google-site-verification: google6968eaab40b0eb36.html ano.sb

selamat datang

selamat datang
terimakasih atas kunjungan anda hari ini semoga dapat bermanfaat

Minggu, 28 Maret 2010

ASKEP ISOLASI SOSIAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY. S
DENGAN “ ISOLASI SOSIAL”
DI RUANG GELATIK RS JIWA
PROPINSI JAWA BARAT


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Pada mata kuliah praktek klinik keperawatan jiwa











DISUSUN OLEH:
ANO SETIABUDI




AKADEMI KEPERAWATAN SAIFUDDIN ZUHRI
INDRAMAYU

2010



KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha esa atas segala rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Proposal Therapi Aktivitas Kelompok terhadap klien dengan gangguan jiwa.
Adapun tujuan penulisan proposal ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas dalam melaksanakan praktek lapangan perawat kesehatan jiwa di RS Jiwa Propinsi Jawa Barat. 
Dalam penulisan laporan study ini,kami mengucapkan terimakasih kepada :
1.  Ibu Dr Baniah,selaku Direktur RSJ propinsi jawabarat
2.  Ibu Widakasih,SKM.,MBA selaku direktur
3.  Ibu Tutin Marlia,SKM selaku kordinator Aksari
4.  Ibu Yustikawati, selaku koordinator
5.  Ibu H, Nelah selaku kepala Ruang Gelatik
6.  Ibu Dewi Sintamaria, selaku pembimbing ruang gelatik
7.  Teman-teman yang telah ikut membantu dalam menyusun terapi aktifitas kelompok ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun proposal ini masih banyak kekurangannya,oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak untuk penyempurnaan propsal ini dikemudian hari dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terutama perawatan jiwa.


                                                                                        Bandung. 24  Maret 2010        


                                                                                                       Penulis      






LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL


A.     MASALAH UTAMA
Isolasi Sosial

B.     PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Pengertian
Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu erasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan pikiran, prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada  perhatian dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain (Balitbang, 2007)

2. Faktor Predisposisi
a. Faktor Tumbuh Kembang
      Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu, ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi dengan agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
b. Faktor Komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga mmerupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.
c. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial/mengasingkan diri dilingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya ganngguan dalam hubungan sosial.
d. Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.
3. Faktor Presipitasi
a. Faktor eksternal
contoh: strsor sosial budaya; keluarga
b. faktor Internal
contohnya adalah stresor psikologis, yaitu stress akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi dengan keterbatasan individu untuk mengatasinya.
4. Rentang respon

Respon adaptif                                                                   Respon Maladaptif

 

 
Menyendiri             merasa sendiri                           menarik diri
Otonomi                             defendensi                                ketergantungan
Interdependen                    curiga                                       manipulasi
                                                                                          Curiga
a.       respon Adaptif
respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat.
-         menyendiri, respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenung apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya
-         otonomi, kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan  ide, pikiran dan perasaan dalam hubungan sosial.
-         Bekerjasama, kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain
-         Interdefenden, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain
b.      respon maladaptif
respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat.
-         menarik diri, seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan sosial terbuka dengan orang lain.
-         Ketergantungan, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung terhadap orang lain
-         Manipulasi, seseorang yang mengganggun orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina lingkungan sosial secara mendalam.
-         Curiga, seseorang gagal mengmbangkan rasa percaya terhadap orang lain

C.     MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG DITEMUKAN
a.       data subjektif
-         klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain
-         klien menggatakan dirinya tidak ingin ditemani dengan perawat
-         klien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain
-         tidak mau berkomunikasi
-         data didapat biasanya dari keluarga yang mengetahui keterbatasan klien
b.      data objektif
-         kurang spontan
-         apatis
-         ekspresi wajah kurang berseri
-         tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
-         tidak ada atau kurang komunikasi verbal
-         mengisolasi diri
-         tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
-         asupan makanan dan minuman terganggu
-         retensi uriene dan faeces
-         aktivitas menurun
-         kurang berenergi atau bertenaga
-         rendah diri
-         postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin.

D.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi sosial










TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN NY. S DENGAN ISOLASI SOSIAL
DI RUANG GELATIK RS JIWA BANDUNG JAWA BARAT


A.     IDENTITAS KLIEN
Nama                                 : Ny. S
Umur                                  : 33 tahun
Jenis kelamin                      : perempuan
Pekerjaan                           : -
Status perkawinan              : kawin
Pendidikan                         : SD
Tanggal masuk                    : 19 – 03 – 2010
Tanggal pengkajian : 23 – 03 – 2010
Diagnosa medis                  : skizoprenia paranoid
Nomor medrek                   : 037664
Alamat                               : dusun 1 rt 03 rw 02 kelurahan gembong kec. Babakan  Cirebon
Penanggung jawab              : Mumun
Hubungan dengan pasien     : kakak

B.     ALASAN MASUK
Klien masuk ke rumah sakit diantar oleh keluarganya (kakak), klien sakit kurang lebih 2 tahun nampak gejala-gejala : bicara sendiri, mengammbil pakaian orang lain, curiga. Pada saat dikaji pasien tampak diam, tidak ada respon ketika dipanggil, tidak mau berbicara, pasien tiduran di tempat tidur.

C.     FAKTOR PREDIS POSISI
1.      riwayat gangguan jiwa dimasa lalu
sebelumnya klien pernah mengalami gangguan jiwa kurang lebih 5 tahun berobat ke rumah sakit Waled
2.      Pengobatan sebelumnya
Pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena klien tidak teratur minum obat
3.      Aniaya fisik
Menurut klien tidak pernah memukul atau dipukul orang lain
4.      anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
tidak ada anggota keluarga mengalami gangguan jiwa
5.      Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien pernah menjadi TKW di Arab Saudi, uang hasil kerja klien dipakai secara paksa oleh suaminya untuk membangun rumah.

Masalah keperawatan : regiment terapetik inefektif

D.     FISIK
-         tanda vital: TD=130/90 mmHg, N=88x/mt, S= afebris
-         keluhan fisik: tidak ada

masalah keperawatan: tidak ada

E.      PSIKOSOSIAL
1.      Genogram
 






      Keterangan:
            Klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, klien tinggal serumah dengan suami dan anak-anaknya

Maslah keperawatan : tidak ada
     
2.      Konsep diri
a.       citra tubuh: klien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya kecuali tangan
b.      identitas: klien mengatakan bahwa dirinya seorang perempuan
c.       peran : klien mengatakan ia adalah sebagai seorang ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anaknya yang mengurus anak-anaknya.
d.      Ideal diri : klien mengatakan ingin pulang dan bertemu dengan anak-anaknya
e.       Harga diri : klien mengatakan merasa malu dengan keadaan saat ini

Maslah keperawatan : gangguan konsep diri: harga diri rendah

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti:
klien mengatakan selalu ingat kepada anak-anaknya, ingin bertemu dengan anak-anaknya.
b.      peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat:
      klien mengatakan tidak pernah ikut dalam kegiatan kelompok/ masyarakat
c.       hambatan dalam berhubungan dengan orang lain:
      klien mengatakan merasa dimusuhi tetangganya

Maslah keperawatan : Isolasi sosial

  1. Spiritual
a.       nilai dan keyakinan:
klien mengatakan beragama islam
b.      kegiatan ibadah:
klien mengatakan melaksanakan sholat dan puasa

Maslah keperawatan : tidak ada masalah

F.      STATUS MENTAL

1.      Penampilan:
penampilan klien biasa saja
Maslah keperawatan : tidak ada

2.      Pembicaraan:
bicara lambat agak kurang jelas
Maslah keperawatan : isolasi sosial

3.      aktivitas motorik:
klien tampak lesu
Maslah keperawatan : isolasi sosial

4.      Alam perasaan:
klien mengatakan sedih dan khawatir kepada anak-anaknya
Maslah keperawatan : gangguan alam perasaan: sedih, khawatir

5.      Afek :
tumpul, respon memerlukan stimulus yang kuat
Maslah keperawatan : isolasi sosial

6.      interaksi selama wawancara:
klien tidak kooperatif, kontak mata kurang
Maslah keperawatan : isolasi sosial

7.      Persepsi :
klien mengatakan tidak mendengar suara-suara, tidak melihat bayang-bayang
Maslah keperawatan : tidak ada

8.      proses pikir:
pada saat dikaji proses pikir klien sirkumstansial
Maslah keperawatan : isolasi sosial

9.      Isi pikir:
pada saat dikaji tidak ditemukan adanya waham
Maslah keperawatan : tidak ada

10.  Tingkat kesadaran:
klien mampu mengenal WTO
Maslah keperawatan : tidak ada

11.  Memori:
klien mampu mengingat masa lalunya, keluarganya
Maslah keperawatan : tidak ada

12.  Tingkat konsentrasi dan berhitung:
klien tidak mau berhitung sederhana
Maslah keperawatan : isolasi sosial

13.  Kemampuan penilaian:
gangguan ringan=dapat mengambil keputusan dengan bantuan orang lain
Maslah keperawatan : isolasi sosial

14.  daya tilik diri:
klien mengatakan tidak merasa sakit, menyalahkan hal-hal diluar dirinya
Maslah keperawatan : koping mekanisme inefektif

G.     KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1.      Makan: klien mau makan 3x/hari
2.      BAB/BAK: klien mampu BAK/BAB sendiri dikamar mandi
3.      Mandi: klien mampu mandi sendiri
4.      berpakaian: klien mampu berpakaian sendiri
5.      Istirahat dan tidur: tidur siang 2 jam/hari, tidur malam dari jam 21.00 WIB. Aktivitas sebellum tidur tidak melakukan
6.      Penggunaan Obat: minum obat dengan bantuan perawat
7.      Pemeliharaan kesehatan: Perawatan lanjutan
8.      aktivitas didalam rumah: mempersiapkan makanan, mencuci pakaian
9.      Aktivitas diluar rumah: belanja

H.     MEKANISME KOPING
Maladaptif (menghindar dan bereaksi lambat)
Maslah keperawatan : isolasi sosial

I.        ASPEK MEDIK
-         Lodomeo
-         THD
-         CPT


J.       KUMPULAN MASALAH KEPERAWATAN
-         Isolasi sosial
-         Regiment terapeutik inefektif
-         Gangguan konsep diri: harga diri rendah

K.    ANALISA DATA
No
Data senjang
Masalah
1.
DS: klien mengatakan merasa malu dengan keadaan saat ini
DO: kontak mata kurang
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
2.
DS:
·        klien mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan kelompok/masyarakat
·        klien mengatakan merasa dimusuhi tetangganya
DO:
·        Klien tammpak diam tidak mau bicara
·        Kontak mata tidak ada
·        Tidak ada respon ketika dipanggil
·        Bicara lambat kurang jelas
·        Klien tampak lesu
·        Afek tumpul, respon memerlukan stimulus yang kuat

Isolasi sosial
3.
DS:
·        klien mengatakan  tidak merasa sakit
·        Klien mennyalahkan hal-hal diluar dirinya

Koping mekanisme inefektif

L.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I

A. Proses Keperawatan 
1. Kondisi klien
Klien lebih suka menyendiri di tempat tidurnya, ekspresi wajah seidh, tidak mau kontak dengan yang lain, lebih banyak diam, kontak mata singkat.
2. Diagnosa keperawatan 
Resti mencederai diri, bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.
3. Tujuan khusus
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
TUK 2 : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.
4. Tindakan keperawatan 
TUK 1 : 
a. Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal
b. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
c. Jujur dan menepati janji
d. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
e. Berikan perhatian terhadap klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
TUK 2 :
a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
b. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.
c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab muncul.
d. Berikan pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya.


B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 
1. Fase oreientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi Mbak, perkenalkan nama saya Sri Sundari, saya biasa di panggil Ndari, nama Mbak siapa? Baiklah Mbak, disini saya akan menemani Mbak, saya akan duduk di samping Mbak, jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan”.
b. Evaluasi / validasi
“Bagaimana perasaan Mbak hari ini? Saya ingin sekali membantu Mbak menghadapi masalah dan saya harap Mbak mau bekerja sama dengan saya, Mbak boleh saya tahu apa yang terjadi di rumah sehingga Mbak sampai dibawa kemari? Bagaimana kalau hari ini kita berbicara tentang kebiasaan Mbak yang lebih suka menyendiri, Mbak bersediakan?”.
c. Kontrak
“Berapa lama kita akan berbincang-bincang?”
“Dimana tempat yang Mbak sukai?”
“Baiklah kita berbicara di tempat tidur saja, berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”
“Baiklah jadi kita akan ngobrol-ngobrol tentang kebiasaan Mbak yang lebih suka menyendiri selama 30 menit?”
2. Fase Kerja 
“Biasanya kalau jam-jam seperti ini apa yang Mbak lakukan di sini atau di rumah?”
“Bagaimana perasaan Mbak berdiam diri di kamar?”
“Apa yang menyebabkan Mbak berdiam diri di kamar?”
“Jika Mbak berdiam diri di kamar apa yang Mbak lakukan dan pikirkan?”
“Jadi apa saja tanda-tanda kalau Mbak enggan berhubungan dengan orang lain?”

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi 
“Apa yang Mbak rasakan setelah kita berbincang-bincang selama 30 menit tadi?”
“Bisa Mbak ulangi lagi apa yang telah kita bicarakan tadi?”
b. Rencana tindak lanjut
“Setelah ini kita akan bicara mengenai keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain”.
c. Kontrak
“Baiklah Mbak, waktu kita sudah habis, bagaimana kalau kita cukupka sampai di sini, kira-kira jam berapa kita besok bertemu lagi? Tempatnya dimana?”
“Baiklah jam 11 kita akan bertemu di sini lagi selama 15 menit.”



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien banyak diam di tempat tidurnya, menyendiri, tidak mau kontak dengan yang lain, kontak mata ada.
2. Diagnosa Keperawatan
Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.
3. Tujuan Khusus
Tuk 3 : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
4. Tindakan Keperawatan
Tuk 3 :
1. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
2. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
3. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
4. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
5. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
6. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
7. Diskusikan bersama klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
8. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.


B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi mbak, mbak masih ingat dengan saya ? coba sebutkan siapa nama saya, bagus ternyata mbak masih ingat.”
b. Evaluasi/ validasi
“Mbak kelihatannya segar dan semangat hari ini, bagaimana perasaan Mbak pagi ini ?”

c. Kontrak
“Kemaren kita sudah berbicara mengenai hal yang menyebabkan bapak sering menyendiri di kamar. Nah, sekarang sesuai dengan janji kita, kita sekarang akan berbincang-bincang mengenai keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain selama 20 menit, bagaimana Mbak bisa kita mulai sekarang ?”
2. Fase Kerja
“Coba mbak sebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.”
“Bagus, ternyata mbak lebih pintar daari saya”
“Sekarang coba mbak sebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.”
“Bagaimana jika mbak ngobrol-ngobrol dengan yang lain sekarang?”
“Bagaimana kalau saya beri contoh cara berkenalan dengan orang lain?”
3. Fase Terminasi 
a. Evaluasi
“Apa yang mbak rasakan setelah kita berbincang-bincang selama 20 menit tadi?”
“Coba mbak ulangi lagi, sebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.”
b. Rencana tindak lanjut
“setelah ini, silahkan mbak coba berkenalan dengan orang lain, paling tidak mbak tahu nama dan asal teman baru mbak.”

c. Kontrak
“Baiklah mbak waktu kita sudah habis, sudah 20 menit kita berbincang-bincang.”
“Kira-kira kapan kita akan bertemu lagi ? tempatnya di mana ? dan apa yang akan kita bahas ?”
“Baiklah bagaimana kalau kita bertemu lagi jam 13.00, kita akan berbincang-bincang di tempat ini lagi selama 30 menit, untuk membahas kegiatan dan perasaan mbak setelah berkenalan dengan orang lain.”


STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN III

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien lebih suka menyendiri, diam, kontak mata ada, klien tidak mau kontak dengan yang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.
3. Tujuan Khusus
Tuk 4 : klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.
Tuk 5 : klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.
4. Tindakan Keperawaatan
Tuk 4 :
1. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
2. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain.
3. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.
5. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.
6. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan mangan.
7. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dan kegiatan mangan.
Tuk 5:
1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.
2. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.
3. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.


B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi mbak, kelihatannya mbak senang hari ini, mbak sudah makan?”
b. Evaluasi/ validasi
“Bagaimana mbak, sudah berkenalan atau sudah ngobrol-ngobrol dengan kenalan baru mbak ?”
“Kalau boleh saya tahu siapa namanya ? asalnya dari mana ? bagus sekali mbak sudah ingat nama dan asal teman baru mbak.”
c. Kontrak
“Tadi sudah beerkenalan dengan teman baru mbak, bagaimana kalau kita berbicara tentang teman baru mbak dan peerasaan mbah setelah berkenalan atau berhubungan dengan teman baru mbak.” Sesuai dengan kesepakatan kita, kita akan berbincang-bincang selama 30 menit.”
2. Fase Kerja
“Coba mbak praktekkan carra berkenalan mbak dengan teman baru mbak pada saya.”
“Setelah berkenalan, kegiatan apa yang mbak lakukan dengan teman baru mbak?”
“Setelah itu bagaimana perasaan mbak, senang atau tidak ?”
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
“Bagaimana perasaan mbak sekarang setelah berhubungan dengan orang lain ?”
“Coba mbak ulangi lagi nama dan asal teman baru mbak!”
b. Rencana tindak lanjut
“baiklah saya lihat mbak sudah lelah, silahkan mbak istirahat dan besok kita lanjutkan lagi bincang-bincang kita.”


c. Kontrak
“Baiklah kita cukupkan sekian dulu, sudah 30 menit perbincangan kita kali ini, besok kita akan bincang-bincang kembali tentang cara penggunaan obat yang mbak minum dengan benar dan tepat.”



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN IV

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien lebih banyak diam, menyendiri, tidak mau kontak dengan yang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri
3. Tujuan Khusus
Tuk 7 : Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat.
4. Tindakan Keperawatan
1. Diskusi dengan klien tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat serta efek sampingnya.
2. Anjurkan klien untuk minta sendiri obat kepada perawat dan merasakan manfaatnya.
3. Anjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping yang dirasakan.
4. Diskusikan akibat tidak minum obat tanpa konsultasi.

B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi mbak ? mbak ingat janji pertemuan kita ? bagus sekali ternyata mbak masih ingat dengan tepat, bahwa pagi ini kita akan kembali berbincang-bincang selama kurang lebih 15 menit.”
b. Validasi/ evaluasi
“Bagaimana perasaan mbak pagi ini ? mbak masih berteman atau ngobrol dengan teman baru mbak ? bagus sekali … mbak sudah mau bergabung dengan teman-teman mbak.”


c. Kontrak
“Baik kalau begitu sesuai kesepakatan kita bagaimana kalau pada pertemuan kita kali ini selama 15 menit kedepan kita berbincang-bincang tentang kegunaan obat yang mbak minum tiap hari.”
2. Fase Kerja
“Boleh saya tahu bagaimana cara mbak meminum obat ini ? bagus sekali, mbak sudah bisa menggunakan obat ini secara benar dan tepat, dan jangan lupa ingat nama obat dan waktu minum obat.”
“Bagus sekali mbak patuh dan taat, saya senang mbak mau mengikuti saran perawat dan dokter di sini.”
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
“Bagaimana perasaan mbak setelah minum obat dan mengetahui penggunaan obat ini ?”
“Mbak tadi mengatakan bahwa obat ini dapat membantu mbak dan banyak gunanya.”
b. Rencana tindak lanjut
“Mbak haarus selalu mengingat-ingat nama obat, dosis dan cara pemberiannya, coba mbak ingat-ingat lagi ya ?”
c. Kontrak
“Kira-kira kapan ada kesempatan untuk berbincang-bincang lagi mbak ?”


Kamis, 26 November 2009

ASKEP HIL

BAB I
TINAJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Defianisi
Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat benjolan di daerah inguinalis.

2. Anatomi


• kulit dan jaringan subkutis
lapisan muskulo-aponeurisis
peritoneum parietal dan jaringan preperitoneum
rongga perut
cincin atau pintu hernia (tempat keluarnya jaringan/ organ tubuh, berupa LMR yang dilalui kantong hernia)
kantong hernia

Bagian-bagian Hernia
1. kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya : hernia incisional, hernia adipose dan hernia intertitialis.
2. isi hernia
Berupa organ atau jaringa yang keluar melalui kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus.
3. pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia.
4. leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia
5. locus minoris resistence (LMR)

3. Fisiologi
Kanalis inguinalis dibatasi dikraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia tranversalis dan aponeurisis m.transversus abdominis, dimedial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponurisis m.oblikus eksternus, dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.
Nervus ilioinguinalis dan iliofemoralis mempersarfi otot diregio inguinalis, sekitar kanalis inguinalis, dan tali sperma, serta sensibilitas kulit diregio inguinalis, skrotum dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial.

4. Etiologi
a. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis pertenium persisten disertai dengan annulus inguinalis yang cukup lebar.
b. Didapat
Ditemukan adanya faktor kausal/predisposisi yang berperan untuk timbulnya hernia:
- Prosesus vaginalis yang tetap terbuka
- Peninggian tekanan intra abdomen:
• pekerjaan mengangkat barang-barang berat
• Batuk karonik: bronchitis kronik, TBC
• Hipertrofi prostat, striktur uretra, konstipasi, asites
- Kelemahan otot dinding perut:
• Usia tua, sering melahirkan

5. Fatofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia Pengguanaan. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.

























6. Manifestasi klinis
- Benjolan dilipat paha yang timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.
- Nyeri disertai muntah timbul bila terjadi inkarserasi atau strangulasi

7. Komplikasi
a. Hernia akreta; ada perlakuan isi dengan kantong hernia, tidak ada gangguan pasase
b. Hernia inkarserasi; ada perlekatan yang disertai dengan gangguan pasase
c. Hernia strangulasi; nekrosis, gangrene, abses local, peritonitis.

8. Prosedur diagnostic
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita batuk, membungkuk, mengangkat beban berat atau mengedan.
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring . keluhan nyeri jarang dijumpai , kalau ada biasanya didaerah epigastrium, atau paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium pada waktu satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau sudah terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan diregio inguinalis yang berjalan dari lateral atas kemedial bawah. Kantong hernia yang kososn kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memeberikan sensasi gesekan dua permukaaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia denganmenonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat yang biasanya berisi ovarium.
Laboratorium; pemeriksaan leukosit

9. Penatalaksanaan medis
a. Konservatif
- Pemakaian bantalan penyangga hanya dilakukan pada hernia reponibilis
- Pemberian sedative, kompres es, posisi tidur trendevenburg hanya ditunjukan pada hernia anak yang sudah mengalami inkarserasi.

b. Pembedahan
- Anak; herniotomi yaitu tentang hernia yang dibuka dan isi didorong ke dalam rongga abdomen. Kantong proksimal dijahit kuat setinggi mungkin lalu dipotong. Kantong distal dibiarkan.
- Dewasa; herniorafi dan hernioplastik
• Herniorafi terdiri dari herniotomi dan hernioplastik
• Hernioplastik; setelah herniotomi dilakukan tindakan memperkecil annulus internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Nama :
Umur : Umur :
Suku bangsa : Suku :
Agama : Agama :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :
Kec. Kec.
Tgl. Masuk RS : Hubungan :
Tgl. Dikaji :
Diagnosa Medis :
No. RM :
Dr. Penanggungjawab :

b Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
P, Q, R, S, T
3) Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang terjadi secara berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)
Alergi:
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) :
4) Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain
Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker hypertensi, DM, penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.)
5) Keadaan psikologis
Perilaku
Pola emosional
Konsep diri
Penampilan intelektual
Pola pemecahan masalah
Daya ingat
6) Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi
Kegiatan rekreasi
Bahasa komunikasi
Hubungan dengan keluarga
Kegiatan masyarakat
7) Keadaan Spiritual
Kepercayaan, keyakinan


8) Pola Kehidupan sehari-hari
No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
a. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
b. Minum
• Jumlah intake
• Jenis
2. Pola elimenasi
a. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna
• Gangguan/keluhan
• Cara mengatasi
b. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi
3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
- malam
- siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
4. Personal hygine
a. Frekwensi Mandi tiap hari
b. Cara mandi
c. Frekwensi sikat gigi
d. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
e. Kebiasaan gunting kuku
5. Aktivitas
a. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
b. Alasan/penyebab
c. Cara mengatasi
6. Sexual
a Frekwensi
b Alasan/penyebab
c Cara mengatasi

c Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum :
2) Tanda-tanda vital : Tekanan Daqrah, Suhu, Nadi, Respirasi
3) Sistem Pencernaan
Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi, muntah, kemampuan menelan, mengunyah, bentuk peut, BU, distensi abdomen, dll.
4) Sistem Pernafasan
Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung, deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan, nyeri sinus, bentuk dada, kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi pernafasan, jenis pernafasan, bunyi nafas, dll.
5) Sistem cardiovaskuler
Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT, JVP, bunyi jantung, tekanan darah, pembesaran jantung, Cyanosis, dll.
6) Sistem integumen
Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi, kebersihannya, integritas, perubahan warna, keringat, eritema, kuku, rambut (kebersihan, warna, dll.)
7) Sistem persyarafan
Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan, ketajaman mata, pergerakan bola mata, kesimetrisan, reflek kornea, reflek pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
8) Sistem endokrin
Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas, pembesaran kelaenjar tyroid, tremor ekstremitas, dll.
9) Sistem muskuloskeletal
Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri, ROM, kekuatan otot, deformitas, kekakuan pembesaran tulang, atrofi, dll.
10) Sistem reproduksi
Laki-laki: penis skrotum, testis, dll.
Perempuan: pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
11) Sistem perkemihan
Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria, nyeri pinggang, inkontinensia, retensi urine, dll.

d Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Rontgen

e Therapi

2. Diagnosa keperawatan dan perencanaan
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan nyeri berhubungan dengan spasme otot
Nyeri hilang/terkontrol dalam 1x24 jam setelah diberi tindakan keperawatan dengan kriteria:
- wajah tampak ceria
- Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misalnya; keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku) untuk menghilangkan nyeri. • Kaji adanya keluhan nyeri, cacat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/ yang memperberat. Minta pasien untuk menetapkan pada skala 0-10
• Letakan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam batas yang mudah dijangkau/diraih oleh pasien.
• Intruksikan untuk melakukan mekanika tubuh/gerakan yang tepat
• Berikan kesempatan untuk bicara/mendengarkan masalah pasien
• Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai kebutuhan; relaksan otot, analgesik. • Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk membandingkan dan evaluasi terhadap therapi.
• Menurunkan resiko peregangan saat meraih
• Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan
• Menghilangkan/mengurangi stress pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut.
• Membantu untuk menurunkan faktor-faktor stress selama dalam keadaan sakit dan dirawat. Kesempatan untuk memberikan/membetulkan informasi yang kurang tepat.
• Merelaksasikan otot dan menurunkan/menghilangkan nyeri
Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan nyeri Klien dapat melakukan aktivitas dengan kriteria:
Dalam 1x24 jam setelah diberikan tindakan klien mampu melakukan aktivitas seperti biasa • Catat respon-respon emosi/perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien.
• Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari-hari dan keterbatasan individu.
• Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulansi progresif • Imobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, aktivitas pengalihan membantu dalam memfokuskan kembali perhatian pasien dan meningkatkan koping dengan keterbatasan tersebut.
• Partisifasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien dan perasaan kontrol terhadap diri.
• Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus teapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.

3. Imflementasi
Pada tahap dilakukan pelaksanaan dan perawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Pelaksanaannya adalah pengelolaan dan perwujudan dan rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis tindakan:
1) Secara mandiri (independen) adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi masalahnya atau menanggapi reaksi karena adanya stresor (penyakit) misalnya:
a. Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
b. Memberikan dorongan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya secara wajar.
2) Secara ketergantungan/kolaborasi (interdependen), adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama tim perawatan atau tim kesehatan lainnya misalnya dalam hal pemberian obat sesuai instruksi dokter, pemberian infus: tanggung jawab perawat kapan infus itu terpasang.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.




















BAB II
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. S
DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
DIAGNOSA MEDIS HIL POST OP
DI RUANG BEDAH RSUD M.A. SENTOT PANTURA

A PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Tn. S Nama : Tn. T
Umur : 60 tahun Umur : 30 tahun
Suku bangsa : Indonesia Suku : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : - Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani Pekerjaan : Tani
Alamat : Ds. Haurgeulis Alamat : Haurgeulis
Kec. Haurgeulis Kec. Haurgeulis
Tgl. Masuk RS : 4/11/2009 Hubungan : Anak
Tgl. Dikaji : 5/11/2009
Diagnosa Medis : HIL
No. RM : 17175
Dr. Penanggungjawab : dr. Wahyu

2. Riwayat Kesehatan
b. Keluhan utama
Klien mengeluh sakit setelah operasi
c. Riwayat kesehatan sekarang
Klien dioperasi tanggal 8/11/2009 masuk ruang operasi jam 14.00 s.d. 17.00
P= nyeri lipatan paha
Q= nyeri seperti ditusuk
R= nyeri pada daerah lipatan paha kiri
S= nyeri dengan sekala 3
T= terus menerus
d. Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit masa lalu : klien belum pernah menderita penyakit serupa, klien tidak menderita penyakit menular
Alergi: tidak menderita alergi
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) : minum kopi

e. Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain tidak menderita penyakit yang sama, begituupun penyakit menular tiadak ada yang menderita.

f. Keadaan psikologis
Selama dirawat klien menunjukan sifat yang posituf koperatiaf dengan perawat,

g. Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi : penghasilan klien dari tani
Kegiatan rekreasi : jarang dilakukan
Bahasa komunikasi : bahasa Jawa
Hubungan dengan keluarga : baik
Kegiatan masyarakat : akrab dengan tetangganya

h. Keadaan Spiritual
Klien mengatakan hidup dilingkungan yang agamis, sebagai seorang muslim klien yakin dan percaya terhadap Allah Swt. klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya adalah ujian dari Tuhan

i. Pola Kehidupan sehari-hari

No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
j. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
k. Minum
• Jumlah intake
• Jenis

2 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
Nasi lengko
Daging
Tidak ada





6-8 gelas/hari
Air putih, kopi, teh

3 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
-
-
Tidak ada





8-10 gelas/hari
Air putih, susu
2. Pola elimenasi
c. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna
• Gangguan/keluhan
• Cara mengatasi
d. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi

5-6 kali/hari

kuning jernih



1x/hr
lembek


Dipasang kateter
1500 cc/hr
kuning jernih



1x/hr
lembek


3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
- malam
- siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur

5-6 jam/hari
Tidak pernah
-
-
mendekur

5-6 jam/hari
2 jam
-
-
mendekur
4. Personal hygine
f. Frekwensi Mandi tiap hari
g. Cara mandi
h. Frekwensi sikat gigi
i. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
j. Kebiasaan gunting kuku
2X/hari
mandiri
2X/seetiap mandi
2x/minggu

1x/minggu
2X/hari
Dibantu
2x pagi dan sore
5. Aktivitas
d. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
e. Alasan/penyebab
f. Cara mengatasi
Normal
Bedrest

post op
Dibantu perawat
6. Sexual
d Frekwensi
e Alasan/penyebab
f Cara mengatasi
2x/minggu



3. Pemeriksaan Fisik
a Keadaan Umum : lemah
b Tanda-tanda vital : TD=110/70 mmHg S= 36,9oC N= 76x/mt R= 18x /mt
c Sistem Pencernaan
bentuk bibir simetris, terdapat luka operasi, mukosa mulut normal, muntah tidak ada, menelan/mengunyah baik, bentuk perut normal, BU normal, benjolan tidak ada, pembesaran hepar tidak ada
d Sistem Pernafasan
hidung simetris, pernafasan cuping hidung tidak ada, perdarahan hidung tidak ada, bentuk dada simetris, batuk tidak ada. Frekwensi pernafasan 18x/menit. wheezing tidak ada, nyeri sinus tidak ada nyeri dada tidak ada
e Sistem cardiovaskuler
konjungtiva tidak anemis, edema tidak ada, tekanan darah 110/70 mmHg, akral hangat, nyeri dada tidak ada
f Sistem integumen
kulit bersih, turgor kulit baik, luka/lesi post op, eritema tidak ada,
g Sistem persyarafan
kesadaran lemah, kepala simetris, edema tidak ada, mata simetris, pergerakan bola mata normal,
h Sistem endokrin
pertumbuhan dan perkembangan fisik normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
i Sistem muskuloskeletal
deformitas, fraktur tidak ada, atrofi tidak ada, pembesaran tulang tidak ada.
j Sistem reproduksi
pembengkakan tidak ada, benjolan tidak ada, ukursn penis normal, ukuran scrotum normal, warna hitam kecoklatan, nyeri scrotum tidak ada,
k Sistem perkemihan
terpasang kateter,warna urine kuning jernih, nyeri tekan tidak ada, nyeri pinggang tidak ada

4. Pemeriksaan Penunjang
Tgl./ Jam Jenis Hasil Normal Interpretasi
14/11/09 Hb
Leucosit
Hematokrit
Trobosit 14 g%
8600 / mm3
43 %
264.000 / mm3 12-16 g%
10.000 / mm3
35%-48%
150.000-400.000 mm3 Dalam batas normal
kurang
Dalam batas normal Dalam batas normal

5. Therapi
1. Pasang DC , pasang infus NaCl 0.9% 20 gtt/menit
2. obat : Ceptriaxone 1x1 gr, Ranitin 2x1 amp, torasik 3x1

6. Analisa Data
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) Adanya luka Pos Op

Terputusnya kontinuitas jaringan

Merangsang bradikinin dan serotin

Hipotalamus

Kortek serebri

Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman nyeri
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
Adanya luka Pos Op

Nyeri

Klien tidak dapat melakukan aktivitas

Aktivitas terganggu Gangguan pola aktivitas
DS: klien mengatakan sudah dioperasi
DO:, adanya luka operasi pada daerah perut bawah Luka incisi post op

bufer pertahanan terganggu

tempat masuknya kuman patogen melalui luka Resiko infeksi


B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3
2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi

C PERENCANAAN
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) Gangguan rasa nyaman nyeri teratasi dalam waktu 1 hari dengan kriteria:
- nyeri berkurang
- klien tidak meringis • kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik • mengkaji tingkat nyeri dan observasi tanda vital dapat mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• Tehnik relaksasi akan mengurangi rasa nyeri
• Pemberian obat tidak terjadi kesalahan
Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu Gangguan pola aktivitas teratasi dalam 1 hari dengan kriteria:
- klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap tanpa bantuan keluarga • Bantu klien untuk miring kanan-miring kiri
• Berikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi • Mobilisasi dapat mencegah luka decubitus
• Agar klien mengerti tentang pentingnya mobilisasi
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
Tidak adanya tanda-tanda infeksi dalam waktu 48 jam dengan kriteria:
tidak ada pus, odema tidak ada, tidak ada peningkatan suhu tubuh.
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik • mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• perawatan luka secara steril dapat mencegah terjadinya infeksi
• supaya tidak terjadi kesalahan pemberian obat yang tepat dan benar sesuai petunjuk dokter


D IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Hari/Tgl./Jam Diagnosa perawatan Tindakan Evaluasi/Catatan Perkembangan
Kamis, 5-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) • mengkaji tingkat nyeri
• mengobservasi tanda-tanda vital (TD, S, N, R)
• mengajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik S: klien mengatakan nyeri masih terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih basah
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi




Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
• membantu klien untuk miring kanan-miring kiri
• memberikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi S: klien mengatakan mampu bergerak masih terbatas
O: klien bisa miring kiri-kanan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
• Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
• mengobservasi tanda-tanda infeksi
• melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S: klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik
Jum’at, 15-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengatakan nyeri masih terasa pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 2 dalam rentang (0-4) • mengkaji tingkat nyeri
• mengobservasi tanda-tanda vital
• mengajarkan tehnik relaksasi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi S: klien mengatakan nyeri masih sedikit terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih sedikit basah
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi

Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan bisa melakukan aktivitas masih terbatas
DO: aktivitas klien dibantu
• membantu klien dalam melakukan aktivitas
S: klien mengatakan mampu bergerak
O: klien bisa melakukan aktivitas dengan sedikit bantuan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
• Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
• mengobservasi tanda-tanda infeksi
• melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S: klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik













BAB III
KESIMPULAN


Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat benjolan di daerah inguinalis.
Gejala Hernia inguinalis adanya benjolan dilipat paha yang timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.
Kala ditinjau dari kasus Tn. S dengan keluhan utama Klien mengeluh benjolan di lipatan paha kiri, sejak 3 hari yang lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter, klien diputuskan untuk dilakukan operasi.
Dari hasil pengkajian kasus Tn. S dengan post op Hernia Inguinalis Lateralis didapat prioritas diagnosa perawatan antara lain:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3
2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi

Kalau dilihat dari catatan perkembangan pasien pada kasus Tn. S dengan post op Hernia Inguinalis Lateralis dalam dua hari kondisi klien membaik, klien mengatakan nyeri berkurang, klien bisa melakukan aktivitas walaupun terbatas, tidak ada tanda-tanda infeksi.







DAFTAR PUSTAKA


Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Diambil dari http:// andisetiadi.blogspot.com/2008/03 asuhan keperawatan hernia
Diambil dari http:// khaidirmuhaj. Blogspot.com/2008/12/askephernia
Sabiston. Buku ajar bedah(Essentials of surgry. Bagian 2, cetakan I : Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC. 1994.
Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah.edisi revisi.Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC, 1997.
Schwartz. et al.intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.Ed. 6. jakarta: penerbit buku kedokteran EGC, 2000.

ASKEP BPH

BAB I
TINJAUAN TEORITIS


A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).

2. Etiologi
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.
Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :

Teori Sel Stem (Isaacs 1984)
Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.

Teori MC Neal (1978)
Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.




3. Anatomi Fisiologi



Kelenjar proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang melingkari urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos terletak di bawah kandung kemih dan melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran panjang : 3-4 cm dan lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine, kelenjar prostat terdiri dari lobus posterior lateral, anterior dan lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan alkalis pada cairan seminalis.

4. Patofisiologi
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.
Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.


5. Tanda dan Gejala
a Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)
b Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.
c Rasa nyeri saat memulai miksi/
d Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).

6. Komplikasi
a Aterosclerosis
b Infark jantung
c Impoten
d Haemoragik post operasi
e Fistula
f Striktur pasca operasi & inconentia urine

7. Pemeriksaan Diagnosis
Laboratorium
Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.

Radiologis
Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).

Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.

Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.

8. Penatalaksanaan
a. Non Operatif
• Pembesaran hormon estrogen & progesteron
• Massase prostat, anjurkan sering masturbasi
• Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek
• Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin & dengostan
• Pemasangan kateter.

b. Operatif
• Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml
• TUR (Trans Uretral Resection)
• STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)
• Retropubic Extravesical Prostatectomy)
• Prostatectomy Perineal



B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Nama :
Umur : Umur :
Suku bangsa : Suku :
Agama : Agama :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :
Kec. Kec.
Tgl. Masuk RS : Hubungan :
Tgl. Dikaji :
Diagnosa Medis :
No. RM :
Dr. Penanggungjawab :

2. Riwayat Kesehatan
a Keluhan utama
b Riwayat kesehatan sekarang
P, Q, R, S, T
c Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang terjadi secara berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)
Alergi:
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) :
d Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain
Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker hypertensi, DM, penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.)
e Keadaan psikologis
Perilaku
Pola emosional
Konsep diri
Penampilan intelektual
Pola pemecahan masalah
Daya ingat
f Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi
Kegiatan rekreasi
Bahasa komunikasi
Hubungan dengan keluarga
Kegiatan masyarakat
g Keadaan Spiritual
Kepercayaan, keyakinan

h Pola Kehidupan sehari-hari
No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
a. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
b. Minum
• Jumlah intake
• Jenis
2. Pola elimenasi
a. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna
• Gangguan/keluhan
• Cara mengatasi
b. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi
3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
- malam
- siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
4. Personal hygine
a. Frekwensi Mandi tiap hari
b. Cara mandi
c. Frekwensi sikat gigi
d. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
e. Kebiasaan gunting kuku
5. Aktivitas
a. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
b. Alasan/penyebab
c. Cara mengatasi
6. Sexual
a Frekwensi
b Alasan/penyebab
c Cara mengatasi

3. Pemeriksaan Fisik
a Keadaan Umum :
b Tanda-tanda vital : Tekanan Daqrah, Suhu, Nadi, Respirasi
c Sistem Pencernaan
Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi, muntah, kemampuan menelan, mengunyah, bentuk peut, BU, distensi abdomen, dll.
d Sistem Pernafasan
Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung, deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan, nyeri sinus, bentuk dada, kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi pernafasan, jenis pernafasan, bunyi nafas, dll.
e Sistem cardiovaskuler
Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT, JVP, bunyi jantung, tekanan darah, pembesaran jantung, Cyanosis, dll.
f Sistem integumen
Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi, kebersihannya, integritas, perubahan warna, keringat, eritema, kuku, rambut (kebersihan, warna, dll.)
g Sistem persyarafan
Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan, ketajaman mata, pergerakan bola mata, kesimetrisan, reflek kornea, reflek pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
h Sistem endokrin
Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas, pembesaran kelaenjar tyroid, tremor ekstremitas, dll.
i Sistem muskuloskeletal
Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri, ROM, kekuatan otot, deformitas, kekakuan pembesaran tulang, atrofi, dll.
j Sistem reproduksi
Laki-laki: penis skrotum, testis, dll.
Perempuan: pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
k Sistem perkemihan
Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria, nyeri pinggang, inkontinensia, retensi urine, dll.

4. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium, Rontgen , BNO

5. Therapi
Obat-obatan yang diberikan menurut advis dokter

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri

Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.

Kriteria hasil :
• Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
• Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
• Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)
• Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
• Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
• Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.
• Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
• Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik
• mengkaji tingkat nyeri dan observasi tanda vital dapat mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• dengan kompres hangat dapat mengurangi rasa nyeri
• Tehnik relaksasi akan mengurangi rasa nyeri
• Pemberian obat tidak terjadi kesalahan

Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi

Kriteria hasil :
• Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
• Klien mengungkapan sudah bisa tidur. • ciptakan lingkungan yang tenang menjelang dan selama tidur
• kolaborasi untuk pemberian obat analgesik
• atur posisi tidur senyaman mungkin • agar klien tidak terganggu waktu klien beristirahat tidur
• mengurangi rasa nyeri dengan obat analgesik sehingga klien bisa istirahat tidur
• agar klien dapat beristirahat dengan nyaman


3. Imflementasi
Pada tahap dilakukan pelaksanaan dan perawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Pelaksanaannya adalah pengelolaan dan perwujudan dan rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis tindakan:
1) Secara mandiri (independen) adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi masalahnya atau menanggapi reaksi karena adanya stresor (penyakit) misalnya:
a. Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
b. Memberikan dorongan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya secara wajar.
2) Secara ketergantungan/kolaborasi (interdependen), adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama tim perawatan atau tim kesehatan lainnya misalnya dalam hal pemberian obat sesuai instruksi dokter, pemberian infus: tanggung jawab perawat kapan infus itu terpasang.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.























BAB II
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN Tn. R
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN
DIAGNOSA MEDIS BPH
DI RUANG BEDAH RSUD M.A. SENTOT PANTURA


A PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Tn. R Nama : Tn. C
Umur : 55 tahun Umur : 30 tahun
Suku bangsa : Indonesia Suku : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : - Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tani Pekerjaan : Tani
Alamat : Ds. Kedungdawa Alamat : Kedungdawa
Kec. Gabus wetan Kec. Gabus wetan
Tgl. Masuk RS : 4/11/2009 Hubungan : Anak
Tgl. Dikaji : 5/11/2009
Diagnosa Medis : BPH
No. RM : 17127
Dr. Penanggungjawab : dr. W

2. Riwayat Kesehatan
a Keluhan utama
Nyeri supra pubik karena tidak bisa BAK satu hari
b Riwayat kesehatan sekarang
P= Retensio urine
Q= nyeri seperti tertahan , klien terlihat meringis
R= nyeri pada daerah Vesika urinaria
S= nyeri dengan sekala 3
T= terus menerus sehingga istirahat/tidur klien terganggu
c Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit masa lalu : klien pernah dirawat di rumah sakit Cirebon dengan keluhan yang sama, klien mulai merasakan keluhan penyakit yang sama pada usia 45 tahun.
Alergi: tidak menderita alergi
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) : merok dan minum kopi

d Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain tidak menderita penyakit yang sama

e Keadaan psikologis
Perilaku : selama dirawat klien menunjukan sikap yang positif koperatif
Pola emosional : klien menanyakan tentang keadaan penyakitnya
Konsep diri : tidak ada gangguan
Penampilan intelektual : biasa
Pola pemecahan masalah : oleh kepala keluarga
Daya ingat : masih baik

f Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi : penghasilan klien dari buruh tani
Kegiatan rekreasi : jarang dilakukan
Bahasa komunikasi : bahasa Jawa
Hubungan dengan keluarga : baik
Kegiatan masyarakat : akrab dengan tetangganya

g Keadaan Spiritual
Kepercayaan, keyakinan : klien beragama islam

h Pola Kehidupan sehari-hari

No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
a. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
b. Minum
• Jumlah intake
• Jenis

2 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
Semua makanan
-
Tidak ada





4-6 gelas/hari
Air putih

3 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
Semua makanan
-
Tidak ada





4-6 gelas/hari
Air putih
2. Pola elimenasi
a. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna

• Gangguan/keluhan

• Cara mengatasi

b. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi

4-5 kali/hari

kuning keruh kemerahan
Sakit waktu BAK

Berobat ke puskesmas

2 hari sekali
lembek


Dipasang kateter
1500 ml
kuning keruh kemerahan
Sakit daerah perut bawah



2 hari sekali
lembek

3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
- malam
- siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur

5-6 jam/hari
-
Sulit tidur
-
Terlentang, miring

5-6 jam/hari
-
Sulit tidur
-
Semi powler

4. Personal hygine
a Frekwensi Mandi tiap hari
b Cara mandi
c Frekwensi sikat gigi
d Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
e Kebiasaan gunting kuku
2X/hari
mandiri
1X/hari
1x/minggu

Kalau panjang
Tidak dilakukan
5. Aktivitas
a. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
b. Alasan/penyebab
c. Cara mengatasi
Dapat berjalan
Dapat berjalan
6. Sexual
a Frekwensi
b Alasan/penyebab
c Cara mengatasi
Tidak melakukan
Sedang sakit
Tidak melakukan
Sedang sakit

3. Pemeriksaan Fisik
a Keadaan Umum : lemah
b Tanda-tanda vital : TD=160/100mmHg S= 36oC N= 86x/mt
R= 20x /mt
c Sistem Pencernaan
bentuk bibir simetris, tidak ada lesi, mukosa mulut normal, muntah tidak ada, menelan/mengunyah baik, bentuk perut normal, BU 6x/menit
benjolan diperut tidak ada, pembesaran hepar tidak ada, nyeri tekan, daerah supra pubik.

d Sistem Pernafasan
hidung simetris, pernafasan cuping hidung tidak ada, perdarahan hidung tidak ada,bentuk dada simetris, batuk tidak ada. Frekwensi pernafasan 25x/menit, pola pernafasan teratur, wheezing tidak ada

e Sistem cardiovaskuler
konjungtiva tidak anemis, edema tidak ada, tekanan darah 160/110 mmHg, akral hangat,
f Sistem integumen
kulit bersih, turgor kulit baik, luka/lesi tidak ada, eritema tidak ada,

g Sistem persyarafan
kesadaran lemah, kepala simetris, mata simetris, pergerakan bola mata normal, Nervus cranial : N1; klien mampu mencium bau, N2; klien mampu membaca tulisan, N3; bola mata simetris, klien mengangkat kelopak mata, N4; klien mampu menggerakan bola mata,

h Sistem endokrin
pertumbuhan dan perkembangan fisik tak ada kelainan, proporsi dan posisi tubuh tegap, ukuran kepala dan ektremitas simetris seimbang, polidipsi tidak ada, poliphagi tidak ada, poliuri tidak ada, tremor ektremitas tidak ada, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

i Sistem muskuloskeletal
gaya berjalan dibantu, deformitas tidak ada, fraktur tidak ada, atrofi tidak ada, pembesaran tulang tidak ada.
Kekuatan otot : 5 5
5 5

j Sistem reproduksi
pembengkakan tidak ada, benjolan tidak ada, nyeri tidak ada.

k Sistem perkemihan
klien terpasang kateter, jumlah urine 1500 ml/hari, warna urine kuning keruh, bau khas urine, nyeri tekan pada daerah vesica urinaria, teraba masa tidak ada, nyeri pinggang

4. Pemeriksaan Penunjang
a laboratorium : Darah
Tgl./ Jam Jenis Hasil Normal Interpretasi
14/11/09 Hb
Leucosit
Hematokrit
Trobosit 12.1 g%
14.100 / mm3
32 %
307.000 / mm3 12-16 g%
10.000 / mm3
35%-48%
150.000-400.000 mm3 Dalam batas normal
Terjadi peningkatan
Kurang
Dalam batas normal

b BNO

5. Therapi
a Pasang DC , pasang infus RL 20 gtt/menit
b obat : Cypotaxim 2x1 gr, Ranitidin 2x1 amp, farsik 1x1 amp

6. Analisa Data
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS: klien mengatakan nyeri supra pubik dan sakit dibagian pinggang
DO: klien terlihat meringis, klien terpasang kateter, sekala nyeri 3 BPH

Pembesaran prostat

Penyempitan uretra

Merangsang pengeluaran histamin

Hipotalamus

Kortek serebri

Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman nyeri
DS: klien mengatakan BAK Tidak lancar
DO: klien terpasang kateter, urine keluar melalui kateter Pembesaran prostat

Penyempitan uretra

Klien tidak dapat BAK secara normal

Terpasang kateter untuk mengeluarkan urine
Gangguan perubahan pola eliminasi BAK
DS: klien mengeluh sulit tidur karena nyeri
DO:, klien terlihat lemah dan lelah nyeri

Saraf simpasis terangsang untuk mengaktifasi kerja organ tubuh

Klien terjaga Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
DS: klien mengatakan urine berwarna merah
DS: klien terpasang kateter, urine berwarna kuning keruh kemerahan, leukosit 14.100 /ml Pembesaran prostat

Penyempitan uretra

Klien tidak bisa BAK secara normal

Terpasang kateter untuk mengeluarkan urine

Berkembangnya mikro organisme

Potensial infeksi Potensial terjadinya infeksi
DS: klien dan keluarga bertanya tentang penyakit klien
DO: klien adn keluarga
tampak bertanya, klien dan keluarga tampak cemas, Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya

Merupakan stresor psikologis

Klien dan keluarga menjadi cemas Gangguan rasa aman cemas

B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan nyeri supra pubik dan sakit dibagian pinggang
2. Gangguan perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan klien tidak dapat BAK secara normal ditandai dengan klien mengatakan BAK tidak lancar, klien terpasang kateter
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri dan panas dibagian pinggang ditandai dengan klien mengeluh sulit tidur
4. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan terpasang kateter untuk mengeluarkan urine
5. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya ditandai dengan klien dan keluarga bertanya tentang penyakitnya.

C PERENCANAAN
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan DS: klien mengatakan nyeri supra pubik dan sakit dibagian pinggang
DO: klien terlihat meringis, klien terpasang kateter, sekala nyeri 3 T: rasa nyaman klien terpenuhi dalam jangka waktu 1 hari
K:
-nyeri berkurang dengan skala 2
-klien tenang • kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• jelaskan pada klien tentang penyebab nyeri
• ajarkan tehnik relaksasi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik • mengkaji tingkat nyeri dan observasi tanda vital dapat mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• Penjelasan penyebab nyeri dapat membantu klien mengerti tentang penyakitnya
• Tehnik relaksasi akan mengurangi rasa nyeri
• Pemberian obat tidak terjadi kesalahan

Gangguan perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan klien tidak dapat BAK secara normal ditandai dengan :
DS: klien mengatakan BAK Tidak lancar
DO: klien terpasang kateter, urine keluar melalui kateter
T: pola BAK klien normal
K:
- Klien beradaptasi dengan pemasangan kateter selama 3 hari • Lakukan perawatan kateter
• Pertahankan kepatenan kateter
• Anjurkan pada klien agar tidak bergerak secara tiba-tiba dan terlalu bebas
• Palpasi kandung kemih terhadap distensi jika keluaran sedikit • Untuk mencegah berkembangbiaknya mikro organisme
• Agar urine mengalir dengan lancar
• Untuk mencegah kateter supaya tidak lepas/putus
• Agar tidak terjadi retensio urine
Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri dan panas dibagian pinggang ditandai dengan:
DS: klien mengeluh sulit tidur karena nyeri
DO:, klien terlihat lemah dan lelah
T: kebutuhan istirahat tidur terpenuhi dalam jangka waktu 1x24 jam
K:
- Tidur nyenyak
- klien tidak lesu • ciptakan lingkungan yang tenang menjelang dan selama tidur
• kolaborasi untuk pemberian obat analgesik
• atur posisi tidur senyaman mungkin • agar klien tidak terganggu waktu klien beristirahat tidur
• mengurangi rasa nyeri dengan obat analgesik sehingga klien bisa istirahat tidur
• agar klien dapat beristirahat dengan nyaman
Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan terpasang kateter untuk mengeluarkan urine ditandai dengan:
DS: klien mengatakan urine berwarna merah
DS: klien terpasang kateter, urine berwarna kuning keruh kemerahan, leukosit 14.100 /ml
T: infeksi tidak terjadi dalam jangka waktu 3 hari
K: tidak ada tanda-tanda infeksi • lakukan perawatan kateter
• ajarkan pada klien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi
• perawatan kateter dapat mencegah berkembangbiak-nya mikro organisme
• klien/keluarga dapat melaporkan bila ada tanda-tanda infeksi kepada perawat segera
Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya ditandai dengan:
DS: klien dan keluarga bertanya tentang penyakit klien
DO: klien adn keluarga
tampak bertanya, klien dan keluarga tampak cemas, T: rasa cemas hilang
K:
- klien menerima dan mengerti akan penyakitnya
- klien tampak tenang • berikan penjelasan tentang kondisi penyakitnya, penyebab, program pengobatan dan proses penyembuhan
• libatkan keluarga untuk memberikan support system • dengan memberikan penjelasan klien dapat mengerti dan lebih tenang
• dukungan sangat perlu dari keluarga sebangai kekuatan batin





D IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Hari/Tgl./Jam Diagnosa perawatan Tindakan Evaluasi/Catatan Perkembangan
Kamis, 5-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan
DS: klien mengatakan nyeri supra pubik dan sakit dibagian pinggang
DO: klien terlihat meringis, klien terpasang kateter, sekala nyeri 3 • mengkaji tingkat nyeri dalam rentang 0-4
• mengobservasi tanda-tanda vital (TD, N, S, R)
• menjelaskan pada klien tentang penyebab nyeri
• mengajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik S: klien mengatakan nyeri daerah supra pubik masih terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, nyeri dengan skala 3.
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik
(2) Gangguan perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan klien tidak dapat BAK secara normal ditandai dengan :
DS: klien mengatakan BAK Tidak lancar
DO: klien terpasang kateter, urine keluar melalui kateter • melakukan perawatan kateter
• mempertahankan kepatenan kateter
• menganjurkan pada klien agar tidak bergerak secara tiba-tiba dan terlalu bebas
• melakukan Palpasi kandung kemih terhadap distensi jika keluaran sedikit S: klien mampu beradaptasi dengan pola eliminasi BAKnya
O: klien tampak tenang
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan:
• Lakukan perawatan kateter
• Pertahankan kepatenan kateter
(3) Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri dan panas dibagian pinggang ditandai dengan:
DS: klien mengeluh sulit tidur karena nyeri
DO:, klien terlihat lemah dan lelah • menciptakan lingkungan yang tenang menjelang dan selama tidur
• melakukan kolaborasi untuk pemberian obat analgesik
• mengatur posisi tidur senyaman mungkin S: klien mengatakan sudah bisa tidur walaupun masih belum nyenyak
O: klien terlihat masih lemah
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi;
• ciptakan lingkungan yang tenang menjelang dan selama tidur
• kolaborasi untuk pemberian obat analgesik
• atur posisi tidur senyaman
mungkin

(4) Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan terpasang kateter untuk mengeluarkan urine ditandai dengan:
DS: klien mengatakan urine berwarna merah
DS: klien terpasang kateter, urine berwarna kuning keruh kemerahan, leukosit 14.100 /ml • melakukan perawatan kateter
• mengajarkan pada klien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi
S: infeksi tidak terjadi
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
• lakukan perawatan kateter

(5) Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya ditandai dengan:
DS: klien dan keluarga bertanya tentang penyakit klien
DO: klien adn keluarga
tampak bertanya, klien dan keluarga tampak cemas, • memberikan penjelasan tentang kondisi penyakitnya, penyebab, program pengobatan dan proses penyembuhan
• melibatkan keluarga untuk memberikan support system S: klien menerima dan mengerti akan penyakitnya
O: klien dan keluarga tampak tenang
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan
Jum’at, 15-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan
DS: klien mengatakan nyeri supra pubik masih terasa dan panas/sakit dibagian pinggang
DO: klien terlihat meringis, klien terpasang kateter, sekala nyeri 3 • mengkaji tingkat nyeri
• mengobservasi tanda-tanda vital
• menjelaskan pada klien tentang penyebab nyeri
• mengajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik S: klien mengatakan nyeri daerah supra pubik masih terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, skala nyeri 2.
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik
(3) Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri dan panas dibagian pinggang ditandai dengan:
DS: klien mengatakan sudah bisa tidur walaupun masih belum nyenyak
DO:, klien terlihat masih lemah • menciptakan lingkungan yang tenang menjelang dan selama tidur
• melakukan kolaborasi untuk pemberian obat analgesik
• mengatur posisi tidur senyaman mungkin S: klien mengatakan sudah bisa tidur nyenyak
O: klien terlihat tenang
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan














BAB III
KESIMPULAN


Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).
Tanda dan Gejala
1. Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)
2. Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.
3. Rasa nyeri saat memulai miksi/
4. Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).
Kala ditinjau dari kasus Tn. R dengan keluhan utama Klien mengeluh tidak bisa BAK 1 hari, badan lemas. Dari hasil pengkajian kasus didapat prioritas diagnosa perawatan antara lain:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan nyeri saat akan BAK dan panas/sakit dibagian pinggang
2. Gangguan perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan klien tidak dapat BAK secara normal ditandai dengan klien mengatakan BAK tidak lancar, klien terpasang kateter
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri dan panas dibagian pinggang ditandai dengan klien mengeluh sulit tidur
4. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan terpasang kateter untuk mengeluarkan urine
5. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya ditandai dengan klien dan keluarga bertanya tentang penyakitnya.
Kalau dilihat dari catatan perkembangan pasien pada kasus Tn. R dengan diagnosa medis BPH, dalam dua hari masalah perawatan sebagian teratasi, klien mengatakan masih mengeluh nyeri di daerah vesika urinaria, nyeri sedikit berkurang, kebutuhan istirahat/tidur terpenuhi, tidak ada tanda-tanda infeksi, klien menerima dan mengerti tentang penyakitnya.



Daftar Pustaka


Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Kamis, 19 November 2009

askep anak dengan bronchopneumonia

ASKEP PADA ANAK DENGAN BRONCHOPNEUMONIA
1. Pengertian
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).
Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus,jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.
2. Etiologi
Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis.
Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.
Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.
3. Fatofisiologi
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalahkolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mngakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses.
4. Manifestasi klinis
Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas. Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu meningkat 39-40O C disertai menggigil, napas sesak dan cepat, batuk-batuk yang non produktif “napas bunyi” pemeriksaan paru saat perkusi redup, saat auskultasi suara napas ronchi basah yang halus dan nyaring.
Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernapasan dimulai dengan infeksi saluran bagian atas, penderita batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia dan kesulitan menelan.
5. Pemeriksaan penunjang
1. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.
2. Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran LED meninggi.
3. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
6. Penatalaksanaan
Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari.
Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, poliudikocid pengobatan simtomatik seperti :
1. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.
2. Simptomatik terhadap batuk.
3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif
4. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator.
5. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.
7. Komplikasi
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
d. Infeksi sitemik
e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
8. Tumbuh kembang anak usia 6 – 12 tahun
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalahperubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan ciri sex sekundernya.
Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar
1. Loncat tali
2. Badminton
3. Memukul
4. Motorik kasar dibawah kendali kognitif dan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
b. Motorik halus
1. Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2. Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
c. Kognitif
1. Dapat berfokus pada lebih dari satu asfek dan situasi
2. Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
3. Dapat membalikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
4. Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d. Bahasa
1. Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
2. Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan
3. Menggunakan bahasa sebagai alat komuniukasi verbal
4. Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan
7. Dampak hospitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
1. Psikososial
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran
2. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
3. Lingkungan asing
Kebiasaan sehari-hari berubah
4. Pemberian obat kimia
Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
1. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
2. Dapat mengekpresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri
3. Selalu ingin tahu alasan tindakan
4. Berusaha independen dan produktif
Reaksi orang tua
1. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak
2. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit
B. ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
1) Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam.
2) Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.
3) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.
4) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
5) Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis
b. Pemeriksaan fisik
1) Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung
2) Auskultasi paru ronchi basah
3) Laboratorium leukositosis, LED meningkat ataunormal
4) Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru)
c. Factor fsikologis / perkembangan memahami tindakan
1) Usia tingkat perkembangan
2) Toleransi / kemampuan memahami tindakan
3) Koping
4) Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua
5) Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya
d. Pengetahuan keluarga / orang tua
1) Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan
2) Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan
3) Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya
2. Diagnosa keperawatan
1) Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli.
3) Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
4) Resti pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
5) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
6) Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan dengan kurangnya informasi.
7) Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi
3. Intervensi
Diagnosa 1
Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.
KH : sekret dapat keluar.
Rencana tindakan :
1. Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan bunyi napas abnormal.
2. Lakukan suction sesuai indikasi.
3. Beri terapi oksigen setiap 6 jam
4. Ciptakan lingkungan / nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang
5. Beri posisi yang nyaman bagi pasien
6. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan
7. Lakukan perkusi dada
8. Sediakan sputum untuk kultur / test sensitifitas
Diagnosa 2
Tujuan : pertujaran gas kembali normal.
KH : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat
Rencana tindakan :
1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda cianosis
2. Beri posisi fowler sesuai program / semi fowler
3. Beri oksigen sesuai program
4. Monitor AGD
5. Ciprtakan lingkungan yang nyaman
6. Cegah terjadinya kelelahan
Diagnosa 3.
Tujuan : Klien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal
KH : Tanda dehidrasi tidak ada.
Rencana tindakan :
1. Catat intake dan output cairan (balanc cairan)
2. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan cairan peroral
3. Monitor keseimbangan cairan , membran mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tanda vital.
4. Pertahankan keakuratan tetesan infus
5. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, respirasi)
Diagnosa 4.
Tujuan : Kebuituhan nutrisi terpenuhi.
KH : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan nutrisi..
Rencana tindakan :
1. Kaji status nutrisi klien
2. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi)
3. Timbang BB klien setiap hari.
4. Kaji adanya mual dan muntah
5. Berikan diet sedikit tapi sering
6. Berikan makanan dalam keadaan hangat
7. kolaborasi dengan tim gizi
Diagnosa 5
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
KH : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses infeksi hilang
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Berikandan anjurkan keluarga untuk memberikan kompresdengan air pada daerah dahi dan ketiak
3. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan
4. Berikan minum per oral
5. Ganti pakaian yang basah oleh keringat
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penurun panas.
Diagnosa 6
Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan
KH : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya
2. Kaji tingkat pendidikan orang tua klien
3. Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan dirumah sakit seperti : diet,istirahat dan aktivitas yang sesuai
4. Tekankan perlunya melindungi anak.
5. Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, pencegahan dan komplikasi dengan memberikan penkes.
6. Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang hal yang belum dimengertinya
Diagnosa 7
Tujuan : Cemas anak hilang
KH : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan klien
2. Dorong ibu / keluarga klien mensufort anaknya dengan cara ibu selalu didekat klien.
3. Fasilitasi rasa nyaman dengan cara ibu berperan sertamerawat anaknya
4. Lakukan kunjungan, kontak dengan klien
5. Anjurkan keluarga yang lain mengunjungi klien
6. Berikan mainan sesuai kesukaan klien dirumah
4. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochopneumonia dalah :
a. Pertukaran gas normal.
b. Bersihan jalan napas kembali efektif
c. Intake dan output seimbang
d. Intake nutrisi adekuat
e. Suhu tubuh dalam batas normal
f. Pengetahuan keluarga meningkat
g. Cemas teratasi
Diposkan oleh Ncithea hari : Sabtu, Januari 12, 2008
Label: Askep Anak

download software

Entri Populer