MASALAH SISTEM ENDOKRIN
Oleh : CASMADI
AKADEMI KEPERAWATAN SAIFUDDIN ZUHRI INDRAMAYU
SISTEM ENDOKRIN
TERDIRI DARI KELENJAR-KELENJAR YG MENSINTESIS HORMON
HORMON ADALAH SUBSTANSI KIMIA YG DISEKRESIKAN KE DALAM CAIRAN TUBUH DAN DAPAT MEMPENGARUHI PENGATURAN FISIOLOGI SEL-SEL TUBUH LAIN
KLASIFIKASI :
BERDASARKAN SIFAT HORMON :
HORMON SETEMPAT
HORMON UMUM
BERDASARKAN KIMIAWI HORMON
HORMON STEROID
DERIVAT ASAM AMINO TIROSIN
PROTEIN / PEPTIDA
PENGATURAN SEKRESI HORMON
→ MEKANISME UMPAN BALIK NEGATIF
KEL. ENDOKRIN CENDERUNG MENSEKRESI HORMON SECARA >>>
EFEK PADA ORGAN TARGET ↑
ORGAN TARGET MELAKUKAN FUNGSINYA
BILA FUNGSI >>> →FAKTOR FUNGSI INI MRPK UMPAN BALIK (-)
MEKANISME UMPAN BALIK NEGATIF
HIPOTHALAMUS
I (-)
CRF
↓
HIPOFISE ANTERIOR
I (-)
ACTH
↓
ADRENAL → KONSENTRASI
CORTISOL PLASMA
RESEPTOR HORMOM
KEGIATAN HORMON TERJADI SETELAH HORMON BERIKATAN DG RESEPTOR
RESEPTOR HORMON ADALAH PROTEIN BERMOLEKUL BESAR
SETIAP SEL MEMPUNYAI 2000 – 10.000 RESEPTOR
SETIAP RESEPTOR BIASANYA SPESIFIK UNTUK 1 MACAM HORMON
LOKASI RESEPTOR
DI MEMBRAN SEL , UNTUK HORMON GOL. PROTEIN, PEPTIDA DAN KATEKOLAMIN
DI SITOPLASMA , UNTUK GOL. STEROID
DI INTISEL , UNTUK HORMON GOL. ASAM AMINO TYROSIN
MEKANISME KERJA HORMON
1) RESEPTOR PADA MEMBRAN SEL
MEMBRAN SEL
ATP 5 – AMP
Mg
FOSFODIESTERASE
3,5 CAMP + PPi
RESPON FISIOLOGIS
RESPON FISIOLOGIS
MENGAKTIFKAN ENZIM
MENGUBAH PERMIABILITAS MEMBRAN
MENYEBABKAN KONTRAKSI / RELAXASI OTOT
MENYEBABKAN SINTESIS PROTEIN
MENIMBULKAN SEKRESI
HORMON YG M’GUNAKAN MEKANISME C-AMP
ACTH
TSH
LH
FSH
VASOPRESSIN
PARATHYROID
GLUKAGON
KATEKOLAMIN
SEKRETIN
R H HIPOTHALAMUS
2) RESEPTOR DI SITOSOL
MEMBRAN SEL
INTI SEL
mRNA
PROTEIN SPESIFIK
+
RESPON FISIOLOGIS
RANGKAIAN KEGIATAN
H. STEROID MEMASUKI SITOPLASMA SEL, KMD BERIKATAN DG RESEPTOR
IKATAN H – R BERDIFUSI KE INTISEL
IKATAN H – R M’AKTIFKAN PROSES TRANSKRIPSI GEN GEN SPESIFIK U/. MEMBENTUK Mrna
mRNA BERDIFUSI KE SITOPLASMA ↑ PROSES TRANSKRIPSI DLM RIBOSOM U/ MEMBENTUK PROTEIN BARU
3) RESEPTOR DI INTRASEL
HORMON TIROKSIN / TRIIODOTIRONIN MEMASUKI SITOPLASMA → KE INTISEL, KMD BERIKATAN DG RESEPTOR
IKATAN H – R MENGAKTIFKAN MEKANISME GENETIK U/. MEMBENTUK BERBAGAI TIPE PROTEIN INTRASEL YG SEBAGIAN BESAR ENZIME U/. ↑ AKTIVITAS METABOLISME INTRASEL
DEGRADASI HORMON
PENGRUSAKKAN SECARA METABOLIK O/ JARINGAN
PENGIKATAN O/ JARINGAN
DIEKSKRESI O/ HATI → EMPEDU
DIEKSKRESI O/ GINJAL → URINE
PENGATURAN OLEH HIPOTHALAMUS
HIPOTHALAMUS
TRH HIPOFISE POSTERIOR
CRF
GHRH VASOPRESSIN (ADH)
LRH (GnRH) OXYTOSIN
PIF
HIPOFISE ANTERIOR ↑ TSH
THYROID ↑ ACTH
ADRENOCORT. ↑ GH
OVARIUM/ TESTIS ↑ LH, FSH
PAYUDARA ↓ PROLACTIN
MASALAH PADA SISTEM ENDOKRIN
GANGGUAN PRIMER YG MERUBAH KONSENTRASI HORMON
GANGGUAN PRIMER PADA RESEPTOR ( ∑ / AFINITAS NYA)
→ DIKENALI MELALUI AKTIVITAS
METABOLIK DARI HORMON YG TERLIBAT
→MASALAH YG TERJADI BERHUBUNGAN
DENGAN
(↑) HYPER
(↓) HYPO
1. MASALAH PADA KEL.HIPOFISE
HIPOFISE ANTERIOR
FUNGSI :
MENSEKRESI
ACTH
MSH
TSH
FSH & LH
GH
PROLACTIN
MASALAH YG BIASA TERJADI :
a. PANHIPOPITUITARISM
PADA ANAK-ANAK :
↓ GH → KEC. PERTUMBUHAN SANGAT
LAMBAT → TUBUH KERDIL (DWARFISM)
T’ ADA TANDA < THYROID DAN ADRENOCORTICAL
T’MENGALAMI PUBERTAS O.K. GONADOTROPIN DISEKRESI ≠~ DG KEBUTUHAN U/ PERTUMBUHAN FUNGSI SEXUAL DEWASA
PADA ORANG DEWASA
MANIFESTASI HIPOTHYROID, DEFISIENSI GLUKOCORTIKOID DAN REPRESSI H. GONADOTROPIN
HIPOTHYROID → ↓ METABOLISME → INDIVIDU LETHARGIC
↓ GH, ADRENOCORTIKOTROPIN, H.THYROID → BB↑ O.K.↓ MOBILISASI LEMAK, SERTA FUNGSI SEX HILANG
b. HIPERSEKRESI KEL. HIPOFISE ANT.
→↑ HORMON-2 YG DISEKRESI
↑GH → TUBUH TUMBUH PESAT
JIKA TERJADI SEBELUM EPIFISIS TL PANJANG BERSATU DG BTG TL → TUMBUH SPT RAKSASA (GIGANTISM)
↑ ACTH →↑GLUKOSA DLM DARAH →BEBAN PANCREAS ↑ → DEGENERASI P. LANGERHANS → DIABETES MELLITUS
O.K. SERINGKALI TERJADI AKIBAT TUMOR → TERUS TUMBUH → RUSAK → PANPITUITARISM.
JIKA TERJADI SETELAH TL PJG BERSATU DG EPIFISIS → TIDAK BERTAMBAH TINGGI TETAPI JARINGAN IKAT LONGGAR TERUS TUMBUH →
TULANG BERTAMBAH TEBAL → AKROMEGALI
PEMBESARAN DAPAT DILIHAT PADA
TL KECIL TANGAN / KAKI
TL MEMBRANOSA (TL TENGKORAK, TL HIDUNG, TL DAHI, TEPI SUPRAORBITA, TL BAWAH RAHANG
BAG. TL VERTEBRA → BUNGKUK (KIFOSIS)
PEMBESARAN JARINGAN LUNAK
c. HIPOSEKRESI KEL. HIPOFISE POST.
→ DIABETES INSIPIDUS
SEKRESI ADH↓ →↓ ABSORPSI AIR DI GINJAL →↑ EKSKRESI URINE →↓ JUMLAH CAIRAN TUBUH → DRHIDRASI
d. SIADH
↑ AKTIVITAS HIPOTHALAMUS (O.K. STRESS FISIK / PSIKOLOGIS) →↑ STIMULASI KE NEUROENDOKRIN →↑ HIPERSEKRESI ADH →↑ RETENSI AIR DI GINJAL → CAIRAN TUBUH >>>
2. MASALAH PADA KEL. THYROID
KEL. THYROID MENSEKRESI :
H. TIROKSIN
TRIIODOTIRONIN
CALSITONIN
KEL. THYROID TERDIRI DARI FOLIKEL-2 YG DIPENUHI OLEH BAHAN SEKRETORIK (KOLOID) DG UNSUR UTAMA GLIKOPROTEIN TIROGLOBULIN, DAN SEL EPITEL KUBOID
TIROGLOBULIN TERDIRI DARI 140 aa TIROKSIN
UNTUK MEMBENTUK HORMON TIROKSIN DAN TRIIODOTIRONIN DIPERLUKAN IODIUM
EFEK HORMON TIROKSIN/TRIIODOTIRONIN
↑ KECEPATAN METABOLISME (KEC. PADA OTAK, RETINA, LIMPA, TESTIS DAN PARU) →↑NAFSU MAKAN
PADA ANAK : MERANGSANG PERTUMBUHAN, KHUSUSNYA TUM-BANG OTAK SAAT JANIN – AWAL KEHIDUPAN (2TH)
↑ METAB. KH. LEMAK
↓ CHOLESTEROL PLASMA, FOSFOLIPID, DAN TRIGLICERIDA
↑ ENZIME → KEBUTUHAN VITAMIN ↑
↑ PENGGUNAAN O2 DAN SISA METABOLISME
↑ SEKRESI & MOTILITAS SAL. CERNA
↑ AKTIVITAS SARAF OTAK
a. HIPERTHYROID
↑ HORMON TIROKSIN / TRIIODOTIRONIN →
INTOLERANCE THD PANAS
BERKERINGAT BANYAK
↓ BB, DIARE
KELEMAHAN OTOT, NERVOUS, TREMOR
RASA LELAH, SULIT TIDUR
PROTUSI BOLA MATA (EXOPHTHALMUS) O.K PEMBENGKAKAN JAR. RETROORBITA & PERUBAHAN DEGENERATIF OTOT OCCULER → MATA MENONJOL, KELOPAK SULIT DITUTUP SEMPURNA → IRITASI → INFEKSI → ULKUS CORNEA
b. HYPOTHYROID
→ GOITER THYROID
TERDAPAT 2 JENIS
1) GOITER KOLOID ENDEMIK
< INTAKE IODIUM →↓PRODUKSI HORMON → SEKRESI TSH >>> → THYROID M’SEKRESI TIROGLOBULIN (KOLOID) KE DLM FOLIKEL → KELENJAR >>>
KARENA HORMON TETAP TAK TERBENTUK (T’ADA IODIUM) → TSH TETAP DISEKRESI →KERJA KEL. THYROID ↑ →↑ SEKRESI TIROGLOBULIN ……………….. DST
2) GOITER NON TOKSIK IDEOPATIK
MANIFESTASI KLINIS
DENYUT JANTUNG ↓, CURAH JANTUNG ↓
KELEMAHAN YG EKSTRIM
RASA LELAH, MENGANTUK →TIDUR 14 – 15 JAM/HARI
BB ↑, KONSTIPASI
KELAMBANAN MENTAL
PERTUMBUHAN RAMBUT <, KULIT BERSISIK
SUARA PARAU
TUBUH BENGKAK (MIXEDEMA) O.K. ↑ PROTEOGLIKAN YG BERKUMPUL DI INTERSTITIAL →↑ ABSORPSI AIR KE
INTERSTITIAL → EDEMA
PROTEOGLIKAN → GEL → EDEMA DAN TAK ADA PITTING EDEMA
↑ CHOLESTEROL, TRIGLICERIDA, →
↑ FAKTOR RESIKO :
ARTEROSCLEROSIS
ATHEROSCLEROSIS
3. MASALAH PADA KEL. ADRENAL
KEL. ADRENAL TERDIRI DARI 2 BAGIAN
1) MEDULLA
SECARA FUNGSIONAL BERHUBUNGAN DG SISTEM SARAF SIMPATIS
MENSEKRESI :
H. EPINEPHRIN
NOREPINEPHRIN
2) KORTEK (ADRENOKORTIKAL)
MENSEKRESI :
HORMON MINERALOKORTIKOID
HORMON GLUKOKORTIKOID
SEDIKIT H. ANDROGEN
HORMON-2 INI MERUPAKAN STEROID DAN DIBENTUK TERUTAMA DARI CHOLESTEROL
95% AKTIVITAS GLUKOKORTIKOID O/ KORTISOL
95% AKTIVITAS MINERALOKORTIKOID OLEH ALDOSTERON
FUNGSI ALDOSTERON
↑ SEKRESI K DAN H
↑ ABSORPSI Na
PENGATURAN SEKRESI ALDOSTERON :
BESARNYA KONSENTRASI ION KALIUM DALAM CAIRAN EKSTRA SEL
SISTEM RENIN – ANGIOTENSIN
KONSENTRASI Na PLASMA
ACTH
FUNGSI GLUKOKORTIKOID
↑ GLUKONEOGENESIS
↓ PENYIMPANAN PROTEIN DALAM SEL
↑ PROTEIN DALAM HATI DAN DARAH
↓ PENGANGKUTAN ASAM AMINO KE DLM SEL EKSTRAHEPATIK
↑ LIPOLISIS DAN MOBILISASI LEMAK
EFEK ANTIINFLAMASI DG :
STABILISASI MEMBRAN LISOSOM
↓ PERMIABILITAS KAPILER
↓ KEMAMPUAN FAGOSITOSIS LEUKOSIT
↓ ∑ LIMFOSIT
PENGATURAN SEKRESI:
SETIAP KEADAAN STRES → ↑ SEKRESI ACTH → ↑ SEKRESI HORMON ADRENOKORTIKAL
a. ALDOSTERONISME
TERJADI O.K. TUMOR PADA ZONA GLOMERULOSA → SEKRESI ALDOSTERON ↑
↑ ALDOSTERON →
↑ ABSORPSI Na DIIKUTI DG REABSORPSI H2O DAN Cl → VOL CAIRAN EXTRASEL ↑
↑ SEKRESI K → HIPOKALEMI
JIKA K PLASMA ↓ S.D. ½ / < → KELEMAHAN OTOT
↑ SEKRESI H → GANGGUAN ~ ASAM BASA (ALKALOSIS)
b. HIPOADRENALISME (ADDISON DISEASE)
HIPOGLUKOKORTIKOID
HIPOMINERALOKORTIKOID
→ MENGGANGGU MEKANISME RENIN-ANGIOTENSIN
DEFISIENSI ANDROGEN(PADA WANITA)
↓ PERTUMBUHAN RAMBUT PUBIS & AXILA
HIPERPIGMENTASI O.K ↓ KORTISOL → T’ ADA (-) FEED BACK MECHANISM KE HIPOTHAL.
→ ACTH ↑→ MSH ↑ → HIPERPIGMENTASI
c. HIPERSEKRESI GLUKOKORTICOID
(CUSHING SYNDROME)
→ HIPERGLIKEMIA
BILA TERJADI BER-BULAN2 → KERUSAKAN SEL β P.LANGERHANS → DM
↓ PROTEIN SELURUH TUBUH
→ OTOT LEMAH, ATROPI, PENIPISAN DINDING PEMB. DARAH → MUDAH PECAH → MEMAR
→ KULIT TIPIS, ATROPI, BILA LUKA SULIT SEMBUH, RUPTUR SELAPUT ELASTIS → STRIAE BERWARNA KEUNGUAN
→ TULANG JADI RAPUH → OSTEOPOROSIS → FRAKTUR PATOLOGIS
LEMAK >>> DILUAR KEBIASAAN O.K. ↑MOBILISASI LEMAK TAK SEIMBANG DG PENGGUNAAN
d. MASALAH PADA KEL.PANCREAS
PANCREAS MENSEKRESI :
INSULIN
GLUKAGON (PERUBAHANNYA TIDAK MENIMBULKAN MASALAH)
INSULIN BERFUNGSI :
MENGHAMBAT FOSFORILASE
↑ UPTAKE GLUKOSA OLEH SEL HATI, OTOT, DAN ADIPOSA
↑AKTIVITAS ENZIM U/ SINTESIS GLIKOGEN
↑ SINTESIS ASAM LEMAK & PENYIMPANANNYA PADA JAR. ADIPOSA
MENGHAMBAT KERJA LIPASE YG SENSITIF THD HORMON
↑ UPTAKE ASAM AMINO OLEH SEL
↑ TRANSLASI mRNA PADA RIBOSOM→ SINTESIS PROTEIN ↑
↑ TRANSKRIPSI DNA →∑ RNA BARU ↑→ PRODUKSI SEL BARU ↑
↓ KATABOLISME DG ↓ PELEPASAN ASAM AMINO DARI SEL OTOT
↓ KECEPATAN GLUKONEOGENESIS
PENGATURAN INSULIN
PERANGSANGAN
↑ GLUKOSA DARAH
↑ ASAM AMINO DARAH (ARGININ DAN LISIN)
HORMON PENCERNAAN (GASTRIN, SEKRETIN, CHOLESISTOKININ) DAN HORMON LAIN ( GH, KORTISOL, GLUKAGON, PROGESTERON, ESTROGEN)
PENGHAMBATAN :
↓ GLUKOSA DARAH
a. HIPOINSULIN
↓ ∑ INSULIN SECARA ABSOLUT / RELATIF
(INSULIN DEPENDENT DIABETES MLLITUS / IDDM)
↓ ∑ / AFINITAS RESEPTOR ( NON-INSULIN DEPENDENT DIABETES MELLITUS / NIDDM)
EFEK HIPOINSULIN
↑ GLUKOSA DARAH →OSMOLALITAS CES↑ → SHIFT CAIRAN DARI INTRASEL KE EKSTRASEL
VOL. CES↑ → GFR ↑
VOL. CIS↓(DEHIDRASI SEL) → RANGSANG KE HIPOTHALAMUS → HAUS → POLIDIPSI
↑ GFR → FILTRAT GLOMERULUS↑→ URINE ↑
KONSENTRASI GLUKOSA PADA FILTRAT ≥ 180 mg% → TERLEWATI AMBANG GINJAL THD GLUKOSA → OSMOLALITAS FILTRAT↑ → ABSORPSI H2O DI GINJAL ↓ → URINE YG TERBENTUK >>> (POLIURI)
↓ UPTAKE GLUKOSA OLEH SEL
→ SEL KELAPARAN→ STIMULASI KE HYPOTH. → LAPAR TERUS → POLIPHAGI
↓ PEMBENTUKAN ENERGI
SORBITOL (JALUR POLIOL: GLUKOSA – SORBITOL – FRUKTOSA)→ M’GANGGU KEGIATAN METABOLIK SEL SCHWANN → KERUSAKAN AKSON → KECEPATAN KONDUKSI MOTORIK ↓,NYERI,PARASTHESIA (BAAL / KESEMUTAN), ↓ SENSASI GETAR. PADA LENSA → KATARAK & KEBUTAAN
↑ SERUM FFA, SORBITOL, SERUM GLUKOSA → VISKOSITAS DARAH ↑ → HIPERTENSI, ATHEROSCLEROSIS, ARTERIOSCLEROSIS
↓ ∑ DAN KEMAMPUAN FAGOSITOSIS
→ TERJADI LUKA YANG SERINGKALI TAK DISADARI DAN SULIT SEMBUH
KOMPLIKASI
1) METABOLIK AKUT :
IDDM → KETOASIDOSIS
NIDDM → HYPERGLIKEMI HYPEROSMOLAR NON- KETOTIC AYIDOSIS
HIPOGLIKEMIA O.K. TH/ INSULIN
2) JANGKA PANJANG :
MICROANGIOPATHY
RETINOPATHY
DIABETIC NEPHROPATHY
DIABETIC NEUROPATHY
MACROANGIOPATHY :
ATHEROSCLEROSIS/ ARTERIOSCLEROSIS → RESIKO CAD, STROKE
selamat datang
selamat datangterimakasih atas kunjungan anda hari ini semoga dapat bermanfaat
Selasa, 06 Oktober 2009
Sabtu, 29 Agustus 2009
PENELITIAN KASUS BBLR
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dengan menggunakan indicator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). World Health Organization 9WHO) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan fenomena 2/3. fenomena itu terdiri dari, 2/3 kematian bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal). 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. (Komalasari, 2002)
Angka Kematian Bayi di Indonesia sebanyak 35 per 1000 kelahiran hidup yaitu hamper 5 kali lipat dibandingkan angka kematian bayi Malayasia, hamper 2 kali lipat dibandingkan dengan Thailand dan hampir 1,3 kalii lipat dibandingkan dengan Filipina. (Depkes RI, 2004). Adapun target cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2010 yaitu sebanyak 25 per 1000 kelahiran hidup. (Wardani, 2005).
Angka kematian bayi di Jawa Barat melebihi angka rata-rata kematian bayi nasional. Saat ini, angka rata-rata kematian bayi nasional sebanyak 36 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan Jawa Barat masih diatas rata-rata, dengan angka kematian bayi sebanyak 40 per 1000 kelahiran hidup. (Gsianturi, 2005).
Angka kematian bayi di Kabupaten Kuningan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari tahun 2000 Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak-banyaknya 169 per 1000 kelahiran hidup menjadi 76 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005. (Laporan Tahunan Dinkes Kabupaten Kuningan, 2005).
Pola penyakit penyebab kematian menujukan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal dini (kelompok umur o-7 hari) tertinggi adalah prematur dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudin asfiksia lahir (33,6%). Penyakit penyebab kematian neonatal lanjut (kelompok umur 8-28 hari) tertinggi adalah infeksi seberang 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), kemudian feeding problem (14,3%). (djaja, 2001).
Bayi berat lahir rendah (BBLR ) / Low Birtgweight Infant adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 Gram. Berat badan lahir rendah (bblr) dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 3 minggu) atau BBLR karena instrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. (Djaja, 2001).
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh faktor ibu dan faktor janin. Hal-hal yang mempengaruhi BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan (Toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis), karakteristik sosial ekonomi (pendidikan ibu yang rendah, pekerjaan ibu, status ekonomi rendah), biomedis ibu dan riwat persalinan diantaranya umur ibu (< 20 tahun dan > 35 tahun), paritas (primitara dan grandemultipara), keguguran/lahir mati mati dan pelayan antenatal (frekuen periksa hamil, tenaga periksa hamil, umur kandungan saat memeriksakan kehamilannya).
Adapun dari faktor janin BBLR disebabkan karena karena kehamilan ganda, hidramnion, kelainan kromosom, cacat bawaan, dan infeksi dalam kandungan. (prawiroharjo, 2002).
Menurut siti fadilah supari, jika bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5kg pada umur 40th (jika dapat mencapai usia itu ) akan menderita penyakit jantung, darah tinggi maupun diabetes. Dengan demikian setiap setiap tahun akan terdapat sekitar 400.000 calon-calon penderita pengakit degeneratif. (depkes, 2004).
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Walaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika dia tumbuh dewasa kelak. (Kumiasih, 2005).
Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan merupakan rumah sakit rujukan baik dari puskesmas maupun dari klinik swasta lain di daerah Kuningan. Pada tahun 2004 tercatat jumlah bayi yang lahir dengan berat badan rendah sebanyak-banyaknya 204 bayi dimana pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah BBLR yaitu sebanyak-banyaknya 282 bayi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui kejadian BBLR di RSUD Kuningan dengan menulis dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Gambaran Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan faktor ibu di RSUD Kuningan periode tahun 2005.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tingginya angka kejadian BBLR di RSUD periode tahun 2005.
Tujuan
Tujuan umum
Dapat mengetahui gambaran kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) BERDASARKAN FAKTOR IBU DI Ruang Perinatalogi RSUD Kuningan tahun 2005.
Tujuan khusus
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor umur ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pendidikan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pekerjaan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan jumlah paritas ibu
Manfaat Penelitian
bagi Penulis
sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh saat kuliah dan untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.
Bagi RSUD Kuningan
Diharapkan penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat memberikan informasi dan memberikan gambaran kepada RS mengenai kejadian BBLR.
Bagi Institusi Pendidikan
Dengan penelitian yang dilakukan diharapkan bermanfaat bagi pihak pendidikan sebagai bahan perbendaharaan bacaan di perpustakaan dan dapat dijadikan dasar pemikiran didalam penelitian lanjutan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badanya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan menjadi:
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat lahir 1500 ? 2500 gram;
Bayi Berat Sangat Lahir Rendah (BBLSR), yaitu berat lahir < 1500 gram;
Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER), yaitu berat lahir < 1000 gram.
Sejak tahun 1961 Wordl Health Organization (WHO) telah mengganti istilah premature baby dengan low weight baby (Bayi dengan Berat Lahir Rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature. Keadaan ini dapat disebabkan oleh:
Masalah kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur);
Bayi Small for Gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan = KMK);
Kedua-duanya.
Pembagian BBLR
Bayi Prematur (SMK)
Makin rendah masa gestasi dan maklin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi mortalitas dan morbilitasnya. Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan cara-cara yang kompleks serta menggunakan alat-alat yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya dapat diobati. Dengan demikian gejala sisa yang mungkin diderita dikemudian hari dapat dicegah atau dikurangi.
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam-macam problematika pada derajat prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok, yaitu:
Bayi yang sangat premature (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum.
Bayi pada derajat premature yang sedang (Moderately premature): 31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga sangat ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
Borderline premature, masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat yang premarure dan mature, akan tetapi timbul problematic seperti yang dialami bayi premature, misalnya sindroma gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.
Problematik bayi premature
Alat tubuh bayi premature belum berfungsi seperti bayi matur. Oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi premature.
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan sebagai berikut:
a. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh yang relativ lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru-paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita premature adalah penyakit membrane hialin dan aspirasi pneumonia. Disamping itu sering timbul pernapasan periodic dan apneu yang disebabkan oleh pusat pernafasan di medula belum matur.
c. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi: distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorpsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari spingter kardio-eosepagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitas isi lambung ke eosephagus dan mudah terjadi aspirasi.
d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
e. Ginjal yang imature baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik.
f. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile), kekurangan faktor pembekuan protombin, faktor VII.
g. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gama globulin. Bayi premature relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.
h. Perdarahan intraventriculer: lebih dari 50% bayi premature menderita perdarahan intraventriculer. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnue, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah. Penambahan darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia dilapisan germinal yang terdapat didasar ventrikel lateralis antara nucleus caudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventriculer ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan.
Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Setiap bayi baru lahir (premature, matur, dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas, dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.
Ada 2 bentuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu:
Propotionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah gestasi yang sebenarnya.
Disproportionate IUGR; terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi setelah beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala noarmal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi.
Problematik bayi KMK
Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan uterus didalam uterus. Dengan kata lain alat-alat tubuhnya sudah bertumbuh dengan lebih baik bila dibandingkan dengan bayi premature dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi KMK yang tidak premature lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian, harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik, diantaranya:
1. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Ini disebabkan distrass yang sering dialami bayi ini dalam persalinan.
2. Hipoglikemia terjadi terutama apabila pemberian minum pada bayi terlambat. Hipoglkemia ini terjadi karena disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi.
3. Keadaan lain yang mungkin terjadi: asfiksia, perdarahan paru yang massif, hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindron down, tumer dll).
Etiologi BBLR
Faktor Ibu
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis. Selain itu penyakit lain seperti nefritis acut, infeksi akut dll.
Usia
Usia wanita mempengaruhi kehamilan. Saat pertama hamil merupakan perubahan status dari perubahan seorang perempuan menjadi seorang ibu. Beberapa ahli mengatakan bahwa kehamilan adalah kondisi krisis yang dialami oleh perempuan tidak hanya gangguan pada psikologis namun juga adanya perubahan sense dan identitas pada diri perempuan. Pada perempuan dewasa, perubahan ini sama sekali tidak berhenti namun menjadi masalah yang cukup besar jika terjadi pada remaja. Lee dan Corpuz (1988) menemukan 14,5% dari bayi yang lahir dari ibu usia dibawah 15 tahun dan 9,4% dari ibu usia antara 15-19 tahun mengalami BBLR (Trad, 2002).
Resiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Resiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban kehamilan (Soelaeman, 2006). Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi lainnya adalah terjadinya keracunan kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak ari-ari (plasenta previa) yang dapat menyebabkan perdarahan selama persalinan. (Soelaeman, 2006).
Sebagian besar wanita yang berusia diatas 35 tahun mengalami kehamilan yang sehat dan dapat melahirkan bayi yang sehat pula. Namun beberapa penelitian semakin matang usia ibu dihadapkan pada kemungkinan terjadinya beberapa resiko tertentu. Resiko kehamilan yang akan dihadapi pada usia tua hampir mirip dengan kehamilan diusia muda hanya saja karena faktor kematangan fisik yang dimiliki maka ada beberapa resiko yang akan berkurang, misalnya menurunnya resiko cacat janin yang disebabkan asam folat. Resiko kelainan letak janin juga berkurang karena rahim ibu diusia ini sudah matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik. Bahaya yang mengancam justru berkaitan dengan organ reproduksi diatas usia 35 tahun yang sudah menurun sehingga bisa mengakibatkan perdarahan pada proses persalinan dan preeklamsia. Preeklamsia terjadi pada sekitar 5% wanita hamil, ditandai dengan tingginya tekanan darah, dan banyaknya protein serta cairan dalam urine. Para calon ibu yang terserang dapat mengalami gangguan ginjal dan hati, sementara jabang bayinya akan mengalami pertumbuhan yang lambat. (Soelaeman, 2006).
Pada wanita hamil usia 35 tahun atau lebih, kemungkinan dapat melahirkan bayi dengan BBLR, yaitu berat lahir bayi kurang dari 2500 gram, atau lahir premature (bayi lahir kurang dari 37 minggu kehamilan) (Suara Merdeka, 2002). Pada penelitian di Canada tahun 2002 ditemukan resiko ini sebesar 40% untuk BBLR dan 20% lahir premature. Resiko ini sering muncul, meskipun wanita hamil tersebut tidak memiliki masalah kesehatan kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (Suara Merdeka, 2003).
Paritas
Paritas wanita (woman parity) adalah rata-rata anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita usia subur yang pernah kawin pada tahun tertentu. Pola paritas wanita mengikuti huruf U terbalik, pada wanita usia muda (15-19 tahun) paritasnya relatif kecil. Paritas wanita mencapai puncaknya pada usia 25-29 tahun, kemudian mulai menurun kembali pada kelompok usia diatasnya (NKLD, 2002).
Anak yang dilahirkan hidup oleh wanita usia 15-19 tahun, relatif sedikit dibandingkan kelompok usia diatasnya. Hal ini disebabkan karena secara umum lamanya waktu wanita tersebut berbeda dalam ikatan perkawinan juga lebih pendek dibandingkan kelompok yang lebih tua, sehingga masa reproduksi yang dijalaninya juga relatif pendek. Usia 25-29 tahun adalah usia yang sangat aman untuk melahirkan baik dari segi fisik maupun psikis. Semakin tua umur wanita, tingkat kesuburan wanita pun akan semakin berkurang sehingga hanya sedikit dari mereka yang melahirkan. (NKLD, 2002)
Dalam istilah kebidanan, ada beberapa klasifikasi ibu berdasarkan paritas yaitu:
Nulipara, yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan seorang anak yang mampu hidup
Primipara, yaitu ibu yang telah melahirkan seorang anak
Multipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lebih dari seorang anak (2-4 kali)
Grandemultipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lima orang anak atau lebih.
Menurut Cuningham (2002) bahwa faktor predisposisi BBLR yang utama berdasarkan paritas adalah seorang ibu primipara. Katagori rawan hanya berlaku pada kehamilan anak pertama. Sedangkan pada kehamilan kedua dan ketiga, resiko akan menurun dengan sendirinya. Namun, bahaya akan kembali beresiko adalah kehamilan pada usia sebelum 18 tahun dan kehamilan diatas usia 35 tahun.
Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran penting bagi suatu bangsa karena pendidikan memiliki andil yang besar terhdap kemajuan bangsa, baik secara ekonomi maupun sosial. Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena pendidikan merupakan salah satu sarana meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Menurut Simanjuntak (1985:60), investasi dengan meningkatkan pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh orang yang meningkatkan pendidikan tersebut (private rate to retum) melainkan juga dinikmati oleh masyarakat luas (social rate retum). (Kompas, 2002)
Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara untuk memelihara kehamilannya. Semakin tinggi pendidikan, secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosialnya. Sebaliknya pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahun tentang kehamilan dan sering menjadi penyebab kurang gizi pada bayi. Selama masa intrauteruin, asupan nutrisi yang adekuat pada ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Dengan asupan nutrisi yang adekuat dari hari ke hari kehamilan ibu bertambah besar dan sejalan dengan itu, janin tumbuh dan berkembang sampai pada usia kehamilan yang matang maka janin siap dilahirkan dengan berat badan, panjang badan, dan pertumbuhan organ fisik lainnya yang normal. Sebaliknya, apabila ibu tidak mendapat asupan gizi yang adekuat, bayi dapat lahir dengan berat rendah. Pengatahuan maupun faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor utama seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). (Endang, 2004)
Suvei demografi di 40 negara (Engendering Development, Bank Dunia, 2001) yang memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi. Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar. Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu menyelesaikan pendidikan menegah tingkat pertama (Kompas, 2005)
Pekerjaan
Wanita hamil sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Salah satunya yaitu harus bekerja, padahal wanita hamil dianjurkan untuk banyak istirahat. Hal tersebut menyebabkan wanita kurang menjaga kesehatan selama hamil dan kurang memperhatikan asupan gizi yang benar. Jika asupan gizi saat hamil buruk, maka janin pun akan kekurangan nutrisi dalam perkembangannya dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Sehingga ibu yang bekerja lebih berpotensi berat badan lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. (Endang, 2004)
Pekerjaan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh terhadap akses informasi yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja (Depkes RI, 2004). Dilihat dari segi sosial ekonomi bagi sebagian anggota masyarakat yang mengalami krisis ekonomi atau dengan upah dan pendapatan yang kurang untuk pemeriksaan kehamilan merupakan beban berat, akibatnya mereka memilih untuk tidak memeriksakan kehamilannya sehingga ibu hamil tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, asupan gizi pun tidak diperhatikan. Kehidupan manusia dimulai sejak masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mengalami kurang gizi dan lahir dengan berat badan rendah yang mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap outcome kehamilan telah terdokumentasi dengan baik (Stein dan Susser, 1975). Masa paceklik di Belanda ?The Dutch Fainine? yang berlangsung pada tahun 1944-1945, telah membawa dampak yang cukup serius terhadap outcome kehamilan. Fenomena the Dutch Famine menunjukan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan 3) jatuh pada saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, dan berat plasenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi esensial lainnya. (Gsianturi, 2005)
Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berperan terhadap timbulnya kejadian BBLR. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah, hal ini disebabkan karena keadaan gizi ibu yang kurang baik menyebabkan asupan nutrisi yang disalurkan ke janin akan berkurang, senhingga pertumbuhan janin terhambat dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Selain itu pengawasan antenatal yang kurang sering terjadi pada golongan ekonomi rendah sehingga menyebabkan kurangnya pemantauan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. (endang, 2004).
Sebab lain
Faktor nutrisi, perokok, peminum alkohol, obat-obatan.
Faktor lanin
Kehamilan ganda
Hydramnion
kelainan kromosom
cacat bawaan
infeksi dalam kandungan (teksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes, sifilis ; TORCH )
diagnosis dan gejala klinik
sebelum lahir pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus, prematurus, dan lahir mati.
Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat. Gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum, dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum / perdarahan antepartum.
Setelah bayi lahir
Bayi premature (SMK)
Tampak luar dan tingkah bayi premature tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi premature ialah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500gram, panjang badan atau kurang sama dengan 45cm, lingkaran dada kurang dari 30cm, linkaran kepala kurang tau sama dengan 33cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. (prawiroharjo, 1999)
Kepala relative lebih besar dari dadanya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan banyak, sering tampak peristaltic usus. Tagnisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan sering timbul apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan dari 20 detik maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanent lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha dalam abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi. (prawiroharjo, 1999).
Refleks tonik-leher lemah dan refleks moro positif. G otot jarang akan tetapi lebih baik dari bayi cukup bulan. Daya isap lemah terutama pada hari-hari pertama. Bayi yang lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakan tangannya. Bila tanda-tanda lapar tersebut timbul dalam 96 jam, maka harus curiga akan adanya perdarahan intraventrikuler atau infeksi. Edema biasanya suka terlihat segera sesudah lahir dan makin bertambah jelas 24-28 jam berikutnya. Kulit mengkilat, licin, piting edema, dan ini dapat berpindah dengan antepartum, toksemia gravidarum dan diabetes mellitus. Frekwensi pernapasan 40-50 per menit. Pada hari-hari berikutnya 35-45 per menit. Bila frekwensi pernapasan terus meningkat dan selalu diatas 60 per menit, harus waspada terhadap sindroma gangguan pernapasan seperti membrane hialin, pneumonia, gangguan metabolic atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini harus dicari penyebabnya yaitu dengan membuat foto paru-paru-paru, pemeriksaan ultrasonografi dll. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, vemiks kaseosa sedikit/tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung atau rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan. (Prawirohardjo, 1999)
Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan penyesuaian hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pengaturan suhu
Bayi premature mudah dan cepat sekali terkena hipotermi bila berada dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kurang lemak coklat (brown fat). Untuk mencegah hipotermia, perlu diusahakan lingkungan yang hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat di incubator, maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 34, agar ia dapat mempertahankan suhunya sekitar 37. kelembaban incubator berkisar antara 50-60 persen. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakan botol-botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu di dekat tempat tidur bayi. Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan, kejang, dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan dapat dilakukan secepatnya. (Prawirohardjo, 1999)
Makanan Bayi
Pada bayi premature refleks isap, batuk dan telan belum sempurna, kapasitas lambung masih kurang. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung. Hal ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Makanan pada bayi diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. (Prawirohardjo, 1999)
Perawatan BBLR
Di Rumah Sakit
Cara penanganan bayi BBLR di rumah sakit tergantung kondisi masing-masing. Setelah dilahirkan bayi dengan BBLR akan segera diperiksa fungsi organ-organ tubuhnya terutama paru-paru-paru-paru dan jantung. Sebelum mencapai berat yang cukup, bayi BBLR memerlukan perawatan intensif dalam inkubator. Salah satu penyebabnya, bayi bertubuh kecil sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Oleh sebab itu, ia perlu masuk kotak kaca yang bisa diatur kestabilan suhunya. Kulit bayi-bayi kecil masih tipis sehingga dari tubuhnya mudah terjadi penguapan panas. Kalau penguapan panasnya berlebihan, bayi akan mengalami hipotermi atau temperatur badannya turun sangat rendah sehingga ia sangat mudah kehabisan tenaga. Pemberian alat bantu pernapasan juga dilakukan bila terdapat indikasi. Untuk indikasi ringan, bayi hanya akan diberi oksigen. Sebaliknya jika berat dapat sampai diberi ventilator atau alat bantu pernapasan. Infus juga akan diberikan untuk masukan cairan dan obat-obatan bila diperlulan. Bayi-bayi kecil biasanya belum mampu menghisap dengan baik karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Asi merupakan makanan utama dan terbaik untuk BBLR. Tidak ada patokan pasti untuk lama perawatan bayi BBLR di rumah sakit. Bayi dengan berat 1000 gram, misalnya memerlukan perawatan seksama dan bertahap sehingga bisa satu bulan lebih harus berada dalam inkubator. Lama perawatan lebih ditentukan oleh kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan, seperti tidak ada lagi gangguan pernapasan, suhu tubuh telah stabil dan bayi sudah punya repleks hisap dan menelan yang baik. Sebelum pulang, bayi sudah harus mampu minum sendiri dengan botol maupun dengan puting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badannya telah berkisar 10-30 gram/hari dan suhu tubuh tetap normal di ruangan biasa. Bayi juga tidak membutuhkan oksigen serta obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah atau infus. (Handayani, 2005)
Bayi harus dirawat bila:
Gangguan pernapasan. Salah satu sebabnya bayi menelan air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru-paru-paru dan mengganggu pernapasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR saja tapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya gangguan pernapasannya berkaitan dengan organ paru-paru-paru-paru yang belum matang.
Kasus-kasus berat seperti perdarahan otak, kelainan jantung, hipoglikemia (kadar gula rendah) dan lainnya.
Infeksi. Bayi bisa terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui placenta.
Kejang saat dilahirkan. Biasanya bayi akan dipantau dalam 1 x 24 jam untuk dicari penyebabnya. Misal apa karena ada infeksi sebelum lahir (prenatal), atau karena perdarahan intrakranial, atau karena vitamin B6 yang dikonsumsi ibu.
Apneu periodik (henti napas), kerap terjadi pada bayi BBLR karena prematuritas. Organ paru-paru-paru-paru dan susunan saraf pusat yang belum sempurna mengakibatkan kadang-kadang bayi berhenti nafas. Hal ini tentu memerlukan pemantauan dengan seksama.
Ikterus atau kuning. Jika terjadi di hari pertama dapat dipastikan ada kelainan pada bayi, seperti ketidak sesuaian golongan darah ibu dan bayi. Bila kuning terjadi setelah 5-7 hari sesudah bayi dilahirkan biasanya karena fungsi hati yang belum matang sehingga bayi belum bisa mengeluarkan bilirubin. Inilah yang disebut dengan kuning fisiologis.
Muntah, biasanya ada suatu kelainan di pencernaan bayi yang mungkin juga memerlukan tindakan bedah
Distensia abdomen, kelainan yang berkaitan dengan usus bayi. (Handayani, 2005)
Di rumah
Yang paling penting, orang tua terutama ibu secara fisik dan psikologis mesti mampu dan siap merawat bayinya di rumah. Kuasai cara memberi ASI dengan benar, cara memandikan, merawat tali pusat, mengganti popok, memberi ASI dan PASI, juga menjaga dan lingkungan yang optimal untuk tumbuh kembang bayi. Ibu harus percaya diri dan berani merawat bayinya sendiri, karena dari situlah akan terjadi kontak untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi. (Hanayani, 2005)
Ibu dapat merawat bayinya yang lahir 2000-2500 gram di rumah, dengan catatan:
Lahir spontan, aktif, menangis kuat, tidak ada kelainan bawaan, masa gestasi > 35 minggu, ditolong Bidan atau dukun terlatih.
Ibu akan merawat sendiri bayinya di rumah dan diawasi oleh bidan senior
ASI akan lebih terjamin penggunaannya hingga tumbuh kembang akan semakin cepat
Infeksi silang akan dapat dikurangi, tapi perlu diperhatikan:
Rumah dan lingkungan harus cukup bersih, ruang ibu dan bayi tidak bercampur dengan anggota lain, ventilasi cukup, tempat mandi bayi harus memadai
Ibu harus dapat menyusui, menganti popok, menidurkan bayi dan memberi kehangatan pada bayinya
Apabila bayi dalam keadaan gawat, ibu harus dapat mengetahui dan segera membawa bayi ke pelayanan kesehatan. (Handayani, 2005)
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua saat merawat bayi BBLR di rumah:
Perhatikan susu
Bayi kecil sangat rentan terhadap perubahan suhu. Jadi sebaiknya ruangan dijaga agar tetap hangat. Jangan lupa beri bayi selimut. Tapi selimut disini bukan berarti bedong yang diikat sedemikian rupa sehingga membuat bayi tidak bisa bergerak. Cara membedong seperti itu tidak disarankan karena malah akan menganggu motorik bayi.
Beri minum dengan porsi kecil tapi sering
Tujuannya agar ia dapat memperoleh asupan yang cukup dan aman. Penyerapan lambung bayi-bayi kecil ada yang teloransinya sudah sudah baik ada juga yang masih lambat. Inilah gunanya memberi porsi kecil tapi sering. Biasanya, setiap 1-2 jam sekali bayi perlu diberi susu.
Pemberian imunisasi
Pemberian imunisasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal imunisasi pada bayi yang lahir cukup bulan kecuali jika bayi masih dalam perawatan imunisasi diberikan setelah bayi pulang.
Lakukan banyak sentuhan
Salah satu yang bisa diterapkan adalah metode kanguru. Dengan cara ini, bayi sebisa dan sesering mungkin dibuat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Manfaatnya banyak sekali. Yang paling utama secara psikologis menjalin kasih sayang antara bayi dan orang tua.
Kegunaan lain: bisa mengurangi depresi dan ketegangan, sehingga bayi merasa aman dan terlindungi, membuat bayi dapat tidur dengan lelap, mengurangi rasa sakit, meningkatkan volume air susu ibu dan meningkatkan berat badan bayi. Jadi kalau bisa bayi dibawa kemana-mana seperti anak kanguru yang selalu menempel pada induknya.
Beri Vitamin
Biasanya vitamin diberikan untuk membantu pertumbuhan yang optimal pada bayi. (Handayani, 2005)
Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi berat lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal, seperti asfiksia, aspirasi pneunemonia, perdarahan intracranial, dan hipoglokemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ rendah, dan gangguan lainnya. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Kalaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika ia tumbuh dewasa kelak. Bayi yang lahir dengan BBLR memiliki risiko untuk mengalami hambatan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupannya. Lebih daripada itu, akibat status gizi yang rendah, bayi ini juga akan mudah mengalami penyakit infeksi dibanding bayi seumurnya yang lahir dengan berat badan normal. Apabila bayi mengalami penyakit infaksi seperti diare, maka kemungkinan penurunan berat badan dapat dengan mudah terjadi. Dapat diduga kemudian, bayi ini akan mempunyai berat badan yang sangat rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan yang berat. (Prawirohardjo, 1999)
BAB III
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriktif kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan secara murni untuk mengadakan deskripsi tanpa melakukan analisis yang lebih mendalam dengan tujuan untuk menggambarkan variabel-variabel utama subjek studi (Notoatmodjo, 2005)
Penelitian ini dirancang dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek di observasi sekaligus pada waktu yang sama. (Notoatmodjo, 2005)
Kerangka Konsep
Angka BBLR masih cukup tinggi. Beberapa variabel mempengaruhi terjadinya BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan jumlah paritas. (Prawirohardjo, 2002)
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini ada pada bagian dibawah ini.
keterangan :
= variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Variabel penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Umur
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Paritas
Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala
1. BBLR Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir < 2500 gr (s.d. 2499 gr) Dokumentasi
(rekam medik) 1: ya
2: tidak Ordinal
2. Umur Lamanya seseorang hidup mulai dari lahir sampai pada saat dilakukan penelitian Dokumentasi
(rekam medik) 1: resiko tinggi (<20 thn dan >35 thn)
2: resiko rendah (20-35 thn) Ordinal
3. Pendidikan Proses pembelajaran yang didapat secara formal Dokumentasi
(rekam medik) 1: rendah (tamat SD)
2: sedang (tamat SMP dan SMA)
3: TINGGI (PT) Ordinal
4. Pekerjaan Semua upaya yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan upah dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan gizi. Dengan UMR thn 2005:
1. upah rendah = < 1 juta
2. upah tinggi = > 1 juta Dokumentasi
(rekam medik) 1: Bekerja
2: tidak bekerja Nominal
5. Paritas Jumlah persalinan yang telah dialami ibu bersalin Dokumentasi
(rekam medik) 1: 1 kali (primipara)
2: 2-4 kali (multipara
3: > 5 kali (grademultipara) Ordinal
Populasi dan sample
Polpulasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Notoatmodjo, 2005)
Populasi didalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di RSUD Kuningan tahu 2005 yaitu sebanyak-banyaknya 282 orang.
Sample
Arikunto (1998 : 117) mengatakan bahwa ?sample adalah bagian dari populasi sebagaian atau wakil dari populasi yang diteliti).
Sample dalam penelitian ini didapat dengan rumus:
N
n =
1 + N (d2)
= 282
1 + 282 (0,052)
= 282 = 165,39 (dibulatkan 165)
1 + 0,705
keterangan :
N = besar populasi
n = besar sample
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
(Notoatmodjo, 2005)
dari hasil perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 165 orang. Adapun pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling.
Pengumpulan dan pengolahan data
Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data sekunder. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menganalisa status ibu di Ruang Rekam Medik RSUD Kuningsn periode tahun 2005.
Pengolahan data
Dalam penelitian ini data telah terkumpul kemudian diolah melalui tahapan:
a. Editing, yaitu memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Hal ini bermaksud untuk merapihkan data agar bersih, rapih, dan tinggal mengadakan pengolahan lebih lanjut.
b. Koding, yaitu merubah data yang dikumpulkan kedalam bentuk yang lebih ringkas. Mengkode untuk masing-masing variabel terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya.
c. Scoring, yaitu menjumlahkan data
d. Processing, yaitu memindahkan data kedalam master tabel
e. Cleaning, yaitu pengecekan kembali data yang sudah dimasukan. Dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti dan menilai kelogisannya. (Notoatmodjo, 2005)
Analisa data
Dalam analisa data, penulis menggunakan analisa univariat yaitu dengan menggunakan analisis prosentasi untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi.
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan perinatalogi dan rekam medik RSUD yang dilakukan pada bulan April 2006.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dengan menggunakan indicator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). World Health Organization 9WHO) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan fenomena 2/3. fenomena itu terdiri dari, 2/3 kematian bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal). 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. (Komalasari, 2002)
Angka Kematian Bayi di Indonesia sebanyak 35 per 1000 kelahiran hidup yaitu hamper 5 kali lipat dibandingkan angka kematian bayi Malayasia, hamper 2 kali lipat dibandingkan dengan Thailand dan hampir 1,3 kalii lipat dibandingkan dengan Filipina. (Depkes RI, 2004). Adapun target cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2010 yaitu sebanyak 25 per 1000 kelahiran hidup. (Wardani, 2005).
Angka kematian bayi di Jawa Barat melebihi angka rata-rata kematian bayi nasional. Saat ini, angka rata-rata kematian bayi nasional sebanyak 36 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan Jawa Barat masih diatas rata-rata, dengan angka kematian bayi sebanyak 40 per 1000 kelahiran hidup. (Gsianturi, 2005).
Angka kematian bayi di Kabupaten Kuningan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari tahun 2000 Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak-banyaknya 169 per 1000 kelahiran hidup menjadi 76 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005. (Laporan Tahunan Dinkes Kabupaten Kuningan, 2005).
Pola penyakit penyebab kematian menujukan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal dini (kelompok umur o-7 hari) tertinggi adalah prematur dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudin asfiksia lahir (33,6%). Penyakit penyebab kematian neonatal lanjut (kelompok umur 8-28 hari) tertinggi adalah infeksi seberang 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), kemudian feeding problem (14,3%). (djaja, 2001).
Bayi berat lahir rendah (BBLR ) / Low Birtgweight Infant adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 Gram. Berat badan lahir rendah (bblr) dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 3 minggu) atau BBLR karena instrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. (Djaja, 2001).
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh faktor ibu dan faktor janin. Hal-hal yang mempengaruhi BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan (Toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis), karakteristik sosial ekonomi (pendidikan ibu yang rendah, pekerjaan ibu, status ekonomi rendah), biomedis ibu dan riwat persalinan diantaranya umur ibu (< 20 tahun dan > 35 tahun), paritas (primitara dan grandemultipara), keguguran/lahir mati mati dan pelayan antenatal (frekuen periksa hamil, tenaga periksa hamil, umur kandungan saat memeriksakan kehamilannya).
Adapun dari faktor janin BBLR disebabkan karena karena kehamilan ganda, hidramnion, kelainan kromosom, cacat bawaan, dan infeksi dalam kandungan. (prawiroharjo, 2002).
Menurut siti fadilah supari, jika bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5kg pada umur 40th (jika dapat mencapai usia itu ) akan menderita penyakit jantung, darah tinggi maupun diabetes. Dengan demikian setiap setiap tahun akan terdapat sekitar 400.000 calon-calon penderita pengakit degeneratif. (depkes, 2004).
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Walaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika dia tumbuh dewasa kelak. (Kumiasih, 2005).
Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan merupakan rumah sakit rujukan baik dari puskesmas maupun dari klinik swasta lain di daerah Kuningan. Pada tahun 2004 tercatat jumlah bayi yang lahir dengan berat badan rendah sebanyak-banyaknya 204 bayi dimana pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah BBLR yaitu sebanyak-banyaknya 282 bayi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui kejadian BBLR di RSUD Kuningan dengan menulis dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Gambaran Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan faktor ibu di RSUD Kuningan periode tahun 2005.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah tingginya angka kejadian BBLR di RSUD periode tahun 2005.
Tujuan
Tujuan umum
Dapat mengetahui gambaran kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) BERDASARKAN FAKTOR IBU DI Ruang Perinatalogi RSUD Kuningan tahun 2005.
Tujuan khusus
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor umur ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pendidikan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan faktor pekerjaan ibu
Memperoleh gambaran tentang kejadian BBLR berdasarkan jumlah paritas ibu
Manfaat Penelitian
bagi Penulis
sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh saat kuliah dan untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.
Bagi RSUD Kuningan
Diharapkan penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat memberikan informasi dan memberikan gambaran kepada RS mengenai kejadian BBLR.
Bagi Institusi Pendidikan
Dengan penelitian yang dilakukan diharapkan bermanfaat bagi pihak pendidikan sebagai bahan perbendaharaan bacaan di perpustakaan dan dapat dijadikan dasar pemikiran didalam penelitian lanjutan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badanya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan menjadi:
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat lahir 1500 ? 2500 gram;
Bayi Berat Sangat Lahir Rendah (BBLSR), yaitu berat lahir < 1500 gram;
Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER), yaitu berat lahir < 1000 gram.
Sejak tahun 1961 Wordl Health Organization (WHO) telah mengganti istilah premature baby dengan low weight baby (Bayi dengan Berat Lahir Rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature. Keadaan ini dapat disebabkan oleh:
Masalah kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur);
Bayi Small for Gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan = KMK);
Kedua-duanya.
Pembagian BBLR
Bayi Prematur (SMK)
Makin rendah masa gestasi dan maklin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi mortalitas dan morbilitasnya. Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan cara-cara yang kompleks serta menggunakan alat-alat yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya dapat diobati. Dengan demikian gejala sisa yang mungkin diderita dikemudian hari dapat dicegah atau dikurangi.
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam-macam problematika pada derajat prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok, yaitu:
Bayi yang sangat premature (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum.
Bayi pada derajat premature yang sedang (Moderately premature): 31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga sangat ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
Borderline premature, masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat yang premarure dan mature, akan tetapi timbul problematic seperti yang dialami bayi premature, misalnya sindroma gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.
Problematik bayi premature
Alat tubuh bayi premature belum berfungsi seperti bayi matur. Oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi premature.
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan sebagai berikut:
a. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh yang relativ lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru-paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita premature adalah penyakit membrane hialin dan aspirasi pneumonia. Disamping itu sering timbul pernapasan periodic dan apneu yang disebabkan oleh pusat pernafasan di medula belum matur.
c. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi: distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorpsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari spingter kardio-eosepagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitas isi lambung ke eosephagus dan mudah terjadi aspirasi.
d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
e. Ginjal yang imature baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolik.
f. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile), kekurangan faktor pembekuan protombin, faktor VII.
g. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gama globulin. Bayi premature relative belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.
h. Perdarahan intraventriculer: lebih dari 50% bayi premature menderita perdarahan intraventriculer. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnue, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah. Penambahan darah ke otak akan lebih banyak karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia dilapisan germinal yang terdapat didasar ventrikel lateralis antara nucleus caudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventriculer ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan.
Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Setiap bayi baru lahir (premature, matur, dan postmatur) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas, dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.
Ada 2 bentuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu:
Propotionate IUGR: janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah gestasi yang sebenarnya.
Disproportionate IUGR; terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi setelah beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala noarmal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi.
Problematik bayi KMK
Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan uterus didalam uterus. Dengan kata lain alat-alat tubuhnya sudah bertumbuh dengan lebih baik bila dibandingkan dengan bayi premature dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi KMK yang tidak premature lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian, harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik, diantaranya:
1. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks. Ini disebabkan distrass yang sering dialami bayi ini dalam persalinan.
2. Hipoglikemia terjadi terutama apabila pemberian minum pada bayi terlambat. Hipoglkemia ini terjadi karena disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi.
3. Keadaan lain yang mungkin terjadi: asfiksia, perdarahan paru yang massif, hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindron down, tumer dll).
Etiologi BBLR
Faktor Ibu
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan fisiologis. Selain itu penyakit lain seperti nefritis acut, infeksi akut dll.
Usia
Usia wanita mempengaruhi kehamilan. Saat pertama hamil merupakan perubahan status dari perubahan seorang perempuan menjadi seorang ibu. Beberapa ahli mengatakan bahwa kehamilan adalah kondisi krisis yang dialami oleh perempuan tidak hanya gangguan pada psikologis namun juga adanya perubahan sense dan identitas pada diri perempuan. Pada perempuan dewasa, perubahan ini sama sekali tidak berhenti namun menjadi masalah yang cukup besar jika terjadi pada remaja. Lee dan Corpuz (1988) menemukan 14,5% dari bayi yang lahir dari ibu usia dibawah 15 tahun dan 9,4% dari ibu usia antara 15-19 tahun mengalami BBLR (Trad, 2002).
Resiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan baik. Resiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban kehamilan (Soelaeman, 2006). Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi lainnya adalah terjadinya keracunan kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak ari-ari (plasenta previa) yang dapat menyebabkan perdarahan selama persalinan. (Soelaeman, 2006).
Sebagian besar wanita yang berusia diatas 35 tahun mengalami kehamilan yang sehat dan dapat melahirkan bayi yang sehat pula. Namun beberapa penelitian semakin matang usia ibu dihadapkan pada kemungkinan terjadinya beberapa resiko tertentu. Resiko kehamilan yang akan dihadapi pada usia tua hampir mirip dengan kehamilan diusia muda hanya saja karena faktor kematangan fisik yang dimiliki maka ada beberapa resiko yang akan berkurang, misalnya menurunnya resiko cacat janin yang disebabkan asam folat. Resiko kelainan letak janin juga berkurang karena rahim ibu diusia ini sudah matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik. Bahaya yang mengancam justru berkaitan dengan organ reproduksi diatas usia 35 tahun yang sudah menurun sehingga bisa mengakibatkan perdarahan pada proses persalinan dan preeklamsia. Preeklamsia terjadi pada sekitar 5% wanita hamil, ditandai dengan tingginya tekanan darah, dan banyaknya protein serta cairan dalam urine. Para calon ibu yang terserang dapat mengalami gangguan ginjal dan hati, sementara jabang bayinya akan mengalami pertumbuhan yang lambat. (Soelaeman, 2006).
Pada wanita hamil usia 35 tahun atau lebih, kemungkinan dapat melahirkan bayi dengan BBLR, yaitu berat lahir bayi kurang dari 2500 gram, atau lahir premature (bayi lahir kurang dari 37 minggu kehamilan) (Suara Merdeka, 2002). Pada penelitian di Canada tahun 2002 ditemukan resiko ini sebesar 40% untuk BBLR dan 20% lahir premature. Resiko ini sering muncul, meskipun wanita hamil tersebut tidak memiliki masalah kesehatan kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (Suara Merdeka, 2003).
Paritas
Paritas wanita (woman parity) adalah rata-rata anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita usia subur yang pernah kawin pada tahun tertentu. Pola paritas wanita mengikuti huruf U terbalik, pada wanita usia muda (15-19 tahun) paritasnya relatif kecil. Paritas wanita mencapai puncaknya pada usia 25-29 tahun, kemudian mulai menurun kembali pada kelompok usia diatasnya (NKLD, 2002).
Anak yang dilahirkan hidup oleh wanita usia 15-19 tahun, relatif sedikit dibandingkan kelompok usia diatasnya. Hal ini disebabkan karena secara umum lamanya waktu wanita tersebut berbeda dalam ikatan perkawinan juga lebih pendek dibandingkan kelompok yang lebih tua, sehingga masa reproduksi yang dijalaninya juga relatif pendek. Usia 25-29 tahun adalah usia yang sangat aman untuk melahirkan baik dari segi fisik maupun psikis. Semakin tua umur wanita, tingkat kesuburan wanita pun akan semakin berkurang sehingga hanya sedikit dari mereka yang melahirkan. (NKLD, 2002)
Dalam istilah kebidanan, ada beberapa klasifikasi ibu berdasarkan paritas yaitu:
Nulipara, yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan seorang anak yang mampu hidup
Primipara, yaitu ibu yang telah melahirkan seorang anak
Multipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lebih dari seorang anak (2-4 kali)
Grandemultipara, yaitu ibu yang telah melahirkan lima orang anak atau lebih.
Menurut Cuningham (2002) bahwa faktor predisposisi BBLR yang utama berdasarkan paritas adalah seorang ibu primipara. Katagori rawan hanya berlaku pada kehamilan anak pertama. Sedangkan pada kehamilan kedua dan ketiga, resiko akan menurun dengan sendirinya. Namun, bahaya akan kembali beresiko adalah kehamilan pada usia sebelum 18 tahun dan kehamilan diatas usia 35 tahun.
Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran penting bagi suatu bangsa karena pendidikan memiliki andil yang besar terhdap kemajuan bangsa, baik secara ekonomi maupun sosial. Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena pendidikan merupakan salah satu sarana meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Menurut Simanjuntak (1985:60), investasi dengan meningkatkan pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh orang yang meningkatkan pendidikan tersebut (private rate to retum) melainkan juga dinikmati oleh masyarakat luas (social rate retum). (Kompas, 2002)
Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara untuk memelihara kehamilannya. Semakin tinggi pendidikan, secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosialnya. Sebaliknya pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahun tentang kehamilan dan sering menjadi penyebab kurang gizi pada bayi. Selama masa intrauteruin, asupan nutrisi yang adekuat pada ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Dengan asupan nutrisi yang adekuat dari hari ke hari kehamilan ibu bertambah besar dan sejalan dengan itu, janin tumbuh dan berkembang sampai pada usia kehamilan yang matang maka janin siap dilahirkan dengan berat badan, panjang badan, dan pertumbuhan organ fisik lainnya yang normal. Sebaliknya, apabila ibu tidak mendapat asupan gizi yang adekuat, bayi dapat lahir dengan berat rendah. Pengatahuan maupun faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor utama seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). (Endang, 2004)
Suvei demografi di 40 negara (Engendering Development, Bank Dunia, 2001) yang memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi. Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar. Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu menyelesaikan pendidikan menegah tingkat pertama (Kompas, 2005)
Pekerjaan
Wanita hamil sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Salah satunya yaitu harus bekerja, padahal wanita hamil dianjurkan untuk banyak istirahat. Hal tersebut menyebabkan wanita kurang menjaga kesehatan selama hamil dan kurang memperhatikan asupan gizi yang benar. Jika asupan gizi saat hamil buruk, maka janin pun akan kekurangan nutrisi dalam perkembangannya dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Sehingga ibu yang bekerja lebih berpotensi berat badan lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. (Endang, 2004)
Pekerjaan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh terhadap akses informasi yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja (Depkes RI, 2004). Dilihat dari segi sosial ekonomi bagi sebagian anggota masyarakat yang mengalami krisis ekonomi atau dengan upah dan pendapatan yang kurang untuk pemeriksaan kehamilan merupakan beban berat, akibatnya mereka memilih untuk tidak memeriksakan kehamilannya sehingga ibu hamil tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, asupan gizi pun tidak diperhatikan. Kehidupan manusia dimulai sejak masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mengalami kurang gizi dan lahir dengan berat badan rendah yang mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap outcome kehamilan telah terdokumentasi dengan baik (Stein dan Susser, 1975). Masa paceklik di Belanda ?The Dutch Fainine? yang berlangsung pada tahun 1944-1945, telah membawa dampak yang cukup serius terhadap outcome kehamilan. Fenomena the Dutch Famine menunjukan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan 3) jatuh pada saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, dan berat plasenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi esensial lainnya. (Gsianturi, 2005)
Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berperan terhadap timbulnya kejadian BBLR. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah, hal ini disebabkan karena keadaan gizi ibu yang kurang baik menyebabkan asupan nutrisi yang disalurkan ke janin akan berkurang, senhingga pertumbuhan janin terhambat dan menyebabkan bayi mengalami berat badan lahir rendah. Selain itu pengawasan antenatal yang kurang sering terjadi pada golongan ekonomi rendah sehingga menyebabkan kurangnya pemantauan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. (endang, 2004).
Sebab lain
Faktor nutrisi, perokok, peminum alkohol, obat-obatan.
Faktor lanin
Kehamilan ganda
Hydramnion
kelainan kromosom
cacat bawaan
infeksi dalam kandungan (teksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes, sifilis ; TORCH )
diagnosis dan gejala klinik
sebelum lahir pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus, prematurus, dan lahir mati.
Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat. Gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum, dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum / perdarahan antepartum.
Setelah bayi lahir
Bayi premature (SMK)
Tampak luar dan tingkah bayi premature tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi premature ialah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500gram, panjang badan atau kurang sama dengan 45cm, lingkaran dada kurang dari 30cm, linkaran kepala kurang tau sama dengan 33cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. (prawiroharjo, 1999)
Kepala relative lebih besar dari dadanya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan banyak, sering tampak peristaltic usus. Tagnisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan sering timbul apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan dari 20 detik maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanent lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha dalam abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi. (prawiroharjo, 1999).
Refleks tonik-leher lemah dan refleks moro positif. G otot jarang akan tetapi lebih baik dari bayi cukup bulan. Daya isap lemah terutama pada hari-hari pertama. Bayi yang lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakan tangannya. Bila tanda-tanda lapar tersebut timbul dalam 96 jam, maka harus curiga akan adanya perdarahan intraventrikuler atau infeksi. Edema biasanya suka terlihat segera sesudah lahir dan makin bertambah jelas 24-28 jam berikutnya. Kulit mengkilat, licin, piting edema, dan ini dapat berpindah dengan antepartum, toksemia gravidarum dan diabetes mellitus. Frekwensi pernapasan 40-50 per menit. Pada hari-hari berikutnya 35-45 per menit. Bila frekwensi pernapasan terus meningkat dan selalu diatas 60 per menit, harus waspada terhadap sindroma gangguan pernapasan seperti membrane hialin, pneumonia, gangguan metabolic atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini harus dicari penyebabnya yaitu dengan membuat foto paru-paru-paru, pemeriksaan ultrasonografi dll. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, vemiks kaseosa sedikit/tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung atau rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan. (Prawirohardjo, 1999)
Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan penyesuaian hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pengaturan suhu
Bayi premature mudah dan cepat sekali terkena hipotermi bila berada dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kurang lemak coklat (brown fat). Untuk mencegah hipotermia, perlu diusahakan lingkungan yang hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat di incubator, maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 34, agar ia dapat mempertahankan suhunya sekitar 37. kelembaban incubator berkisar antara 50-60 persen. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakan botol-botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu di dekat tempat tidur bayi. Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan, kejang, dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan dapat dilakukan secepatnya. (Prawirohardjo, 1999)
Makanan Bayi
Pada bayi premature refleks isap, batuk dan telan belum sempurna, kapasitas lambung masih kurang. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung. Hal ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Makanan pada bayi diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. (Prawirohardjo, 1999)
Perawatan BBLR
Di Rumah Sakit
Cara penanganan bayi BBLR di rumah sakit tergantung kondisi masing-masing. Setelah dilahirkan bayi dengan BBLR akan segera diperiksa fungsi organ-organ tubuhnya terutama paru-paru-paru-paru dan jantung. Sebelum mencapai berat yang cukup, bayi BBLR memerlukan perawatan intensif dalam inkubator. Salah satu penyebabnya, bayi bertubuh kecil sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Oleh sebab itu, ia perlu masuk kotak kaca yang bisa diatur kestabilan suhunya. Kulit bayi-bayi kecil masih tipis sehingga dari tubuhnya mudah terjadi penguapan panas. Kalau penguapan panasnya berlebihan, bayi akan mengalami hipotermi atau temperatur badannya turun sangat rendah sehingga ia sangat mudah kehabisan tenaga. Pemberian alat bantu pernapasan juga dilakukan bila terdapat indikasi. Untuk indikasi ringan, bayi hanya akan diberi oksigen. Sebaliknya jika berat dapat sampai diberi ventilator atau alat bantu pernapasan. Infus juga akan diberikan untuk masukan cairan dan obat-obatan bila diperlulan. Bayi-bayi kecil biasanya belum mampu menghisap dengan baik karena itu pemberian minumnya berupa ASI atau susu formula khusus untuk BBLR bila ASI ibu belum keluar dilakukan melalui pipa lambung dan diberikan secara bertahap sampai jumlah kebutuhannya terpenuhi. Asi merupakan makanan utama dan terbaik untuk BBLR. Tidak ada patokan pasti untuk lama perawatan bayi BBLR di rumah sakit. Bayi dengan berat 1000 gram, misalnya memerlukan perawatan seksama dan bertahap sehingga bisa satu bulan lebih harus berada dalam inkubator. Lama perawatan lebih ditentukan oleh kemampuan bayi beradaptasi dengan lingkungan, seperti tidak ada lagi gangguan pernapasan, suhu tubuh telah stabil dan bayi sudah punya repleks hisap dan menelan yang baik. Sebelum pulang, bayi sudah harus mampu minum sendiri dengan botol maupun dengan puting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badannya telah berkisar 10-30 gram/hari dan suhu tubuh tetap normal di ruangan biasa. Bayi juga tidak membutuhkan oksigen serta obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah atau infus. (Handayani, 2005)
Bayi harus dirawat bila:
Gangguan pernapasan. Salah satu sebabnya bayi menelan air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru-paru-paru dan mengganggu pernapasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR saja tapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya gangguan pernapasannya berkaitan dengan organ paru-paru-paru-paru yang belum matang.
Kasus-kasus berat seperti perdarahan otak, kelainan jantung, hipoglikemia (kadar gula rendah) dan lainnya.
Infeksi. Bayi bisa terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui placenta.
Kejang saat dilahirkan. Biasanya bayi akan dipantau dalam 1 x 24 jam untuk dicari penyebabnya. Misal apa karena ada infeksi sebelum lahir (prenatal), atau karena perdarahan intrakranial, atau karena vitamin B6 yang dikonsumsi ibu.
Apneu periodik (henti napas), kerap terjadi pada bayi BBLR karena prematuritas. Organ paru-paru-paru-paru dan susunan saraf pusat yang belum sempurna mengakibatkan kadang-kadang bayi berhenti nafas. Hal ini tentu memerlukan pemantauan dengan seksama.
Ikterus atau kuning. Jika terjadi di hari pertama dapat dipastikan ada kelainan pada bayi, seperti ketidak sesuaian golongan darah ibu dan bayi. Bila kuning terjadi setelah 5-7 hari sesudah bayi dilahirkan biasanya karena fungsi hati yang belum matang sehingga bayi belum bisa mengeluarkan bilirubin. Inilah yang disebut dengan kuning fisiologis.
Muntah, biasanya ada suatu kelainan di pencernaan bayi yang mungkin juga memerlukan tindakan bedah
Distensia abdomen, kelainan yang berkaitan dengan usus bayi. (Handayani, 2005)
Di rumah
Yang paling penting, orang tua terutama ibu secara fisik dan psikologis mesti mampu dan siap merawat bayinya di rumah. Kuasai cara memberi ASI dengan benar, cara memandikan, merawat tali pusat, mengganti popok, memberi ASI dan PASI, juga menjaga dan lingkungan yang optimal untuk tumbuh kembang bayi. Ibu harus percaya diri dan berani merawat bayinya sendiri, karena dari situlah akan terjadi kontak untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi. (Hanayani, 2005)
Ibu dapat merawat bayinya yang lahir 2000-2500 gram di rumah, dengan catatan:
Lahir spontan, aktif, menangis kuat, tidak ada kelainan bawaan, masa gestasi > 35 minggu, ditolong Bidan atau dukun terlatih.
Ibu akan merawat sendiri bayinya di rumah dan diawasi oleh bidan senior
ASI akan lebih terjamin penggunaannya hingga tumbuh kembang akan semakin cepat
Infeksi silang akan dapat dikurangi, tapi perlu diperhatikan:
Rumah dan lingkungan harus cukup bersih, ruang ibu dan bayi tidak bercampur dengan anggota lain, ventilasi cukup, tempat mandi bayi harus memadai
Ibu harus dapat menyusui, menganti popok, menidurkan bayi dan memberi kehangatan pada bayinya
Apabila bayi dalam keadaan gawat, ibu harus dapat mengetahui dan segera membawa bayi ke pelayanan kesehatan. (Handayani, 2005)
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua saat merawat bayi BBLR di rumah:
Perhatikan susu
Bayi kecil sangat rentan terhadap perubahan suhu. Jadi sebaiknya ruangan dijaga agar tetap hangat. Jangan lupa beri bayi selimut. Tapi selimut disini bukan berarti bedong yang diikat sedemikian rupa sehingga membuat bayi tidak bisa bergerak. Cara membedong seperti itu tidak disarankan karena malah akan menganggu motorik bayi.
Beri minum dengan porsi kecil tapi sering
Tujuannya agar ia dapat memperoleh asupan yang cukup dan aman. Penyerapan lambung bayi-bayi kecil ada yang teloransinya sudah sudah baik ada juga yang masih lambat. Inilah gunanya memberi porsi kecil tapi sering. Biasanya, setiap 1-2 jam sekali bayi perlu diberi susu.
Pemberian imunisasi
Pemberian imunisasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal imunisasi pada bayi yang lahir cukup bulan kecuali jika bayi masih dalam perawatan imunisasi diberikan setelah bayi pulang.
Lakukan banyak sentuhan
Salah satu yang bisa diterapkan adalah metode kanguru. Dengan cara ini, bayi sebisa dan sesering mungkin dibuat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Manfaatnya banyak sekali. Yang paling utama secara psikologis menjalin kasih sayang antara bayi dan orang tua.
Kegunaan lain: bisa mengurangi depresi dan ketegangan, sehingga bayi merasa aman dan terlindungi, membuat bayi dapat tidur dengan lelap, mengurangi rasa sakit, meningkatkan volume air susu ibu dan meningkatkan berat badan bayi. Jadi kalau bisa bayi dibawa kemana-mana seperti anak kanguru yang selalu menempel pada induknya.
Beri Vitamin
Biasanya vitamin diberikan untuk membantu pertumbuhan yang optimal pada bayi. (Handayani, 2005)
Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi berat lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal, seperti asfiksia, aspirasi pneunemonia, perdarahan intracranial, dan hipoglokemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ rendah, dan gangguan lainnya. (Prawirohardjo, 1999)
Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses pertumbuhannya. Kalaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika ia tumbuh dewasa kelak. Bayi yang lahir dengan BBLR memiliki risiko untuk mengalami hambatan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupannya. Lebih daripada itu, akibat status gizi yang rendah, bayi ini juga akan mudah mengalami penyakit infeksi dibanding bayi seumurnya yang lahir dengan berat badan normal. Apabila bayi mengalami penyakit infaksi seperti diare, maka kemungkinan penurunan berat badan dapat dengan mudah terjadi. Dapat diduga kemudian, bayi ini akan mempunyai berat badan yang sangat rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan yang berat. (Prawirohardjo, 1999)
BAB III
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriktif kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan secara murni untuk mengadakan deskripsi tanpa melakukan analisis yang lebih mendalam dengan tujuan untuk menggambarkan variabel-variabel utama subjek studi (Notoatmodjo, 2005)
Penelitian ini dirancang dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek di observasi sekaligus pada waktu yang sama. (Notoatmodjo, 2005)
Kerangka Konsep
Angka BBLR masih cukup tinggi. Beberapa variabel mempengaruhi terjadinya BBLR dilihat dari faktor ibu diantaranya umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan jumlah paritas. (Prawirohardjo, 2002)
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kerangka konsep penelitian ini ada pada bagian dibawah ini.
keterangan :
= variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Variabel penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Umur
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Paritas
Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala
1. BBLR Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir < 2500 gr (s.d. 2499 gr) Dokumentasi
(rekam medik) 1: ya
2: tidak Ordinal
2. Umur Lamanya seseorang hidup mulai dari lahir sampai pada saat dilakukan penelitian Dokumentasi
(rekam medik) 1: resiko tinggi (<20 thn dan >35 thn)
2: resiko rendah (20-35 thn) Ordinal
3. Pendidikan Proses pembelajaran yang didapat secara formal Dokumentasi
(rekam medik) 1: rendah (tamat SD)
2: sedang (tamat SMP dan SMA)
3: TINGGI (PT) Ordinal
4. Pekerjaan Semua upaya yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan upah dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan gizi. Dengan UMR thn 2005:
1. upah rendah = < 1 juta
2. upah tinggi = > 1 juta Dokumentasi
(rekam medik) 1: Bekerja
2: tidak bekerja Nominal
5. Paritas Jumlah persalinan yang telah dialami ibu bersalin Dokumentasi
(rekam medik) 1: 1 kali (primipara)
2: 2-4 kali (multipara
3: > 5 kali (grademultipara) Ordinal
Populasi dan sample
Polpulasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Notoatmodjo, 2005)
Populasi didalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di RSUD Kuningan tahu 2005 yaitu sebanyak-banyaknya 282 orang.
Sample
Arikunto (1998 : 117) mengatakan bahwa ?sample adalah bagian dari populasi sebagaian atau wakil dari populasi yang diteliti).
Sample dalam penelitian ini didapat dengan rumus:
N
n =
1 + N (d2)
= 282
1 + 282 (0,052)
= 282 = 165,39 (dibulatkan 165)
1 + 0,705
keterangan :
N = besar populasi
n = besar sample
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
(Notoatmodjo, 2005)
dari hasil perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 165 orang. Adapun pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling.
Pengumpulan dan pengolahan data
Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data sekunder. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menganalisa status ibu di Ruang Rekam Medik RSUD Kuningsn periode tahun 2005.
Pengolahan data
Dalam penelitian ini data telah terkumpul kemudian diolah melalui tahapan:
a. Editing, yaitu memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Hal ini bermaksud untuk merapihkan data agar bersih, rapih, dan tinggal mengadakan pengolahan lebih lanjut.
b. Koding, yaitu merubah data yang dikumpulkan kedalam bentuk yang lebih ringkas. Mengkode untuk masing-masing variabel terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya.
c. Scoring, yaitu menjumlahkan data
d. Processing, yaitu memindahkan data kedalam master tabel
e. Cleaning, yaitu pengecekan kembali data yang sudah dimasukan. Dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti dan menilai kelogisannya. (Notoatmodjo, 2005)
Analisa data
Dalam analisa data, penulis menggunakan analisa univariat yaitu dengan menggunakan analisis prosentasi untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi.
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan perinatalogi dan rekam medik RSUD yang dilakukan pada bulan April 2006.
Jumat, 28 Agustus 2009
Cara buat blog
Langkah 1: Daftar Google
Daftarkan Diri Anda di Google
Lho koq? Koq di Google? Katanya mau ngajarin bikin blog di blogger.com, koq malah di Google? Tidak salah, karena untuk masuk ke blogger, Anda harus memiliki login google.com.
Silahkan kunjungi http://www.blogger.com. Anda akan mendapatkan halaman seperti pada gambar dibawah.
Jika Anda sudah memiliki login di Google, Anda tinggal login, maka Anda akan masuk ke Control Panel atau Panel Kontrol.
Oh ya, Anda bisa memilih bahasa, apakah Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Untuk kali ini saya anggap Anda belum memiliki login Google.
Klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA.
Sejauh ini sangat mudah dan akan terus mudah.
Halaman Pertama
Langkah 2: Daftar Blog
Lengkapi Pendaftaran Anda
Setelah Anda klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA, maka akan muncul formulir seperti yang ada pada gambar dibawah ini.
Proses ini akan menciptakan account Google yang dapat Anda gunakan pada layanan Google lainnya. Jika Anda sudah memiliki sebuah account Google mungkn dari Gmail, Google Groups, atau Orkut.
Satu account Google bisa digunakan untuk mengakses semua fasilitas yang disediakan oleh Google.
Jika Anda sudah memiliki accout google, Anda bisa langsung login (masuk). Untuk login ke Google, Anda harus login dengan menggunakan alamat email.
Silahkan lengkapi.
1. Alamat email yang Anda masukan harus sudah ada sebelumnya. Anda akan dikirim konfirmasi ke email tersebut. Jika Anda menggunakan email palsu atau email yang baru rencana akan dibuat, maka pendaftaran bisa gagal. Anda tidak perlu menggunakan email gmail.com. Email apa saja bisa.
2. Lengkapi data yang lainnya.
3. Tandai "Saya menerima Persyaratan dan Layanan" sebagai bukti bahwa Anda setuju. BTW Anda sudah membacanya?
Setelah lengkap, klik tanda panah yang bertuliskan lanjutkan.
Form Pendaftaran 1
Form Pendaftaran 2
Langkah 3: Membuat Blog
Memilih Nama Blog dan URL Blog
Jika Anda berhasil, Anda akan dibawa ke halaman seperti pada gambar dibawah. Jika gagal? Gagal biasanya karena verifikasi kata Anda salah. Itu wajar karena sering kali verifikasi kata sulit dibaca. Yang sabar saja, ulangi sampai benar. Saya sendiri sampai mengulang 3X.
Setelah Anda berhasil mendaftar, Anda akan dibawa ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah. Sekarang Anda mulai membuat blog dengan mengisi nama dan alamat blog Anda.
Jika Anda membuat lensa dengan tujuan mempromosikan produk Anda atau produk afiliasi, maka dalam memilih nama, harus berisi nama produk atau jasa yang akan Anda tawarkan. Misalnya jika Anda ingin menjual ebook saya, Anda bisa memilih kata kunci seperti motivasi, sukses, berpikir positif, dan kata-kata kunci lainnya yang sesuai.
Anda juga bisa meneliti kata kunci yang paling banyak dicari orang (tentu harus berhubungan dengan produk yang Anda jual) di
https://adwords.google.com/select/KeywordToolExternal
Anda bisa mengecek ketersediaan alamat blog yang Anda pilih. Jika tersedia bisa Anda lanjutkan. Jika tidak tersedia, maka Anda harus kreatif mencari nama lain atau memodifikasi alamat yang sudah ada, misalnya ditambahkan abc, xzy, 101, dan bisa juga dengan menyisipkan nama Anda.
Lanjutkan dengan klik tanda panah bertuliskan LANJUTKAN.
Proses Pembuatan Blog
Langkah ke 4 Blog Template
Pilih desain yang sesuai dengan selera Anda.
Berhasil? Tentu saja berhasil, memang mudah koq. Jika berhasil, Anda akan diarahkan ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah.
Pilihlah tema yang sesuai dengan selera Anda. Jika tidak ada yang sesui dengan selera Anda, jangan khawatir, nanti masih banyak pilihan tema yang bisa Anda install sendiri. Sekarang pilih saja tema agar proses pembuatan blog bisa diselesaikan. Anda bisa preview tema dengan klik gambarnya.
Untuk Memilih tema Anda klik (tandai) bulatannya o seperti pada gambar dibawah. Lihat yang saya tunjuk dengan panah merah buatan saya.
Setelah itu Anda klik tanda panah yang bertuliskan LANJUTKAN
Memilih Tema
Belajar Membuat Blog Selesai
Sekarang tinggal posting, pengaturan, dan tata letak
Selamat, sekarang Anda sudah memiliki sebuah blog. Sekarang Anda sudah mulai bisa memposting pemikiran Anda di blog dan dibagi ke seluruh dunia (eh Indonesia).
Memang masih ada beberapa hal yang harus Anda lakukan, yaitu pengaturan, tata letak, penambahan eleman, dan penggantian tema jika Anda menginginkan tema yang lain. Ini untuk tingkat lanjut.
Setidaknya, Anda sudah memiliki blog dan bisa posting. Hal ini sudah cukup untuk tahap awal. Untuk mendalami masalah Blog lebih dalam, saya anjurkan Anda membaca ebook Nge-Blog Dapat Duit.
Pada ebook tersebut, bukan hanya diajarkan cara nge-blog, tetapi juga bagaimana mendapatkan uang dari blog. Saya sendiri sudah membuktikannya, saya mendapatkan uang dari ngeblog. Jangan heran kalau saya rajin ngeblog.
Here's my favorite link:
Download Nge Blog Dapat Duit!
Daftarkan Diri Anda di Google
Lho koq? Koq di Google? Katanya mau ngajarin bikin blog di blogger.com, koq malah di Google? Tidak salah, karena untuk masuk ke blogger, Anda harus memiliki login google.com.
Silahkan kunjungi http://www.blogger.com. Anda akan mendapatkan halaman seperti pada gambar dibawah.
Jika Anda sudah memiliki login di Google, Anda tinggal login, maka Anda akan masuk ke Control Panel atau Panel Kontrol.
Oh ya, Anda bisa memilih bahasa, apakah Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Untuk kali ini saya anggap Anda belum memiliki login Google.
Klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA.
Sejauh ini sangat mudah dan akan terus mudah.
Halaman Pertama
Langkah 2: Daftar Blog
Lengkapi Pendaftaran Anda
Setelah Anda klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA, maka akan muncul formulir seperti yang ada pada gambar dibawah ini.
Proses ini akan menciptakan account Google yang dapat Anda gunakan pada layanan Google lainnya. Jika Anda sudah memiliki sebuah account Google mungkn dari Gmail, Google Groups, atau Orkut.
Satu account Google bisa digunakan untuk mengakses semua fasilitas yang disediakan oleh Google.
Jika Anda sudah memiliki accout google, Anda bisa langsung login (masuk). Untuk login ke Google, Anda harus login dengan menggunakan alamat email.
Silahkan lengkapi.
1. Alamat email yang Anda masukan harus sudah ada sebelumnya. Anda akan dikirim konfirmasi ke email tersebut. Jika Anda menggunakan email palsu atau email yang baru rencana akan dibuat, maka pendaftaran bisa gagal. Anda tidak perlu menggunakan email gmail.com. Email apa saja bisa.
2. Lengkapi data yang lainnya.
3. Tandai "Saya menerima Persyaratan dan Layanan" sebagai bukti bahwa Anda setuju. BTW Anda sudah membacanya?
Setelah lengkap, klik tanda panah yang bertuliskan lanjutkan.
Form Pendaftaran 1
Form Pendaftaran 2
Langkah 3: Membuat Blog
Memilih Nama Blog dan URL Blog
Jika Anda berhasil, Anda akan dibawa ke halaman seperti pada gambar dibawah. Jika gagal? Gagal biasanya karena verifikasi kata Anda salah. Itu wajar karena sering kali verifikasi kata sulit dibaca. Yang sabar saja, ulangi sampai benar. Saya sendiri sampai mengulang 3X.
Setelah Anda berhasil mendaftar, Anda akan dibawa ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah. Sekarang Anda mulai membuat blog dengan mengisi nama dan alamat blog Anda.
Jika Anda membuat lensa dengan tujuan mempromosikan produk Anda atau produk afiliasi, maka dalam memilih nama, harus berisi nama produk atau jasa yang akan Anda tawarkan. Misalnya jika Anda ingin menjual ebook saya, Anda bisa memilih kata kunci seperti motivasi, sukses, berpikir positif, dan kata-kata kunci lainnya yang sesuai.
Anda juga bisa meneliti kata kunci yang paling banyak dicari orang (tentu harus berhubungan dengan produk yang Anda jual) di
https://adwords.google.com/select/KeywordToolExternal
Anda bisa mengecek ketersediaan alamat blog yang Anda pilih. Jika tersedia bisa Anda lanjutkan. Jika tidak tersedia, maka Anda harus kreatif mencari nama lain atau memodifikasi alamat yang sudah ada, misalnya ditambahkan abc, xzy, 101, dan bisa juga dengan menyisipkan nama Anda.
Lanjutkan dengan klik tanda panah bertuliskan LANJUTKAN.
Proses Pembuatan Blog
Langkah ke 4 Blog Template
Pilih desain yang sesuai dengan selera Anda.
Berhasil? Tentu saja berhasil, memang mudah koq. Jika berhasil, Anda akan diarahkan ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah.
Pilihlah tema yang sesuai dengan selera Anda. Jika tidak ada yang sesui dengan selera Anda, jangan khawatir, nanti masih banyak pilihan tema yang bisa Anda install sendiri. Sekarang pilih saja tema agar proses pembuatan blog bisa diselesaikan. Anda bisa preview tema dengan klik gambarnya.
Untuk Memilih tema Anda klik (tandai) bulatannya o seperti pada gambar dibawah. Lihat yang saya tunjuk dengan panah merah buatan saya.
Setelah itu Anda klik tanda panah yang bertuliskan LANJUTKAN
Memilih Tema
Belajar Membuat Blog Selesai
Sekarang tinggal posting, pengaturan, dan tata letak
Selamat, sekarang Anda sudah memiliki sebuah blog. Sekarang Anda sudah mulai bisa memposting pemikiran Anda di blog dan dibagi ke seluruh dunia (eh Indonesia).
Memang masih ada beberapa hal yang harus Anda lakukan, yaitu pengaturan, tata letak, penambahan eleman, dan penggantian tema jika Anda menginginkan tema yang lain. Ini untuk tingkat lanjut.
Setidaknya, Anda sudah memiliki blog dan bisa posting. Hal ini sudah cukup untuk tahap awal. Untuk mendalami masalah Blog lebih dalam, saya anjurkan Anda membaca ebook Nge-Blog Dapat Duit.
Pada ebook tersebut, bukan hanya diajarkan cara nge-blog, tetapi juga bagaimana mendapatkan uang dari blog. Saya sendiri sudah membuktikannya, saya mendapatkan uang dari ngeblog. Jangan heran kalau saya rajin ngeblog.
Here's my favorite link:
Download Nge Blog Dapat Duit!
CARA BUAT FACEBOOK
Cara Daftar Facebook
Langkah Pertama: Buka alamat www.facebook.com, trus isi data kayak dibawah nie nihh,
Nama lengkap :------ (isi nama lengkapmu/terserah)
emailmu : ----- ( nie entar bwt login difacebook)
Password : ******* ( isi password)
I am : ---- ( pilih male/female)
Birthday : bulan - tgl - taon (isi dengan tanggal lahirmu)
Setelah selesai ngisi tuh data, langsung aja klik tombol Sign Up tuh yang warna ijo. Ntar kamu diminta untuk masukin 2 buah kata. kayak gini niehhh...
Setelah itu klik tombol sign up yang warna ijoo..udah gitu aja?? blom dunks, kamu diminta untuk verifikasi uktuk daftar facebook. cara verifikasinya. Buka email yang tadi kamu pakai untuk daftar facebook, trus buka isi email dari facebook and klik link yang dikasi buat verifikasi...
Langkah Kedua: Oke tuh tadi masih awal2 nya.. Setelah kamu melakukan verifikasi, nanti ada 4 step yang kita lakukan.
===|Step 1 : Konfirmasi teman di facebook berdasarkan daftar email yang ada pada email kamu atau bisa di Skip this step (langsung langkah selanjutnya)
===|Step 2 : kamu bisa masukkan email lain yang mungkin itu email temen kamu yang udah daftar di facebook, trus kamu mau menambahkannya jadi temenmu ato kamu bisa skip this step.
===|Step 3 : Mengisis data tentang sekolahmu, universitas, dan pekerjaan atau kamu bisa skip this step.
===|Step 4 : Facebook merekomendasikan beberapa orang yang mungkin kamu kenal dan bisa di add jadi temenmu atau kamu bisa Skip this step.
Trus isi kota tempat tinggal mu..
Langkah terakhir: Upload foto terkeren mu hehehheeee...
Langkah Pertama: Buka alamat www.facebook.com, trus isi data kayak dibawah nie nihh,
Nama lengkap :------ (isi nama lengkapmu/terserah)
emailmu : ----- ( nie entar bwt login difacebook)
Password : ******* ( isi password)
I am : ---- ( pilih male/female)
Birthday : bulan - tgl - taon (isi dengan tanggal lahirmu)
Setelah selesai ngisi tuh data, langsung aja klik tombol Sign Up tuh yang warna ijo. Ntar kamu diminta untuk masukin 2 buah kata. kayak gini niehhh...
Setelah itu klik tombol sign up yang warna ijoo..udah gitu aja?? blom dunks, kamu diminta untuk verifikasi uktuk daftar facebook. cara verifikasinya. Buka email yang tadi kamu pakai untuk daftar facebook, trus buka isi email dari facebook and klik link yang dikasi buat verifikasi...
Langkah Kedua: Oke tuh tadi masih awal2 nya.. Setelah kamu melakukan verifikasi, nanti ada 4 step yang kita lakukan.
===|Step 1 : Konfirmasi teman di facebook berdasarkan daftar email yang ada pada email kamu atau bisa di Skip this step (langsung langkah selanjutnya)
===|Step 2 : kamu bisa masukkan email lain yang mungkin itu email temen kamu yang udah daftar di facebook, trus kamu mau menambahkannya jadi temenmu ato kamu bisa skip this step.
===|Step 3 : Mengisis data tentang sekolahmu, universitas, dan pekerjaan atau kamu bisa skip this step.
===|Step 4 : Facebook merekomendasikan beberapa orang yang mungkin kamu kenal dan bisa di add jadi temenmu atau kamu bisa Skip this step.
Trus isi kota tempat tinggal mu..
Langkah terakhir: Upload foto terkeren mu hehehheeee...
Selasa, 25 Agustus 2009
PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA
PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA
1. Apa manfaat kapsul vitamin A untuk balita ?
? Menjaga kesehatan mata dan mencegah kebutaan
? Meningkatkan daya tahan tubuh
? Bila terkena diare, campak atau infeksi lain, maka penyakit tersebut tidak akam menjadi parah sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
2. Kapan kapsul vitamin A diberikan ?
a. Secara periodik, untuk:
Anak balita 6 ? 59 bulan, diberikan 1 (satu0 kapsul secara serentak setiap bulan pebruari dan Agustus.
1) Umur 6-11 bulan:
Kapsul biru (100.000 SI)
2) Umur 12-59 bulan:
Kapsul merah (200.000 SI)
b. Pada kejadian tertentu
1) Bila ditemukan kasus xerophtalmia, campak, diare ISPA dan gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmik kwashiorkor).
Tindakan yang harus dilakukan adalah:
- Saat ditemukan :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Hari Berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Dua minggu berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
2) Bila ada Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, pnemonia, diare, gizi buruk dan infeksi lain.
Kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberi satu kapsul vitamin A sesuai umur. Bila balita tersebut telah menerima kapsul vitamin A terakhir sebelum mencapai 30 hari pada saat kejadian KLB maka kepada balita tersebut tidak dianjurkan lagi untuk diberikan kapsul vitamin A.
3) Kejadian bencana alam
Seluruh balita di wilayah bencana alam/pengungsian diberi satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.
4) Sweeping
Sweeping adalah salah satu upaya untuk menjaring sasaran dalam meningkatkan pemberian kapsul vitamin A. Hal ini dilakukan bila masih terdapat sasaran yang belum mendapat kapsul vitamin A pada hari pemberian yang telah ditentukan dalam bentuk kunjungan rumah.
3. Dimana memperoleh kapsul vitamin A ?
? Posyandu
? Polindes (Bidan Desa)
? Puskesmas Pembantu (Pustu)
? Puskesmas
? Praktek swasta (Bidan, Rumah Bersalin, Klinik Bersalin, dll)
? Kelompok KIA
4. Bagaimana memberikan kapsul vitamin A kepada bayi dan anak balita ?
Gunting ujung kapsul, keluarkan isi kapsul dengan memencet kapsul sampai semua isinya masuk ke mulut anak.
5. Siapa yang memberikan kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita ?
? Petugas Kesehatan
? Bidan Desa
? Tokoh Masyarakat
? Kepala Desa
? Ketua RT?RW
? Kader
? Orang tua/Keluarga
1. Apa manfaat kapsul vitamin A untuk balita ?
? Menjaga kesehatan mata dan mencegah kebutaan
? Meningkatkan daya tahan tubuh
? Bila terkena diare, campak atau infeksi lain, maka penyakit tersebut tidak akam menjadi parah sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
2. Kapan kapsul vitamin A diberikan ?
a. Secara periodik, untuk:
Anak balita 6 ? 59 bulan, diberikan 1 (satu0 kapsul secara serentak setiap bulan pebruari dan Agustus.
1) Umur 6-11 bulan:
Kapsul biru (100.000 SI)
2) Umur 12-59 bulan:
Kapsul merah (200.000 SI)
b. Pada kejadian tertentu
1) Bila ditemukan kasus xerophtalmia, campak, diare ISPA dan gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmik kwashiorkor).
Tindakan yang harus dilakukan adalah:
- Saat ditemukan :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Hari Berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
- Dua minggu berikutnya :
Berikan 1 (satu) kapsul vitamin A warna merah atau biru sesuai umur
2) Bila ada Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, pnemonia, diare, gizi buruk dan infeksi lain.
Kepada seluruh balita di wilayah tersebut diberi satu kapsul vitamin A sesuai umur. Bila balita tersebut telah menerima kapsul vitamin A terakhir sebelum mencapai 30 hari pada saat kejadian KLB maka kepada balita tersebut tidak dianjurkan lagi untuk diberikan kapsul vitamin A.
3) Kejadian bencana alam
Seluruh balita di wilayah bencana alam/pengungsian diberi satu kapsul vitamin A dengan dosis sesuai umur.
4) Sweeping
Sweeping adalah salah satu upaya untuk menjaring sasaran dalam meningkatkan pemberian kapsul vitamin A. Hal ini dilakukan bila masih terdapat sasaran yang belum mendapat kapsul vitamin A pada hari pemberian yang telah ditentukan dalam bentuk kunjungan rumah.
3. Dimana memperoleh kapsul vitamin A ?
? Posyandu
? Polindes (Bidan Desa)
? Puskesmas Pembantu (Pustu)
? Puskesmas
? Praktek swasta (Bidan, Rumah Bersalin, Klinik Bersalin, dll)
? Kelompok KIA
4. Bagaimana memberikan kapsul vitamin A kepada bayi dan anak balita ?
Gunting ujung kapsul, keluarkan isi kapsul dengan memencet kapsul sampai semua isinya masuk ke mulut anak.
5. Siapa yang memberikan kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita ?
? Petugas Kesehatan
? Bidan Desa
? Tokoh Masyarakat
? Kepala Desa
? Ketua RT?RW
? Kader
? Orang tua/Keluarga
Sabtu, 15 Agustus 2009
Sistim Endokrin
Sistim endokrin
Pengertian
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati dutus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone.
Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu macam hormone (hormone tunggal) disamping itu juga ada yang menghasilkan lebih dasi satu macam hormone atau hormone ganda misalnya kelenjar hopofise sebagai pengatur kelenjar yang lain.
Fungsi kelenjar endokrin
1. menghasilkan hormone-hormon yang dialirkan kedalam darah yang diperlukan oleh jaringan-jaringan dalam tubuh tertentu
2. mengontrol aktifitas kelenjar tubuh
3. merangsang kelenjar tubuh
4. merangsang pertumbuhan jaringan
5. mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorpsi glukosa pada usus halus
6. mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral dan air
pembagian di dalam tubuh
kelenjar hipofise
suatu kelenjar endokrin yang terletak didsar tengkorak yang memegang peranan penting dalam sekresi hormon dan semua organ-organ endokrin.
Dapat dikatakan sebagai kelenjar pemimpin sebab hormon-hormon yang dihasilkannya dapat mempengaruhi pekerjaan kelenjar lainnya. Kelenjar hipofise terdiri dari 2 lobus.
Lobus anterior (adenohipofise). Menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organ endokrin yang lain.
1. hormon somatotropik, mengendalikan pertumbuhan tubuh.
2. hormon tirotropik, mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon tiroksin.
3. hormon adrenokotropik (ACTH), mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasal dari korteks kelenjar suprarenal.
4. hormon gonadotropik berasal dari follicle stimulanting hormone (FSH) yang merangsang perkembangan folikel degraf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis.
5. luteinizing hormone (LH), mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis. Interstitial cell stimulating hormone (ICSH)
lobus posterior disebut juga Neurohipofise. Mengeluarkan 2 jenis hormon;
1. hormon anti dieretik (ADH), mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal membuat kontraksi otot polos ADH disebut juga hormon pituitrin.
2. hormon oksitoksin merangsang dan mengeluarkan kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui. Kelenjar hipofise terletak di dasar tengkorak, di dalam fosa hipofise tulang spenoid.
Kelenjar tiriod
Trdiri atas 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari trakea diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring.
Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tirioid ini dapat memproduksi hormon tiroksin.
Adapun fungsi dari hormon tiroksin; mengatur pertukaran zat/metabolisme dalam tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat yaitu; koloidae tiroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormon tiroksin.
Sekresi ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah baik langsung maupun melalui saluran limfe.
Fungsi kelenjar tirioid, terdiri dari;
1. bekerja sebagai perangsang proses oksidasi.
2. mengatur penggunaan oksidasi
3. mengatur pengeluaran karbondioksida
4. metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
5. pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Hipofungsi dapat menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit miksedema.
Hiperfungsi menyebabkan penyakit eksotalmikgoiter. Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar hipofise yaitu hormon tirotropik.
Fungsi kelenjar tiroid sangat erat bertalian dengan kegiatan metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dan bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksigen dan mengatur pengeluaran karbodioksida.
Hiposekresi hipotiroidisme. Bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan sekret pada waktu bayi mengakibatkan suatu keadaan yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik, pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksedema proses metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk bertambah berat, gerakannya lambat, cara berfikir dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan keringat, rambut rontok, suhu badan dibawah normal dan denyut nadi perlahan.
Hipersekresi penambahan sekresi kelenjar tiroid disebut hipertiroid dimana semua gejalanya merupakan kebalikan dari miksedema yaitu; kecepatan metabolisme meningkat suhu tubuh tinggi, berat badan turun, gelisah, mudah marah, denyut nadi naik.
Vaskuler mencakup fibrilasi atrium kegagalan jantung pada keadaan yang dikenal sebagai penyakit trauma atau gondok eksoptalmus, mata menonjol keluar, efek ini disebabkan terlampau aktifnya hormon tiroid, ada kalanya tidak hilang dengan pengobatan.
Kelenjar paratiroid
Terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher, kelenjar ini berjumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan para hormon atau hormon para tiroksin. Kelenjar paratiroid berjumlah 4 buah.
Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor didalam tubuh.
Hipoparatiroidisme. Terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipokalsemia mengakibatkan keadaan yang disebut tetani, dengan gejala khas kejang khususnya pada tangan dan kaki disebut karpopedal spasmus, gejala-gejala ini dapat diiringi dengan pemberian kalsium.
Hiperparatiroidisme. Biasanya ada sangkut pautnya dengan pembesaran (tumor) kelenjar. Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium dikeluarkan kembali dari tulang dan dimasukan kembali ke serum darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda khas beberapa bagian kropos, disebut osteomelitis fibrosa sistika karena terbentuk kristal pada tulang, kalsiumnya diedarkan di dalam ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal.
Fungsi paratiroid;
1. mengatur metabolisme fospor,
2. mengatur kadar kalsium darah.
Hipofungsi, mengakibatkan penyakit tetani. Hiperfungsi, mengakibatkan kelainan-kelainan seperti; kelemahan pada otot-otot, sakit pada tulang, kadar kalsium dalam darah meningkat begitu juga dalam urine, dekolsifikasi dan deformitas, dapat juga terjadi patah tulang spontan.
Kelainan-kelainan di atas dapat juga terjadi pada kelenjar paratiroid.
Kelenjar timus
Terletak di dalam mediastinum di belakan os sternum, kelenjar timus hanya dijumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun.
Kelenjar timus terletak di dalam toraks kira-kira setinggi bifurkasi trakea, warnanya kemerah-merahan dan tersiri atas 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram atau lebih sedikit. Ukurannya bertambah pada masa remaja dari 30-40 gram kemudian berikut lagi.
Adapun hormon yang dihasilkan kelenjar timus berfungsi sebagai berikut:
1. mengaktifkan pertumbuhan badan.
2. mengurangi aktifitas kelenjar kelamin.
Kelenjar supra renalis/adrenal
Kelenjar suprarenal jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Unya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram. Kelenjar suprarenal ini terbagi atas 2 bagian yaitu;
1. bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol yang disebut korteks.
2. bagian medula yang menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan nor arenalin (nor epinefrin).
Zat-zat tadi disekresikan dibawah pengendalian sistem persyarapan simpatis. Sekresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut serta dalam keadaan asfiksia dan kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikan tekanan darah guna melawan shok.
Noradrenalin menaikan tekanan darah dengan jalan merangsang serabut otot didalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati.
Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh korteks adrenal adalah; hidrokortison, aldosteron dan kortikosteron. Semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal dan kondisi otot.
Pada insufiesiensi adrenalin (penyakit addison) pasien menjadi kurus dan nampak sakit paling lemah, terutama karena tidak adanya hormon ini, sedangkan ginjal gagal menyimpan natrium dalam jumlah terlampau banyak, penyakit ini diobati dengan kortison.
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian korteks terdiri dari;
1. mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam.
2. mengatur/mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein.
3. mempengaruhi aktifitas jringan limpoid.
hipofungsi, menyebabkan penyakit addison. Hiperfungsi. Kelainan-kelainan yang timbul akibat hiperfungsi mirip dengan tumor suprarenal bagian korteks dengan gejala-gejala pada wanita biasa, terjadinya gangguan pertumbuhan seks sekunder.
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian medula terdiri dari;
1. vaso kontruksi pembuluh darah perifer.
2. relaksasi bronkus.
3. kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil.
Kelenjar pienalis (epifise)
Kelenjar ini terdapat di dalam otak, di dalam ventrikel berbentuk kecil merah seperti sebuah kamera. Terletak dekat korpus.
Fungsinya belum diketahui dengan jelas, kelenjar ini menghasilkan sekresi interna dalam membantu pankreas dan kelenjar kelamin.
Kelenjar pankreatika
Terdapat pada belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alpa dan beta. Sel alpa menghasilkan hormon glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin.
Hormon yang diberikan untuk pengobatan diabetes, insulin merupakan sebuah protein yang dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencernaan protein.
Fungsi hormon insulin
Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan sebagai pengobatan, memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengobservasi dan mengunakan glukosa dan lemak.
Pulau langerhans
Pulau langerhan berbentuk oval tersebar di seluruh pankreas dan terbanyak pada bagian kedua pankreas.
Dalam tubuh manusia terdapat 1-2 juta pulau-pulau larenghans, sel dalam pulau ini dapat dibedakan atas dasar granulasi dan pewarnaannya separuh dari sel ini mensekresi insulin, yang lainnya menghasilkan polipeptida dari pankreas diturunkan pada bagian eksokrin pankreas.
Fungsi kepulauan langerhans; sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi, menghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida pankreas, serta menghambat sekresi glikogen.
Kelenjar kelamin
Kelenjar testika. Terdapat pada pria terletak pada skrotum menghasilkan hormon testoteron.
Fungsi hormon testoteron, menentukan sifat kejantanan, misalnya jenggot, kumis, jakun dan lain-lain, menghasilkan sel mani (spermatozoid) serta mengontrol pekerjaan seks sekunder pada laki-laki.
Kelenjar ovarika, terdapat pada wanita, terletak pada ovarium di samping kiri dan kanan uterus.
Menghasilkan hormon progesteron dan estrogen, hormon ini mempengaruhi pekerjaan uterus serta memberikan sifat kewanitaan, misalnya pinggul yang besar, bahu sempit dan lain-lain.
Pengertian
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati dutus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone.
Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu macam hormone (hormone tunggal) disamping itu juga ada yang menghasilkan lebih dasi satu macam hormone atau hormone ganda misalnya kelenjar hopofise sebagai pengatur kelenjar yang lain.
Fungsi kelenjar endokrin
1. menghasilkan hormone-hormon yang dialirkan kedalam darah yang diperlukan oleh jaringan-jaringan dalam tubuh tertentu
2. mengontrol aktifitas kelenjar tubuh
3. merangsang kelenjar tubuh
4. merangsang pertumbuhan jaringan
5. mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorpsi glukosa pada usus halus
6. mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral dan air
pembagian di dalam tubuh
kelenjar hipofise
suatu kelenjar endokrin yang terletak didsar tengkorak yang memegang peranan penting dalam sekresi hormon dan semua organ-organ endokrin.
Dapat dikatakan sebagai kelenjar pemimpin sebab hormon-hormon yang dihasilkannya dapat mempengaruhi pekerjaan kelenjar lainnya. Kelenjar hipofise terdiri dari 2 lobus.
Lobus anterior (adenohipofise). Menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organ endokrin yang lain.
1. hormon somatotropik, mengendalikan pertumbuhan tubuh.
2. hormon tirotropik, mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon tiroksin.
3. hormon adrenokotropik (ACTH), mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasal dari korteks kelenjar suprarenal.
4. hormon gonadotropik berasal dari follicle stimulanting hormone (FSH) yang merangsang perkembangan folikel degraf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis.
5. luteinizing hormone (LH), mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis. Interstitial cell stimulating hormone (ICSH)
lobus posterior disebut juga Neurohipofise. Mengeluarkan 2 jenis hormon;
1. hormon anti dieretik (ADH), mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal membuat kontraksi otot polos ADH disebut juga hormon pituitrin.
2. hormon oksitoksin merangsang dan mengeluarkan kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui. Kelenjar hipofise terletak di dasar tengkorak, di dalam fosa hipofise tulang spenoid.
Kelenjar tiriod
Trdiri atas 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari trakea diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring.
Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tirioid ini dapat memproduksi hormon tiroksin.
Adapun fungsi dari hormon tiroksin; mengatur pertukaran zat/metabolisme dalam tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat yaitu; koloidae tiroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormon tiroksin.
Sekresi ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah baik langsung maupun melalui saluran limfe.
Fungsi kelenjar tirioid, terdiri dari;
1. bekerja sebagai perangsang proses oksidasi.
2. mengatur penggunaan oksidasi
3. mengatur pengeluaran karbondioksida
4. metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
5. pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Hipofungsi dapat menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit miksedema.
Hiperfungsi menyebabkan penyakit eksotalmikgoiter. Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar hipofise yaitu hormon tirotropik.
Fungsi kelenjar tiroid sangat erat bertalian dengan kegiatan metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dan bekerja sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksigen dan mengatur pengeluaran karbodioksida.
Hiposekresi hipotiroidisme. Bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan sekret pada waktu bayi mengakibatkan suatu keadaan yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik, pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksedema proses metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk bertambah berat, gerakannya lambat, cara berfikir dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan keringat, rambut rontok, suhu badan dibawah normal dan denyut nadi perlahan.
Hipersekresi penambahan sekresi kelenjar tiroid disebut hipertiroid dimana semua gejalanya merupakan kebalikan dari miksedema yaitu; kecepatan metabolisme meningkat suhu tubuh tinggi, berat badan turun, gelisah, mudah marah, denyut nadi naik.
Vaskuler mencakup fibrilasi atrium kegagalan jantung pada keadaan yang dikenal sebagai penyakit trauma atau gondok eksoptalmus, mata menonjol keluar, efek ini disebabkan terlampau aktifnya hormon tiroid, ada kalanya tidak hilang dengan pengobatan.
Kelenjar paratiroid
Terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher, kelenjar ini berjumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan para hormon atau hormon para tiroksin. Kelenjar paratiroid berjumlah 4 buah.
Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor didalam tubuh.
Hipoparatiroidisme. Terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipokalsemia mengakibatkan keadaan yang disebut tetani, dengan gejala khas kejang khususnya pada tangan dan kaki disebut karpopedal spasmus, gejala-gejala ini dapat diiringi dengan pemberian kalsium.
Hiperparatiroidisme. Biasanya ada sangkut pautnya dengan pembesaran (tumor) kelenjar. Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium dikeluarkan kembali dari tulang dan dimasukan kembali ke serum darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda khas beberapa bagian kropos, disebut osteomelitis fibrosa sistika karena terbentuk kristal pada tulang, kalsiumnya diedarkan di dalam ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal.
Fungsi paratiroid;
1. mengatur metabolisme fospor,
2. mengatur kadar kalsium darah.
Hipofungsi, mengakibatkan penyakit tetani. Hiperfungsi, mengakibatkan kelainan-kelainan seperti; kelemahan pada otot-otot, sakit pada tulang, kadar kalsium dalam darah meningkat begitu juga dalam urine, dekolsifikasi dan deformitas, dapat juga terjadi patah tulang spontan.
Kelainan-kelainan di atas dapat juga terjadi pada kelenjar paratiroid.
Kelenjar timus
Terletak di dalam mediastinum di belakan os sternum, kelenjar timus hanya dijumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun.
Kelenjar timus terletak di dalam toraks kira-kira setinggi bifurkasi trakea, warnanya kemerah-merahan dan tersiri atas 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram atau lebih sedikit. Ukurannya bertambah pada masa remaja dari 30-40 gram kemudian berikut lagi.
Adapun hormon yang dihasilkan kelenjar timus berfungsi sebagai berikut:
1. mengaktifkan pertumbuhan badan.
2. mengurangi aktifitas kelenjar kelamin.
Kelenjar supra renalis/adrenal
Kelenjar suprarenal jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Unya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram. Kelenjar suprarenal ini terbagi atas 2 bagian yaitu;
1. bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol yang disebut korteks.
2. bagian medula yang menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan nor arenalin (nor epinefrin).
Zat-zat tadi disekresikan dibawah pengendalian sistem persyarapan simpatis. Sekresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut serta dalam keadaan asfiksia dan kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikan tekanan darah guna melawan shok.
Noradrenalin menaikan tekanan darah dengan jalan merangsang serabut otot didalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati.
Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh korteks adrenal adalah; hidrokortison, aldosteron dan kortikosteron. Semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan fungsi ginjal dan kondisi otot.
Pada insufiesiensi adrenalin (penyakit addison) pasien menjadi kurus dan nampak sakit paling lemah, terutama karena tidak adanya hormon ini, sedangkan ginjal gagal menyimpan natrium dalam jumlah terlampau banyak, penyakit ini diobati dengan kortison.
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian korteks terdiri dari;
1. mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam.
2. mengatur/mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein.
3. mempengaruhi aktifitas jringan limpoid.
hipofungsi, menyebabkan penyakit addison. Hiperfungsi. Kelainan-kelainan yang timbul akibat hiperfungsi mirip dengan tumor suprarenal bagian korteks dengan gejala-gejala pada wanita biasa, terjadinya gangguan pertumbuhan seks sekunder.
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian medula terdiri dari;
1. vaso kontruksi pembuluh darah perifer.
2. relaksasi bronkus.
3. kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil.
Kelenjar pienalis (epifise)
Kelenjar ini terdapat di dalam otak, di dalam ventrikel berbentuk kecil merah seperti sebuah kamera. Terletak dekat korpus.
Fungsinya belum diketahui dengan jelas, kelenjar ini menghasilkan sekresi interna dalam membantu pankreas dan kelenjar kelamin.
Kelenjar pankreatika
Terdapat pada belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alpa dan beta. Sel alpa menghasilkan hormon glukagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormon insulin.
Hormon yang diberikan untuk pengobatan diabetes, insulin merupakan sebuah protein yang dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencernaan protein.
Fungsi hormon insulin
Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan sebagai pengobatan, memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengobservasi dan mengunakan glukosa dan lemak.
Pulau langerhans
Pulau langerhan berbentuk oval tersebar di seluruh pankreas dan terbanyak pada bagian kedua pankreas.
Dalam tubuh manusia terdapat 1-2 juta pulau-pulau larenghans, sel dalam pulau ini dapat dibedakan atas dasar granulasi dan pewarnaannya separuh dari sel ini mensekresi insulin, yang lainnya menghasilkan polipeptida dari pankreas diturunkan pada bagian eksokrin pankreas.
Fungsi kepulauan langerhans; sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi, menghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida pankreas, serta menghambat sekresi glikogen.
Kelenjar kelamin
Kelenjar testika. Terdapat pada pria terletak pada skrotum menghasilkan hormon testoteron.
Fungsi hormon testoteron, menentukan sifat kejantanan, misalnya jenggot, kumis, jakun dan lain-lain, menghasilkan sel mani (spermatozoid) serta mengontrol pekerjaan seks sekunder pada laki-laki.
Kelenjar ovarika, terdapat pada wanita, terletak pada ovarium di samping kiri dan kanan uterus.
Menghasilkan hormon progesteron dan estrogen, hormon ini mempengaruhi pekerjaan uterus serta memberikan sifat kewanitaan, misalnya pinggul yang besar, bahu sempit dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
download askep
- http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/2008/09/asuhan-keperawatan-anak-dengan-diare.html
- http://darsananursejiwa.blogspot.com/2010/05/konsep-dasar-keluarga.html#links
- http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/06/gangguan-konsep-diri-harga-diri-rendah.html
- http://askep-askeb.blogspot.com/2009/03/download-101-asuhan-keperawatan.html
- http://medicastore.com/penyakit/4/Tekanan_Darah_Tinggi_Hipertensi.html
- http://askep-askeb.cz.cc/2010/03/download-kti-keperawatan-lengkap.html
download software
group compreng
Entri Populer
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dengan menggunakan indicator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka ...
-
BAB I TINAJAUAN TEORITIS A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Defianisi Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui ann...
-
BAB I PENDAHULUAN A. PENGERTIAN Salah satu organ yang berfungsi untuk menyelengarakan kerja sama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi ...
-
PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA 1. Apa manfaat kapsul vitamin A untuk balita ? ? Menjaga kesehatan mata dan mencegah kebutaan ? Menin...
-
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY. S DENGAN “ ISOLASI SOSIAL” DI RUANG GELATIK RS JIWA PROPINSI JAWA BARAT Diajukan untuk memenuhi salah sa...
-
BAB II TINAJAUAN TEORITIS Asuhan kebidanan bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, hasil dari asuhan kebidanan dapat dibukti...
-
BAB I TINJAUAN TEORITIS A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Pengertian Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudia...
-
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN ISOLASI SOSIAL DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONALISASI ...
-
ASKEP PADA ANAK DENGAN BRONCHOPNEUMONIA 1. Pengertian Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-p...
-
ANATOMI SISTEM MUSKULOSKELETAL & SISTEM INTEGUMEN CASMADI AKADEMI KEPERAWATAN SAIFUDDIN ZUHRI INDRAMAYU ANATOMI Anatomi = ilmu urai ...
