBLR memiliki risiko untuk mengalami hambatan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupannya. Lebih daripada itu, akibat status gizi yang rendah, bayi ini juga akan mudah mengalami penyakit infeksi dibanding bayi seumurnya yang lahir dengan berat badan normal. Apabila bayi mengalami penyakit infaksi seperti diare, maka kemungkinan penurunan berat badan dapat dengan mudah terjadi. Dapat diduga kemudian, bayi ini akan mempunyai berat badan yang sangat rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan yang berat. (Prawirohardjo, 1999)

BAB III
METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriktif kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan secara murni untuk mengadakan deskripsi tanpa melakukan analisis yang lebih mendalam dengan tujuan untuk menggambarkan variabel-variabel utama subjek studi (Notoatmodjo, 2005)
Penelitian ini dirancang dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek di observasi sekaligus pada waktu yang sama. (Notoatmodjo, 2005)

Kerangka Konsep
Angka BBLR masih cukup tinggi. Beberapa variabel mempengaruhi terjadinya BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan jumlah paritas. (Prawirohardjo, 2002)
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini ada pada bagian dibawah ini.












keterangan :

= variabel yang diteliti


= variabel yang tidak diteliti


Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian

Variabel penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Umur
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Paritas

Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala
1. BBLR Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir < 2500 gr (s.d. 2499 gr) Dokumentasi
(rekam medik) 1: ya
2: tidak Ordinal
2. Umur Lamanya seseorang hidup mulai dari lahir sampai pada saat dilakukan penelitian Dokumentasi
(rekam medik) 1: resiko tinggi (<20 thn dan >35 thn)
2: resiko rendah (20-35 thn) Ordinal
3. Pendidikan Proses pembelajaran yang didapat secara formal Dokumentasi
(rekam medik) 1: rendah (tamat SD)
2: sedang (tamat SMP dan SMA)
3: TINGGI (PT) Ordinal
4. Pekerjaan Semua upaya yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan upah dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan gizi. Dengan UMR thn 2005:
1. upah rendah = < 1 juta
2. upah tinggi = > 1 juta Dokumentasi
(rekam medik) 1: Bekerja
2: tidak bekerja Nominal
5. Paritas Jumlah persalinan yang telah dialami ibu bersalin Dokumentasi
(rekam medik) 1: 1 kali (primipara)
2: 2-4 kali (multipara
3: > 5 kali (grademultipara) Ordinal


Populasi dan sample
Polpulasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Notoatmodjo, 2005)
Populasi didalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di RSUD Kuningan tahu 2005 yaitu sebanyak-banyaknya 282 orang.

Sample
Arikunto (1998 : 117) mengatakan bahwa ?sample adalah bagian dari populasi sebagaian atau wakil dari populasi yang diteliti).
Sample dalam penelitian ini didapat dengan rumus:


N
n =
1 + N (d2)

= 282
1 + 282 (0,052)


= 282 = 165,39 (dibulatkan 165)
1 + 0,705
keterangan :

N = besar populasi
n = besar sample
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
(Notoatmodjo, 2005)
dari hasil perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 165 orang. Adapun pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling.

Pengumpulan dan pengolahan data
Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data sekunder. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menganalisa status ibu di Ruang Rekam Medik RSUD Kuningsn periode tahun 2005.

Pengolahan data
Dalam penelitian ini data telah terkumpul kemudian diolah melalui tahapan:
a. Editing, yaitu memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Hal ini bermaksud untuk merapihkan data agar bersih, rapih, dan tinggal mengadakan pengolahan lebih lanjut.
b. Koding, yaitu merubah data yang dikumpulkan kedalam bentuk yang lebih ringkas. Mengkode untuk masing-masing variabel terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya.
c. Scoring, yaitu menjumlahkan data
d. Processing, yaitu memindahkan data kedalam master tabel
e. Cleaning, yaitu pengecekan kembali data yang sudah dimasukan. Dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti dan menilai kelogisannya. (Notoatmodjo, 2005)

Analisa data
Dalam analisa data, penulis menggunakan analisa univariat yaitu dengan menggunakan analisis prosentasi untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi.

Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan perinatalogi dan rekam medik RSUD yang dilakukan pada bulan April 2006.

Jumat, 28 Agustus 2009

Cara buat blog

Langkah 1: Daftar Google
Daftarkan Diri Anda di Google
Lho koq? Koq di Google? Katanya mau ngajarin bikin blog di blogger.com, koq malah di Google? Tidak salah, karena untuk masuk ke blogger, Anda harus memiliki login google.com.

Silahkan kunjungi http://www.blogger.com. Anda akan mendapatkan halaman seperti pada gambar dibawah.

Jika Anda sudah memiliki login di Google, Anda tinggal login, maka Anda akan masuk ke Control Panel atau Panel Kontrol.

Oh ya, Anda bisa memilih bahasa, apakah Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Untuk kali ini saya anggap Anda belum memiliki login Google.

Klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA.

Sejauh ini sangat mudah dan akan terus mudah.

Halaman Pertama
Langkah 2: Daftar Blog
Lengkapi Pendaftaran Anda
Setelah Anda klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA, maka akan muncul formulir seperti yang ada pada gambar dibawah ini.

Proses ini akan menciptakan account Google yang dapat Anda gunakan pada layanan Google lainnya. Jika Anda sudah memiliki sebuah account Google mungkn dari Gmail, Google Groups, atau Orkut.

Satu account Google bisa digunakan untuk mengakses semua fasilitas yang disediakan oleh Google.

Jika Anda sudah memiliki accout google, Anda bisa langsung login (masuk). Untuk login ke Google, Anda harus login dengan menggunakan alamat email.

Silahkan lengkapi.

1. Alamat email yang Anda masukan harus sudah ada sebelumnya. Anda akan dikirim konfirmasi ke email tersebut. Jika Anda menggunakan email palsu atau email yang baru rencana akan dibuat, maka pendaftaran bisa gagal. Anda tidak perlu menggunakan email gmail.com. Email apa saja bisa.

2. Lengkapi data yang lainnya.

3. Tandai "Saya menerima Persyaratan dan Layanan" sebagai bukti bahwa Anda setuju. BTW Anda sudah membacanya?

Setelah lengkap, klik tanda panah yang bertuliskan lanjutkan.

Form Pendaftaran 1

Form Pendaftaran 2
Langkah 3: Membuat Blog
Memilih Nama Blog dan URL Blog
Jika Anda berhasil, Anda akan dibawa ke halaman seperti pada gambar dibawah. Jika gagal? Gagal biasanya karena verifikasi kata Anda salah. Itu wajar karena sering kali verifikasi kata sulit dibaca. Yang sabar saja, ulangi sampai benar. Saya sendiri sampai mengulang 3X.

Setelah Anda berhasil mendaftar, Anda akan dibawa ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah. Sekarang Anda mulai membuat blog dengan mengisi nama dan alamat blog Anda.



Jika Anda membuat lensa dengan tujuan mempromosikan produk Anda atau produk afiliasi, maka dalam memilih nama, harus berisi nama produk atau jasa yang akan Anda tawarkan. Misalnya jika Anda ingin menjual ebook saya, Anda bisa memilih kata kunci seperti motivasi, sukses, berpikir positif, dan kata-kata kunci lainnya yang sesuai.

Anda juga bisa meneliti kata kunci yang paling banyak dicari orang (tentu harus berhubungan dengan produk yang Anda jual) di
https://adwords.google.com/select/KeywordToolExternal

Anda bisa mengecek ketersediaan alamat blog yang Anda pilih. Jika tersedia bisa Anda lanjutkan. Jika tidak tersedia, maka Anda harus kreatif mencari nama lain atau memodifikasi alamat yang sudah ada, misalnya ditambahkan abc, xzy, 101, dan bisa juga dengan menyisipkan nama Anda.

Lanjutkan dengan klik tanda panah bertuliskan LANJUTKAN.

Proses Pembuatan Blog
Langkah ke 4 Blog Template
Pilih desain yang sesuai dengan selera Anda.
Berhasil? Tentu saja berhasil, memang mudah koq. Jika berhasil, Anda akan diarahkan ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah.

Pilihlah tema yang sesuai dengan selera Anda. Jika tidak ada yang sesui dengan selera Anda, jangan khawatir, nanti masih banyak pilihan tema yang bisa Anda install sendiri. Sekarang pilih saja tema agar proses pembuatan blog bisa diselesaikan. Anda bisa preview tema dengan klik gambarnya.

Untuk Memilih tema Anda klik (tandai) bulatannya o seperti pada gambar dibawah. Lihat yang saya tunjuk dengan panah merah buatan saya.

Setelah itu Anda klik tanda panah yang bertuliskan LANJUTKAN

Memilih Tema
Belajar Membuat Blog Selesai
Sekarang tinggal posting, pengaturan, dan tata letak
Selamat, sekarang Anda sudah memiliki sebuah blog. Sekarang Anda sudah mulai bisa memposting pemikiran Anda di blog dan dibagi ke seluruh dunia (eh Indonesia).

Memang masih ada beberapa hal yang harus Anda lakukan, yaitu pengaturan, tata letak, penambahan eleman, dan penggantian tema jika Anda menginginkan tema yang lain. Ini untuk tingkat lanjut.

Setidaknya, Anda sudah memiliki blog dan bisa posting. Hal ini sudah cukup untuk tahap awal. Untuk mendalami masalah Blog lebih dalam, saya anjurkan Anda membaca ebook Nge-Blog Dapat Duit.

Pada ebook tersebut, bukan hanya diajarkan cara nge-blog, tetapi juga bagaimana mendapatkan uang dari blog. Saya sendiri sudah membuktikannya, saya mendapatkan uang dari ngeblog. Jangan heran kalau saya rajin ngeblog.
Here's my favorite link:
Download Nge Blog Dapat Duit!

CARA BUAT FACEBOOK

Cara Daftar Facebook

Langkah Pertama: Buka alamat www.facebook.com, trus isi data kayak dibawah nie nihh,


Nama lengkap :------ (isi nama lengkapmu/terserah)
emailmu : ----- ( nie entar bwt login difacebook)
Password : ******* ( isi password)
I am : ---- ( pilih male/female)
Birthday : bulan - tgl - taon (isi dengan tanggal lahirmu)

Setelah selesai ngisi tuh data, langsung aja klik tombol Sign Up tuh yang warna ijo. Ntar kamu diminta untuk masukin 2 buah kata. kayak gini niehhh...


Setelah itu klik tombol sign up yang warna ijoo..udah gitu aja?? blom dunks, kamu diminta untuk verifikasi uktuk daftar facebook. cara verifikasinya. Buka email yang tadi kamu pakai untuk daftar facebook, trus buka isi email dari facebook and klik link yang dikasi buat verifikasi...

Langkah Kedua: Oke tuh tadi masih awal2 nya.. Setelah kamu melakukan verifikasi, nanti ada 4 step yang kita lakukan.
===|Step 1 : Konfirmasi teman di facebook berdasarkan daftar email yang ada pada email kamu atau bisa di Skip this step (langsung langkah selanjutnya)



===|Step 2 : kamu bisa masukkan email lain yang mungkin itu email temen kamu yang udah daftar di facebook, trus kamu mau menambahkannya jadi temenmu ato kamu bisa skip this step.



===|Step 3 : Mengisis data tentang sekolahmu, universitas, dan pekerjaan atau kamu bisa skip this step.

===|Step 4 : Facebook merekomendasikan beberapa orang yang mungkin kamu kenal dan bisa di add jadi temenmu atau kamu bisa Skip this step.

Trus isi kota tempat tinggal mu..



Langkah terakhir: Upload foto terkeren mu hehehheeee...

Selasa, 25 Agustus 2009

Ano Setiabudi

 
Posted by Picasa

PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA

PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA

1. Apa manfaat kapsul vitamin A untuk balita ?
? Menjaga kesehatan mata dan mencegah kebutaan
? Meningkatkan daya tahan tubuh
? Bila terkena diare, campak atau infeksi lain, maka penyakit tersebut tidak akam menjadi parah sehingga tidak membahayakan jiwa anak.

2. Kapan kapsul vitamin A diberikan ?
a. Secara periodik, untuk:
Anak balita 6 ? 59 bulan, diberikan 1 (satu0 kapsul secara serentak setiap bulan pebruari dan Agustus.
1) Umur 6-11 bulan:
Kapsul biru (100.000 SI)
2) Umur 12-59 bulan:
Kapsul merah (200.000 SI)

b. Pada kejadian tertentu
1) Bila ditemukan kasus xerophtalmia, campak, diare ISPA dan gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmik kwashiorkor).
Tindakan yang harus dilakukan adalah:
- Saat ditemukan :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Hari Berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Dua minggu berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur

2) Bila ada Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, pnemonia, diare, gizi buruk dan infeksi lain.
Kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberi satu kapsul vitamin A sesuai umur. Bila balita tersebut telah menerima kapsul vitamin A terakhir sebelum mencapai 30 hari pada saat kejadian KLB maka kepada balita tersebut tidak dianjurkan lagi untuk diberikan kapsul vitamin A.


3) Kejadian bencana alam
Seluruh balita di wilayah bencana alam/pengungsian diberi satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.

4) Sweeping
Sweeping adalah salah satu upaya untuk menjaring sasaran dalam meningkatkan pemberian kapsul vitamin A. Hal ini dilakukan bila masih terdapat sasaran yang belum mendapat kapsul vitamin A pada hari pemberian yang telah ditentukan dalam bentuk kunjungan rumah.

3. Dimana memperoleh kapsul vitamin A ?
? Posyandu
? Polindes (Bidan Desa)
? Puskesmas Pembantu (Pustu)
? Puskesmas
? Praktek swasta (Bidan, Rumah Bersalin, Klinik Bersalin, dll)
? Kelompok KIA

4. Bagaimana memberikan kapsul vitamin A kepada bayi dan anak balita ?
Gunting ujung kapsul, keluarkan isi kapsul dengan memencet kapsul sampai semua isinya masuk ke mulut anak.
5. Siapa yang memberikan kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita ?
? Petugas Kesehatan
? Bidan Desa
? Tokoh Masyarakat
? Kepala Desa
? Ketua RT?RW
? Kader
? Orang tua/Keluarga

download software

Entri Populer